Keunikan Ronggeng Khas Pasaman Barat yang Hanya Dimainkan Para Lelaki

Keunikan Ronggeng Khas Pasaman Barat yang Hanya Dimainkan Para Lelaki
info gambar utama

Ronggeng merupakan kesenian dari Jawa yang sangat terkenal. Ia mengacu pada penari wanita. Tak sekadar menggerakkan tubuh, mereka sebetulnya bercerita lewat nyanyian tentang tiga dewa utama Hindu, yakni Siwa, Brahma, dan Wisnu. Mereka juga sering berkeliling mengitari penonton sambil diiringi musik.

Ada juga Ronggeng versi orang Sunda, berupa sebuah drama yang disebut topeng babakan. Seorang wanita atau pria akan menggunakan topeng yang menggambarkan sebuah watak. Mereka akan tampil diiringi rebab, gong, dan kendang.

Dua jenis Ronggeng di atas memang sangat populer dan masih dilestarikan sampai sekarang. Namun, tahukah Anda, ternyata kesenian yang satu ini juga berkembang di Sumatra Barat (Sumbar), lebih tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar).

Melansir Ejournal.unp.ac.id, Ronggeng khas Pasbar sangat berbeda. Perempuan tak dilibatkan dalam pertunjukkannya dan digantikan oleh kaum laki-laki. Hal itu bertujuan untuk menjaga adat budaya Minangkabau sebab tak patut seorang wanita menari di depan mamak (paman), pemuka adat, dan semua penduduk lelaki.

Pertunjukan ronggeng khas daerah penghasil jagung itu menggabungkan pantun, musik tradisional, dan tari-tarian. Penampilan ini selalu dimeriahkan oleh anak Ronggeng—lelaki yang berdandan seperti wanita, memakai kebaya, sanggul, dan selendang.

Jumlah mereka haruslah dua sampai empat orang agar dapat berbalas pantun. Karakter wanita yang diperankan oleh laki-laki tersebut bertujuan menjaga marwah perempuan atas persetujuan ninik mamak, datuk, dan alim ulama, selagi hanya untuk hiburan.

Agar semakin meriah, Ronggeng akan diiringi oleh lima alat musik, di antaranya: biola, car, botol kaca, dan dua buah gendang. Busana yang digunakan anak Ronggeng bukanlah baju basiba (baju adat perempuan Minangkabau), melainkan kebaya. Hal ini dikarenakan pengaruh Jawa pada masa penjajahan.

Sumatra Barat dahulu menjadi lintas jalur perdagangan nasional yang berpusat di Batavia. Perempuan Jawa yang singgah di Minangkabau, umumnya mengenakan kebaya. Kemudian, mereka mengajarkan warga setempat cara menjahit kebaya. Dari situlah, penduduk mulai tertarik memakai kebaya, termasuk pada pertunjukan Ronggeng.

Bagurau Merah Putih: Untuk Indonesia Menuju Dunia, Tradisi Bagurau Dari Sumatera Barat Digelar Virtual 24 Jam Nonstop

Ronggeng Sakabek Arek

Ronggeng di Pasbar sempat meredup beberapa lama dan dihidupkan kembali oleh kelompok Lembah Melintang di Simpang Ampek pada 1993. Melihat perjuangan mereka, masyarakat Pasbar, termasuk yang tinggal di Simpang Timbo Abu, Kecamatan Talamau, terinspirasi untuk melestarikan juga kesenian Ronggeng di daerahnya.

Dari situlah muncul komunitas Sakabek Arek (RSA) dan diresmikan oleh Pemerintah Daerah Pasbar pada 11 Agustus 2012. Kelompok seni Ronggeng Sakabek Arek bermakna mempererat menjadi satu. Tujuannya didirikan adalah untuk melestarikan tradisi daerah agar tidak tergeser modernisasi.

Tak seperti ronggeng lain yang telah dimodifikasi sesuai perkembangan zaman, RSA tetap mempertahankan orisinalitas. Selain tak mengikutsertakan perempuan dalam pertunjukannya, RSA juga tidak menggunakan orgen atau musik digital.

Seperti Ronggeng di daerah Pasbar yang lain, RSA kerap tampil pada upacara adat, pernikahan, dan acara kepemudaan. Pada upacara Babimba, misalnya, Ronggeng ditampilkan selama iring-iringan ninik mamak kampung menuju tempat pemandian.

Kemudian, dalam sebuah pernikahan, Ronggeng biasa dipentaskan dari pukul 8 malam hingga 3 pagi menjelang resepsi untuk menghibur masyarakat yang sedang bergotong royong mempersiapkan acara pernikahan tersebut.

Pada pagi harinya, Ronggeng akan tampil lagi untuk mengiringi arak-arakan mempelai pria menuju kediaman mempelai wanita. Kalau acara kepemudaan, Ronggeng akan tampil di lapangan terbuka ataupun pentas mulai pukul 9 malam sampai sebelum subuh.

Diciptakan pekerja rodi pada 1930

Dalam sebuah keterangan, Ronggeng diduga sudah ada di Indonesia semenjak masa kerja Rodi pada 1930. Singkat cerita, seorang pria pekerja di dalam penjara, menghibur dirinya sekaligus melepas penat dengan berdendang sambil menari.

Dendangannya tak sengaja terdengar oleh penjaga Belanda. Pria tersebut akhirnya dibawa ke tempat hiburan. Di sana, ia diperintahkan tampil bersama penari Jawa yang disebut Nyai Ronggeng.

Sementara di Simpang Timbo Abu, Kecamatan Talamau, kesenian Ronggeng sudah eksis jauh sebelum Pasbar berdiri. Tak ada informasi pasti terkait siapa orang yang membawa Ronggeng ke tempat itu.

Namun, konon kesenian ini muncul dari orang yang lelah bekerja di ladang. Sambil istirahat, ia berdendang mencurahkan isi hatinya kepada orang lain, entah rindu, sakit hati, atau dendam.

Kata-kata dan irama yang terucap keluar begitu saja. Mulanya orang melakukan Ronggeng seorang diri di tempat sepi, misalnya ladang, hutan, atau tepi laut. Seiring waktu, musik pun masuk mengiringi Ronggeng.

Ronggeng amat disukai oleh penduduk setiap daerah di Pasbar yang mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan karena mereka bisa menghibur diri setelah lelah bekerja.

Sang Raja dengan Seratus Mata, Identitas Provinsi Sumatera Barat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini