Nepal van Java, Oase Wisata di Tengah Pandemi

Nepal van Java, Oase Wisata di Tengah Pandemi
info gambar utama

#WritingChallengeKawan GNFI

#CeritadariKawan #NegeriKolaborasi

#MakinTahuIndonesia

Pandemi Covid-19 mengguncang berbagai sektor kehidupan. Tidak hanya sektor kesehatan, tetapi ekonomi, pendidikan bahkan pariwisata pun ikut imbasnya. Hal ini pandemi Covid 19 menjadi tantangan yang harus dihadapi secara terbuka oleh seluruh lapisan masyarakat di waktu sekarang ini. Tidak terkecuali pada sektor pariwisata. Hal tersebut dapat dilihat dari terpuruknya sektor pariwisata untuk waktu yang cukup lama. Sektor pariwisata sendiri merupakan salah satu penyumbang devisa bagi negara Indonesia. Pariwisata Indonesia sangatlah maju dan unggul, karena Indonesia sendiri memiliki banyak tempat, budaya, dan adat istiadat yang perlu digali untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata.

Penyebaran virus corona yang semakin tidak terkendali membuat kita dianjurkan untuk berada dirumah. Pihak WHO menyarankan untuk stay at home guna mengurangi interaksi antar manusia untuk menekan penyebaran virus. Sehingga membuat banyak masyarakat yang tidak saling bertemu dan bertatap muka secara langsung.

Kita menggunakan media komunikasi sebagai alat untuk kita saling terhubung satu sama lain. Penggunaan internet semakin meningkat, karena dituntut untuk serba-serbi online. Mulai dari berkerja dari rumah work from home, sekolah dari rumah (sekolah daring), sampai berinteraksi dengan teman, kolega, atau saudara juga dari rumah. Aplikasi yang sering digunakan banyak kalangan diantaranya aplikasi sosial media. Selain berguna untuk sarana komunikasi, sosial media juga memberikan informasi yang up to date dari berbagai sumber. Penyebaran informasi yang sangat cepat dan informasi yang tersedia beragam membuat banyak orang bisa berjam-jam menggunakan sosial media.

Aplikasi sosal media semakin marak digunakan. Sosial media menjadi sesuatu hal yang sering kali kita konsumsi setiap saat. Sebelumnya kita menggunakan sosial media hanya di waktu luang saja, tetapi di masa pandemi kita jadi terbiasa menggunakannya setiap saat. Segala bentuk informasi tersedia di mana mana. Informasi mengenai tempat wisata baru mulai banyak bermunculan. Hingga sosial media menjadi ajang promosi gratis guna menarik minat pengunjung untuk datang ke tempat tersebut.

Kontribusi sosial media sebagai faktor pendorong untuk mempromosikan destinasi wisata sangatlah potensial. Wisatawan di era sekarang terutama milenial memiliki kebiasaan unik untuk berlomba lomba membagikan foto dan video perjalanan mereka, sehingga membuat informasi sangat cepat beredar. Fenomena yang terjadi di “Nepal van Java” tidak hanya dikarenakan sosial media, tetapi juga didukung faktor akibat pandemi Covid 19 yang meningkatkan aktivitas internet secara masif. Peran sosial media terhadap peningkatan pengunjung untuk menciptakan kesan, persepsi, dan image sebuah lokasi wisata, khususnya di masa pandemi.

Di sisi lain, pariwisata sempat tutup sementara karena pandemi. pekerja pariwisata khususnya pemandu wisata berada di di fase tidak melayani wisatawan. Dengan padamnya kepariwisataan, menjadikan kemampuan para pemandu wisata tidak terasah dalam waktu yang terbilang cukup lama. Kompetensi para pemandu yang tidak dibiasakan perlu untuk disegarkan kembali (reskilling). Melihat adanya pergerakan kunjungan wisatawan pada destinasi wisata membuat para pekerja wisata kembali bergairah. Namun, kualitas yang dari para pekerja yang sudah lama tidak terasah menjadi kendala yang muncul dan harus dicari penyelesaian secara tepat agar tidak mempengaruhi kepuasan pelayanan para wisatawan nantinya. Pengaruh kualitas sumber daya manusia perlu diasah kembali. Peran dari pemerintah turut berkontribusi menyediakan sumber daya yang berkualitas ini.

