Turonggo Seto Boyolali, Kesenian Keprajuritan Lokal dari Lembah Merapi-Merbabu

Turonggo Seto Boyolali, Kesenian Keprajuritan Lokal dari Lembah Merapi-Merbabu
info gambar utama

Dengan kondisi geografis yang berada di lembah Gunung Merapi dan Merbabu, daerah Selo di Boyolali memang terkenal sebagai wilayah wisata yang memiliki panorama yang indah.

Di antara keindahan dan berkembangnya daerah tersebut sebagai kawasan pariwisata, di wilayah ini juga terdapat pemukiman yang telah menjadi tempat tinggal masyarakat lokal sejak dulu.

Dengan komunitas masyarakat yang sudah berkembang sejak lama, kebudayaan lokal pun juga turut berkembang di daerah ini. Salah satunya yang menjadi ikonik di kawasan ini adalah kesenian Turonggo Seto.

Logam Tumang, Kerajinan Warisan Boyolali yang Terjaga Selama Berabad-abad

Sebuah tarian perang

Turonggo Seto sendiri merupakan sebuah kesenian peninggalan leluhur desa yang sudah menjadi bagian dari masyarakat di Desa Samiran. Menurut kategorinya, kesenian yang satu ini bisa dianggap sebagai kesenian kuda kepang layaknya kuda lumping. Hanya saja, tentunya Turonggo Seto memiliki keunikan tersendiri.

Menurut penuturan dari masyarakat lokal sebagai pelaku kesenian ini, ada kemungkinan bahwa tarian ini terinspirasi dari gerakan naik turun gunung ketika bercocok tanam, mengingat wilayah Desa Samiran berada di lereng gunung.

Penamaan dari kesenian ini sendiri bersumber pada bahasa Jawa, yang mana turonggo sendiri artinya adalah kuda, sementara seto berarti putih. Jadi, bisa dikatakan bahwa ini adalah kesenian kuda putih.

Tarian ini tercipta dengan inspirasi dari kisah perjuangan Pangeran Diponegoro yang memang memiliki kuda putih kesayangannya sebagai tunggangan ketika berperang dengan Belanda.

Secara makna, tarian ini memberikan gambaran mengenai latihan kesiapan perang, sehingga tarian ini bisa pula dikatakan sebagai tarian dengan genre keprajuritan.

Tarian ini sangat erat dengan gerakan yang menghentak. Nuansa gerakan yang sangat energik benar-benar terasa ketika tari ini dipentaskan

Makna Tersebunyi Dari Pagelaran Kuda Lumping

Terus dikembangkan oleh masyarakat

Seiring berjalannya, kesenian ini pun terus mengalami perkembangan. Sebagai contoh, dulunya gerakan tari ini cenderung kaku, sementara kini gerakannya sudah dibuat secara lebih luwes.

Dalam sebuah pementasan biasanya terdiri atas 17 orang penari laki-laki. Perannya sendiri terbagi atas kandang sebagai pemimpin dan wiroyudo selaku prajurit. Sementara untuk alat musiknya menggunakan gender, saron, demong, serta kendang.

Mengenai upaya pengembangan ini pun tak bisa dilepaskan dari salah satu sanggar seni yang berfokus untuk mengajari dan menampilkan tarian ini, yaitu Sanggar Tari Turonggo Seto yang sudah ada sejak 1956.

Di era modern ini, puncak kejayaan tari ini berkisar pada tahun 2005 hingga 2011. Meskipun sempat mengalami pasang surut, kini perkembangan dari kesenian lokal ini terus mengalami perkembangan.

Meskipun berada di tengah gempuran hiburan modern, kesenian ini tetap terus bertahan dan menjadi sebuah produk budaya kebanggan warga Desa Samiran dengan pelestarian yang terus berjalan hingga sekarang.

Hari Tari Internasional: Mengenal Tarian Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini