Masjid Tuo Kayu Jao, Saksi Penyebaran Islam di Sumatra Barat

Masjid Tuo Kayu Jao, Saksi Penyebaran Islam di Sumatra Barat
info gambar utama

Indonesia merupakan negara dengan penduduk pemeluk agama Islam terbesar menempati urutan pertama berdasarkan laporan The Royal Islamic Studies Center atau MABDA yang berjudul The Muslim 500 edisi 2022.

Sebanyak 231,06 juta penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Pernyataan terrsebut tidak lepas dari banyaknya peninggalan islam yang ada di Indonesia. Salah satunya tidak lain adalah masjid yang digunakan sebagai tempat ibadah umat muslim.

Tidak hanya sebagai tempat ibadah, ternyata masjid-masjid di Indonesia juga menyimpan nilai sejarah Islam yang kental salah satunya adalah Masjid Tuo Kayu Jao.

Masjid yang terletak di Kabupaten Solok, Sumatra Barat ini menjadi saksi bisu syiar Islam di Sumatra Barat dan menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia.

Sejarah Masjid Tuo Kayu Jao

Sejarah Masjid Tuo Kayu Jao, Saksi Penyebaran Islam di Sumatra Barat

Masjid Nurul Islam Koto Kayu Jao atau yang lebih dikenal dengan Masjid Tuo Kayu Jao merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini diperkirakan mulai dibangun pada abad ke-17 bersamaan dengan mulainya perkembangan Islam di Solok.

Namun, terdapat beberapa sumber juga menyebutkan bahwa Masjid Tuo Kayu Jao didirikan oleh dua tokoh ulama Solok yaitu Angku Masyhur dan Angku Labai pada tahun 1567, yang dalam pembangunannya dibantu oleh masyarakat tiga nagari yaitu Kayu Aro, Kayu Jao dan Lubuk Selasih.

Nama dari Masjid Tuo Kayu Jao sendiri berasal dari bahan bangunan kayu yang digunakan yaitu Kayu Jao. Tekstur kayunya yang kuat, keras dan alot ini membuat Masjid Tuo Kayu Jao masih bertahan sampai saat ini.

Baca juga: Mengenal Masjid Menara Kudus: Sejarah, Keunikan, dan Tradisinya

Keunikan Masjid Tuo Kayu Jao

Keunikan dan gaya arsitektur Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid Tuo Kayu Jao terletak di Jalan Kampung Kayu Jao, Jorong Kayu Jao, Kenagarian Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Letak masjid yang berada di bawah lembah menjadikan kawasan masjid lebih sejuk ditambah dengan pemandangan hijau yang dihiasi oleh tanaman.

Uniknya, karena area sekitar masjid merupakan daerah perbukitan sehingga letak masjid dikelilingi oleh perbukitan dan dikelilingi oleh aliran sungai kecil dengan air yang jernih. Air tersebut biasa digunakan untuk berwudhu oleh jamaah yang akan melakukan ibadah.

Masjid ini berbentuk menyerupai bujur sangkar dengan bagian sisi barat yang agak menjorok yang difungsikan sebagai mihrab. Pada mihrabnya terdapat atap bertumpang tiga yang terbuat dari ijuk.

Seluruh pondasi bangunan ini hampir menggunakan kayu jao walaupun sebagian telah diganti dengan beton karena lapuk namun bentuk masjidnya masih tetap dipertahankan untuk menjaga keaslian Masjid Tuo Kayu Jao.

Bagian atap masjid disangga oleh 27 tiang yang merupakan simbol dari 6 suku di sekitar masjid yang terdiri atas empat unsur pemerintahan ditambah tiga unsur agama yaitu khatib, imam, dan bilal. Untuk tiang yang lainnya diibaratkan sebagai jumlah 13 rukun salat.

Seperti masjid-masjid di Indonesia pada umumnya, masjid ini juga menggunakan bedug sebagai penanda waktu salat yang disebut "tabuah" dalam bahasa Minang.

Karena keunikan dan nilai historis dari masjid ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Solok menetapkan Masjid Tuo Kayu Jao sebagai benda cagar budaya No. 06/BCB.TB/A/15.2007.

Kegiatan Agama Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid Tuo Kayu Jao menjadi situs cagar budaya di Sumatra Barat

Selain dijadikan sebagai tempat ibadah umat muslim, Masjid Tuo Kayu Jao juga kerap dijadikan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat.

Para wisatawan lokal juga kerap mengunjungi masjid ini karena daya tarik bangunan dan sejarahnya yang panjang. Masjid ini juga kerap kali mengadakan pengajian rutin sebagai penyambutan tahun baru islam dan acara-acara Islam sebagainya seperti salat bersama di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Phyar Saiputra lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Phyar Saiputra.

Terima kasih telah membaca sampai di sini