Pemandangan dari atas Nepal van Java | Foto: Instagram @wisatasemarang
info gambar

Nepal van Java yang terletak di desa Butuh, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Wisata Nepal van Java sebenarnya sudah ada sejak Juni 2019 lalu. Baru terkenal di tahun 2020 karena pandemi sudah mewabah di Indonesia. Desa ini disebut mirip dengan perkampungan Namche Bazaar di Nepal. Latar pemandangan yang eksotis berada di Nepal dengan memiliki Pegunungan Himalaya, sedangkan Dusun Butuh memiliki Gunung Sumbing yang indah. Setiap rumah dihias dan diberi cat yang unik dan mencolok sehingga dari kejauhan tampak pemandangan rumah warna-warni yang tersusun rapi. Banyak warganet yang berdatangan melihat keindahan Nepal van Java karena pengaruh dahsyatnya informasi dari sosial media. Membuat wisatawan tidak pernah sepi dari pengunjung.

Menurut berita CNBC Indonesia di pertengahan September 2021, pandemi Covid-19 mulai berangsur membaik. Sektor pariwisata sudah mulai kembali dibuka. Para warga yang sudah bosan berada di rumah selama pandemi memutuskan untuk pergi liburan. Mereka terus berdatangan karena mereka penasaran akan desa wisata yang mirip Nepal. Ditinjau data dari kompas.com selama satu pekan dengan pembatasan kunjungan maksimal 25 persen atau sekitar 1.000 wisatawan. Sejak Nepal van Java sudah dibuka kembali, sekitar 3.000 wisatawan langsung berkunjung ke sana berdasarkan perhitungan akumulatif pada kunjungan hari biasa dan akhir pekan.

Pemerintah setempat memanfaatkan momentum ini untuk terus menjaga Nepal van Java bisa bertahan dikunjungi oleh banyak wisatawan. Bukan hanya lokal tetapi juga nasional hingga mancanegara. Semua tergantung bagaimana keberlanjutan itu bisa dijaga dan rasa aman serta rasa nyaman bagi pengunjung, terutama bagi warga dan pemerintah setempat.

Modal dasar (keramahan dan fasilitas) yang dimiliki warga sangat penting untuk menjaga kesinambungan Nepal van Java menjadi destinasi yang penting untuk kedepannya. Tentu warga setempat tidak ingin keberlanjutan wisata hanya berlangsung secara singkat, untuk menjaga keberlanjutan tersebut tampaknya berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan dukungan warga setempat. Kemenpar melakukan strategi penguatan protokol kesehatan di seluruh destinasi wisata. Penegakan protokol kesehatan merupakan kata kunci kesuksesan pencegahan penyebaran Covid-19.

Pengelola kawasan diwajibkan membentuk Satgas Covid-19 Kawasan. Setiap destinasi dan industri pariwisata juga wajib memenuhi standar cleanliness, health, safety, and environmental sustainability (CHSE). Program Cleanliness, Health, Safety, And Environmental Sustainability (CHSE) yang merupakan bagian dari program Indonesia Care/I Do Care.

Program tersebut dirilis demi mempersiapkan kemampuan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam menerapkan prinsip-prinsip kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan dalam setiap aspek kegiatannya. Program Indonesia Care/I Do Care dijalankan beriringan dengan program lain yang tentunya diharapkan juga ditindaklanjuti dengan kerja sama antar Kementerian, misalnya dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk penerapan protokol kesehatan di destinasi wisata yang berstatus Taman Nasional sampai pembukaan kembali layanan penerbangan internasional dengan pembahasan dan diskusi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, serta pihak-pihak terkait lainnya. Harapannya dengan adanya prorgam-program dukungan Pemerintah tersebut, industri pariwisata diharapkan bisa meningkatkan standar pelayanannya agar mendapatkan kepercayaan dari wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Kehadiran Desa Wisata Nepal van Java tak hanya memberikan lokasi wisata untuk para pengunjung tetapi juga memberikan dampak kepada penduduk setempat serta para pelaku UMKM sehingga bisa turut menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 235 keluarga telah turut serta sebagai penyedia ojek wisata, juru parkir, pelaku UMKM (toko kelontong, lapak sayur dan oleh-oleh, warung makan, café), penyedia homestay, kru pelayanan pendakian, tempat wisata mandiri, dan 36 orang sebagai pengurus lapangan. Aktifitas warga Dusun Butuh sebagai pelaku wisata telah menjadi sumber pendapatan tambahan disamping usaha dari mata pencaharian utama, yang secara komposisi terdiri dari 90% sebagai petani ladang sayur, dan 10 % sebagai buruh bangunan, asisten rumah tangga, dan pegawai pemerintah.

Referensi:Kemenparekraf | Travel Kompas

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RA
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini