Resan Gunungkidul, Perwujudan Relasi Spiritualitas dengan Kelangsungan Hidup Manusia

Resan Gunungkidul, Perwujudan Relasi Spiritualitas dengan Kelangsungan Hidup Manusia
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Pernahkah Kawan mendengar kata ‘resan’? Dalam konteks kehidupan masyarakat di Jawa, khususnya di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, resan dimaknai sebagai suatu pohon besar yang hidup ratusan tahun dan dikeramatkan.

Mengutip dari Fky.id, resan memiliki ciri-ciri berakar tunggang yang dalam, banyak serabut akar, tajuk yang lebar dan rimbun, berumur panjang, daunnya tidak pernah gugur, dan memiliki sedikit stomata.

Masyarakat menganggap resan sebagai tempat bersemayamnya para leluhur, sehingga diberikan perlakuan khusus oleh masyarakat dengan menyediakan sajen ketika ada masyarakat maupun desa yang sedang melaksanakan hajat atau selamatan.

Resan | Foto: Twitter @infofky
info gambar

Di balik kisah spiritualnya, resan memiliki peran yang sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia. Biasanya, resan adalah tumbuhan dari keluarga ficus atau pohon beringin.

Sifatnya mengumpulkan dan menyimpan air hujan yang jatuh. Untuk kebutuhan fotosintesis, keluarga ficus hanya menggunakan air secukupnya dan sisanya disimpan. Air hujan yang disimpan akan keluar menjadi sebuah tuk atau mata air. Mata air tersebut menjadi pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar, seperti untuk minum, mencuci pakaian, hewan, pertanian, dan sebagainya.

Resan: Sang Penjaga dengan Selimut Mitos Keangkeran dan Kesakralan

Resan berasal dari bahasa tutur sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat Gunungkidul, yaitu wreksan. Wreksa artinya ‘pohon’ dengan imbuhan ‘–an’. Kata wreksan dalam penuturan sehari-hari masyarakat berubah menjadi resan untuk mempermudah masyarakat dalam menuturkannya.

Kata wreksa memiliki kedekatan dengan kata reksa yang memiliki makna ‘jaga’. Sehingga, resan seringkali dimaknai sebagai ‘penjaga’ (pangreksa) dan ‘menjaga’ (ngreksa). Artinya, resan memiliki dua peran penting dalam kelangsungan hidup manusia, yaitu sebagai penjaga dan menjaga.

Mitos keangkeran dan kesakralan yang menyelimuti resan bukan menjadi penghalang bagi kelangsungan hidupnya. Mitos keangkeran dan kesakralan justru menjadi tonggak baginya untuk terus hidup hingga ratusan tahun.

Banyak manusia yang tidak berani untuk mendekatinya, apalagi menumbangkannya. Masyarakat percaya bahwa leluhur yang bersemayam di resan akan melimpahkan berbagai pengaruh yang besar terhadap kelangsungan hidup masyarakat di sekitarnya.

Namun, perlahan pola pikir mengenai mitos keangkeran dan keskralan tersebut luntur, hanyut, dan mulai memudar. Tradisi spiritual yang suci dan diadakan setiap tahun oleh masyarakat, seringkali hanya dilakukan secara seremonial dan menjadi destinasi wisata budaya belaka.

Sajen yang ditaruh di bawah resan dan kain mori yang menyelimuti resan sebagai simbol penghormatan, kesucian, dan kesakralan, tidak membuat masyarakat mampu membuka mata dan memikirkan nasib resan di masa depan. Resan yang sudah sangat tua dibiarkan mati begitu saja oleh masyarakat, tanpa mempersiapkan penggantinya.

Resan: Sirkulasi Kehidupan dan Kemakmuran Manusia

Resan sebagai pohon penjaga memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Gunungkidul. Artinya, resan juga berperan dalam mengatur sirkulasi kehidupan masyarakat untuk bisa hidup dalam kemakmuran.

Masyarakat memanfaatkan keberadaan resan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti untuk memasak, mencuci baju, mandi, dan sebagainya. Resan pun mempersembahkan dirinya untuk memberikan kesuburan, kesegaran, dan keasrian bagi lingkungan di sekitarnya, seperti sawah yang tidak kekeringan, tanah yang tidak tandus, dan sebagainya.

Sebagai contoh, di Sendang Gedaren, resan­-resan yang ada di sana memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat. Masyarakat memanfaatkan mata air yang ada di Sendang Gedaren untuk mandi, mencuci baju, maupun memancing. Di dekat Sendang Gedaren juga nampak persawahan yang membentang luas dan nampak asri karena kebutuhan airnya terpenuhi.

Hal ini menunjukkan bahwa resan sangat berperan dalam kelangsungan hidup manusia, bahkan juga lingkungan. Resan memberikan nafas bagi setiap makhluk hidup yang tinggal di bumi.

Resan menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok manusia. Dalam pemenuhan kebutuhan pokok tersebut, resan juga membutuhkan dukungan dari manusia.

Kehadiran resan dan manusia pada hakikatnya adalah untuk saling melengkapi, tidak hanya saling memenuhi. Sehingga, kesadaran masyarakat akan pentingnya kehadiran resan sangat dibutuhkan agar resan mampu mengatur sirkulasi kehidupan masyarakat untuk bisa hidup dalam kemakmuran.

Komunitas Resan Gunungkidul: Kesadaran Membuka Mata dan Hati

Komunitas Resan Gunungkidul adalah perwujudan nyata relasi spiritualitas dengan kelangsungan hidup manusia dengan kesadaran membuka mata dan hati. Kekhawatiran akan ancaman yang dapat terjadi apabila resan tak pernah diperhatikan dan dibiarkan begitu saja, menjadi bekal utama untuk menumbuhkan sikap peduli terhadap kelangsungan hidup manusia melalui resan.

Komunitas Resan Gunungkidul melakukan aksi peduli lingkungan dengan melakukan konservasi resan. Usaha ini adalah usaha yang sangat baik, khususnya untuk menanggapi banyaknya resan yang sudah tua dan dibiarkan mati begitu saja.

Selain fokus pada konservasi resan, Komunitas Resan Gunungkidul juga melakukan tradisi upacara, pemetaan, pembersihan, dan inventarisasi tuk atau sumber mata air. Hal ini menunjukkan adanya relasi antara spiritualitas dengan kelangsungan hidup manusia melalui pemberdayaan resan.

Berbekal media sosial Instagram, YouTube, dan website, Komunitas Resan Gunungkidul mampu berbagi kearifan resan melalui berbagai media, seperti gambar, video, maupun tulisan.

Komunitas Resan Gunung Kidul tidak sekadar membudidayakan resan, namun juga mengajak seluruh masyarakat untuk membuka mata dan hati, sehingga mau terlibat untuk menjaga dan membudidayakan resan sebagai bentuk dukungan terhadap kelangsungan hidup manusia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

LK
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini