Mengenal Masjid Menara Kudus: Sejarah, Keunikan, dan Tradisinya

Mengenal Masjid Menara Kudus: Sejarah, Keunikan, dan Tradisinya
info gambar utama

Indonesia termasuk sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia, dengan jumlah pemeluk agama islam mencapai 231 juta penduduk hingga saat ini.

Islam sendiri masuk ke Indonesia pada abad ke 7 atau ke 8, yang lalu disebarkan di pulau Jawa oleh Wali Songo dengan cara berdakwah. Sehingga banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan penyebaran agama islam, salah satunya adalah Masjid Menara Kudus.

Sejarah Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus memiliki prasasti yang menjelaskan umur masjid

Masjid Menara Kudus atau yang memiliki nama asli Masjid Al-Quds, terletak di Jalan Menara, Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Usia masjid ini sudah mencapai hampir 500 tahun. Prasasti yang ada di atas mihrab masjid Kudus sendiri berangka 956 Hijriah, atau 1549 Masehi.

Masjid Menara Kudus dibangun oleh Ja’far Shadiq, atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus. Al-Quds sendiri merupakan nama kota suci yang ada di Palestina atau dikenal dengan Yerusalem.

Nama Al-Quds diucapkan sebagai Kudus ini dipilih oleh Sunan Kudus untuk mengobati kerinduannya terhadap tanah kelahirannya tersebut. Pasalnya, Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq dilahirkan di Al-Quds, Palestina sekitar tahun 1500-an.

Baca juga: Masjid Tuo Kayu Jao, Saksi Penyebaran Islam di Sumatra Barat

Keunikan Masjid Menara Kudus

Gaya arsitektur Masjid Menara Kudus yang memiliki percampuran gaya arca Hindu dan Islami

Masjid Menara Kudus tergolong berbeda dengan masjid pada umumnya, terutama pada desain arsitektur menara. Pada masjid kebanyakan, menara dibuat layaknya tugu seperti biasa, namun menara masjid peninggalan Sunan Kudus ini di desain seperti bangunan candi.

Gaya arsitektur Masjiid Menara Kudus secara keseluruhan bergaya tradisi seni Hindu. Hal ini dapat dilihat pada struktur dan bentuk atap berupa tumpang bersusun tiga. Sementara bangunan menara masjid menyerupai Candi Jago, yang merupakan peninggalan Raja Singasari Wishnuwardhana.

Pintu gerbang Masjid Menara Kudus juga mirip Candi Belah atau Candi Bentar. Sementara dua daun pintu dibuat kembar sebagai totalitas tradisi seni kori agung atau paduraksa. Meski secara garis besar bangunan Masjid Menara Kudus kental dengan aroma Hindu, namun pada bagian ornamen masjid sangat kental dengan unsur-unsur Arab dan Islam.

Ornamen berunsur Arab dan Islam salah satunya dapat ditemukan di padasan atau bak air, yang letaknya di samping bangunan masjid. Padasan tersebut terbuat dari susunan bata merah, dibagian bawah terdapat ornamen pola anyaman simpul (Arbesque) dengan menggunakan batu putih. Ornamen tersebut mengisi panil-panil pada bagian dinding padasan dengan jumlah 18 buah.

Menara Kudus terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan kaki. Bagian kepala menara berisi sebuah bedug yang berfungsi sebagai penanda waktu shalat, bagian badan menara berisi ruangan atau relung kosong. Relung dalam bangunan bercorak Hindu biasanya berisi patung atau arca. Bagian kaki menara terdapat motif khas budaya Hindu.

Kegiatan Rutin Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus memiliki beberapa kegiatan rutin seperti pengajian serta menjadi lokasi untuk berziarah masyarakat

Masjid Menara Kudus sendiri seringkali menggelar acara rutin, tepatnya di Bulan Ramadhan dimana selalu melaksanakan Shalat Tarawih sejak malam pertama, dengan 20 Rakaat ditambah Shalat Witir 3 Rakaat, dengan bacaan shalatnya yaitu satu juz Al-Qur’an.

Kemudian untuk ngaji kitab kuning, dimulai pada 3 Ramadhan, pertama yakni ngaji Kitab Tafsir Al-Qur’an setelah melaksanakan Shalat Shubuh yang dipimpin oleh KH Yusrul Hana Syaroni, ngaji kitab Durrotun Nasihin yang dipimpin oleh Muhammad Fathan yang dimulai pada sore hari hingga menjelang buka puasa, dan tadarusan umum yang dilakukan setelah selesai Shalat Tarawih.

Selain kegiatan rutin pada Bulan Ramadhan, Masjid Menara Kudus juga mengadakan kegiatan pengajian lain seperti Pengajian 10 Muharram dimana acara tersebut adalah acara buka luwur Sunan Kudus, yang menurut warga setempat datang buat mendapatkan berkah dari Sunan Kudus.

Pada hari-hari biasa pun Masjid Menara Kudus menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Masjid untuk berziarah di Makam Sunan Kudus.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Phyar Saiputra lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Phyar Saiputra.

Terima kasih telah membaca sampai di sini