Sanggar Wisanggeni dan Upaya untuk Melestarikan Calung Purbalingga ke Generasi Muda

Sanggar Wisanggeni dan Upaya untuk Melestarikan Calung Purbalingga ke Generasi Muda
info gambar utama

Purbalingga sebagai wilayah eks Karesidenan Banyumas punya kesenian tradisional yang sangat beragam. Untuk seni musik, ada salah satu yang unik. Yaitu calung. Alat musik pukul yang terbuat dari bambu wulung atau bambu hitam.

Purbalingga punya berbagai kesenian tradisional, salah satunya adalah Calung yang merupakan sebuah alat musik pukul yang terbuat dari bambu hitam atau yang kerap disebut sebagai bambu wulung oleh masyarakat lokal.

Calung sendiri memiliki bunyi yang mirip dengan angklung, mengingat bahannya pun terbuat dari bambu. Hanya saja, resonansi yang dimiliki calung berbeda dengan angklung karena cara mainnya yang dipukul.

Penamaan calung sendiri berasal dari bunyinya ketika dimainkan. Sebenarnya, kesenian ini pun juga turut berkembang di kawasan

Ada salah satu sanggar yang cukup aktif untuk melestarikan kesenian ini, yaitu Sanggar Wisanggeni yang didirikan pada tahun 2006 oleh Wendo Setiyono. Seorang penggerak kesenian calung di wilayah Purbalingga yang kini juga menjadi guru seni di SMP N 1 Bobotsari, Purbalingga.

Nada dari musik calung didominasi oleh nuansa gembira atau sigrak.. Larasnya sendiri menggunakan notasi slendro yang terdiri atas lima nada. Sesuai dengan lagu-lagu Banyumasan yang kebanyakan berlaras slendro.

Alat Musik Calung: Kesenian Bambu yang Jadi Identitas Masyarakat Purbalingga

Menargetkan generasi muda

Awal mula berdirinya sanggar ini berawal dari keresahannya ketika calung ini semakin tidak dikenali oleh generasi muda. Sampai suatu saat Wendo mencoba mengumpulkan anak-anak muda yang belum benar-benar mengenal Calung.

Lalu, ia pun mulai mencoba melatih mereka dan ketertarikan mereka terhadap calung pun menunjukkan respon yang positif. Wendo pun semakin giat untuk mengajari mereka yang dari nol benar-benar tidak bisa memainkan kesenian ini hingga akhirnya bisa melakukan pementasan.

Ia pun lebih bersemangat ketika ada anak-anak muda lain yang tertarik dengan calung. Hingga akhirnya, Wendo pun menciptakan sanggar yang bernama Wisanggeni.

Goa Lawa Purbalingga, Relief Alam yang Terbentuk dari Letusan Gunung Slamet

Berhasil memperkenalkan dan menyabet banyak prestasi

Seiring waktu berjalan, ia pun terus mengenalkan kesenian ini ke desa-desa di Purbalingga. Meskipun memang kerap mendapatkan antusias yang baik dengan peminat calung yang semakin banyak, bukan berarti tak ada halangan ketika ia menjalankan misinya tersebut bersama sanggarnya.

Ada desa yang menurutnya bahkan tidak menerima sama sekali ketika Wendo berusaha mengenakan calung.

Tetapi, secara umum memang banyak masyarakat yang mendukung kesenian ini. Bahkan, mayoritas orang tua dari anak yang tertarik mempelajari calung sangat mendukung secara penuh ketika anaknya belajar di Sanggar Wisanggeni.

Keberhasilannya ini juga tak bisa dilepaskan dari peran istrinya, Susiati, sebagai seorang pegiat kesenian tari yang menciptakan tari kreasi baru bernama Lenggasor yang sudah terkenal ke berbagai wilayah. Yang mana, tarian ini menggunakan musik calung sebagai pengiringnya.

Sehingga, kolaborasi ini pun membuat calung bisa semakin dikenal secara luas.

Sejauh ini, sanggar yang dikelola Wendo sudah menyabet banyak penghargaan di berbagai tingkat. Bahkan, sanggarnya juga sudah berkesempatan untuk tampil di luar pulau Jawa seperti Lampung dan Batam.

Upaya pelestarian yang dilakukan oleh Sanggar Wisanggeni pun terbilang sukses. Hal ini terbukti dari banyaknya anak muda di Purbalingga yang berminat untuk belajar di sanggar ini.

Dari hal ini pula Wendo juga berharap agar kesenian ini dapat menjadi lapangan pekerjaan bagi para seniman. Sehingga kesejahteraan pegiat calung di daerah Purbalingga dapat semakin meningkat.

Harapan lain Wendo, ia ingin agar Calung bisa masuk ke ekstrakurikuler wajib di setiap sekolah. Sehingga, alunan indahnya suara Calung bisa terdengar setiap sore di di Purbalingga.

Tari Lenggasor, Tari Kreasi Baru asal Purbalingga yang Berbasis dari Tari Lengger

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini