Mitos Watu Semar, Ikon Bojonegoro yang Dianggap Dewa

Mitos Watu Semar, Ikon Bojonegoro yang Dianggap Dewa
info gambar utama

Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terkenal dengan industri furnitur yang berkualitas. Di samping itu, daerah ini juga memiliki ikon kota bernama Watu Semar, sebuah batu raksasa yang terletak di depan Pendopo Malowopati alun-alun kota Bojonegoro. Dalam wujudnya yang alami, atu besar itu santer dipercaya menyimpan beragam hal mistis.

Watu semar dahulu tidak berada di alun-alun, melainkan di kaki Gunung Pandan, Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Menurut kabar yang beredar dalam masyarakat, batu itu diduga terbentuk akibat erupsi Gunung Pandan. Umurnya diyakini sudah ratusan tahun.

Di sana, Watu Semar begitu dikeramatkan karena masyarakat percaya bahwa ia ada hubungan dengan para tokoh perwayangan, khususnya Punakawan bernama Semar. Kepercayaan itu muncul karena batu tersebut mirip sosok Semar. Dari situ juga, ikon Bojonegoro itu dinamai Watu Semar.

Watu Semar dipindahkan ke alun-alun pada awal 2015 atas perintah Suyoto yang menjabat sebagai Bupati Bojonegoro masa itu. Proses pengangkatannya menelan biaya hampir satu miliar. Selain itu, berbagai hambatan mengiringi pemindahan Watu Semar, seperti tali baja pengangkat batu yang beberapa kali putus dan ban truk pecah.

Sebuah rumor mengatakan bahwa pengerjaan itu memakan korban jiwa. Situasi ini memicu publik setempat mengaitkannya dengan hal gaib. Mereka percaya bahwa Mbah Semar tak memberi izin sehingga meminta tumbal sebagai ganti rugi.

Mitos Orang Cepu-Bojonegoro yang Dilarang Mendaki ke Gunung Lawu, Benarkah?

Kisah Watu Semar sebagai batu keramat

Mengutip penuturan Kepala Desa Sambongrejo dalam Lipi.go.id, mitos Watu Semar bermula dari kisah Punakawan yang berniat membangun sebuah gunung di lokasi asal Watu Semar.

Oleh karena mereka tidak sanggup menyelesaikannya hingga matahari terbit, akhirnya bebatuan yang menjadi elemen utama pembuat gunung diubrak-abrik, agar tak meninggalkan jejak, sehingga menghasilkan lautan batu yang di antaranya terdapat Watu Semar.

Lambat laun, warga setempat mulai mempercayai bahwa Watu Semar juga dihuni oleh Mbah Semar. Semar termasuk satu-satunya anggota Punakawan yang muncul dalam seni pahat dan karya sastra zaman Singasari Majapahit—relief Candi Tigawangi dan Sukuh, serta karya sastra Sudamala.

Menurut kepercayaan Jawa, Punakawan Semar dianggap pengjelmaan dari dewa tinggi. Warga Desa Sambongrejo menyebut Semar dengan memakai awalan ‘Mbah’, artinya seng digugu atau yang dihormati dan disakralkan.

Lalu, berdasarkan konsepsi, Semar itu merujuk pada bahasa lambang Ketuhanan yang Maha Esa. Nama yang melekat padanya antara lain: gaib, Sar (memancarkan cahaya), Badrayana (cahaya tuntunan), Jnanabadra (sinar ilmu pengetahuan), Maya (kesaktian Brahman yang tak tampak), Janggan (kiai), Cahya Buana (cahaya bumi, langit, dan seisinya). Semua itu aspek ketuhanan.

Meski Semar diceritakan berwajah buruk rupa dan menjadi pesuruh, tapi dialah yang memimpin. Itulah alasan mayoritas masyarakat Bojonegoro mempercayai Semar sebagai jelmaan dewa yang sangat dihormati dan ditakuti oleh dewa lain.

Kepercayaan masyarakat Bojonegoro yang menganggap Watu Semar sebagai batu keramat atau sakral diwariskan secara turun temurun kepada setiap generasi baru. Wujud dari pendewaan itu, masyarakat rutin memberikan seserahan berupa jajanan pasar untuk batu mistis tersebut.

Tak hanya itu, Watu Semar kerap diikutsertakan dalam berbagai upacara adat, misalnya Gembrekan: syukuran atas rezeki yang diterima warga dengan iringan doa khas Jawa. Selamatan ini dilaksanakan dengan meletakkan berbagai makanan tradisional seperti kuat, lepet, combro, dan lainnya, di atas Watu Semar.

Saat ini, alasan masyarakat menyakralkan Watu Semar bukan lagi karena menganggapnya dewa, tapi itu bentuk sikap menghargainya karena punya nilai sejarah. Maka dari itu, masyarakat tetap menjaga mitos ini sebagai bagian dari budaya Bojonegoro.

Untuk merawat kearifan lokal Watu Semar, warga Desa Sambongrejo rutin mengadakan Sedulur Sambung Sambang Selo Semar (5 S) pada peringatan tahun baru Hijriyah. Artinya, saudara seikatan mengunjungi batu semar).

Acara itu biasanya diikuti para tokoh masyarakat, perangkat desa, dan para pemuda, atas inisiatif melestarikan kebudayaan agar tidak punah. Mereka sukarela datang ke Alung-alun Bojonegoro dengan mengenakan pakaian adat lengkap. Prosesi tersebut akan diiringi doa, pencucian batu, dan seserahan makanan di jodang—tempat makanan yang dipikul.

Bahasa Bojonegaran, Bahasa Daerah Asal Bojonegoro

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini