Wat Pa Kung, Replika Candi Borobudur di Thailand

Wat Pa Kung, Replika Candi Borobudur di Thailand
info gambar utama

Kemasyuran dan kemegahan Candi Borobudur sebagai warisan budaya Indonesia memang tidak diragukan lagi. Bahkan di mancanegara, kemegahan dan keindahan arsitekturnya yang menakjubkan menginspirasi dibangunnya sebuah replika candi budha terbesar di dunia tersebut.

Terletak di dalam kompleks Vihara Prachakomwanaram (Wat Prachakomwanaram) atau Vihara Pa Kung (Wat Pa Kung) di Distrik Si Somdet, Provinsi Roi Et, Thailand Utara, sebuah kompleks stupa berjenjang yang besar yang disebut Cetiya Hin Sai, berdiri dengan kokoh. Cetiya Hin Sai, disebut-sebut sebagai “Borobudur dari Thailand” karena bentuknya yang memang terinspirasi dari Candi Borobudur yang ada di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.

Wat Pa Kung | www.temple-thai.com
info gambar

Seperti Borobudur, Cetiya Hin Sai juga memiliki stupa induk yang berwarna kuning dan dikelilingi dengan delapan buah stupa berongga yang juga memiliki warna yang senada. Pada puncak stupa induk dilapisi dengan lempengan emas seberat 101 baht (dalam ukuran Thailand, 1 baht emas sama dengan 15.2 gram).

Cetiya Hin Sai dibangun dalam bentuk replika Candi Borobudur sebagai bentuk penghormatan kepada Luang Pu Sri Mahavira yang sangat terkesan terhadap Candi Borobudur saat beliau mengunjunginya pada tahun 1988. Tujuan dari dibangunnya kompleks pagoda ini ada tiga; yakni untuk mendidik orang-orang tentang kehidupan Sang Buddha dan tentang budaya lokal, dan untuk melayani sebagai pusat latihan dhamma.

Wat Pa kung memiliki pagoda pertama di Thailand yang terbuat dari pasir alam, dan merupakan salah satu pagoda besar yang terbuat dari pasir. Dimensi segi delapan alasnya memiliki lebar 101 meter dan tinggi 101 meter (101 diucapkan "Roi Et" dalam bahasa Thailand).

Pembangunan Wat Pa Kung sendiri dimulai pada 30 Januari 2004 dan selesai pada 3 Mei 2006. Wat Pa Kung diukir dari batu dan ditempatkan di barisan hingga ke puncak kuil. Proyek pembangunannya sendiri sepenuhnya didanai oleh sumbangan lebih dari 100 juta baht kala itu. Meski bangunan luarnya mirip dengan Borobudur, bagian tengah struktur ini (di bawah tingkatan patung) diberikan ke serangkaian ruangan yang digunakan oleh para biksu dan umat Buddha awam untuk berdoa, bermeditasi, dan berlatih dhamma. Dinding luar dihiasi dengan ukiran batu pasir yang menggambarkan pemandangan dari kehidupan Sang Buddha sebelumnya. Dinding bagian dalam dihiasi dengan lebih banyak ukiran pada lempengan batu pasir yang menceritakan tentang kehidupan Luang Pu Sri dan beberapa biksu Buddha yang dihormati lainnya.

Sumber: berita.bhagavant.com | tourismthailand.org

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini