Peran Rumah Panjang, Penjaga Solidaritas dan Keharmonisan Masyarakat Dayak

Peran Rumah Panjang, Penjaga Solidaritas dan Keharmonisan Masyarakat Dayak
info gambar utama

Bagi masyarakat Dayak Iban di Desa Sungai Utik, rumah adalah jantung kebudayaan, ruang untuk hidup dalam persaudaraan, memelihara tradisi dan mencintai alam. Karena itu lintas generasi, masyarakat Iban masih tinggal di rumah panjang.

Desa Sungai Utik berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sekitar 600 kilometer dari Pontianak. Rumah panjang atau rumah betang, rumah adat suku Dayak itu membentang 214 meter di kampung itu.

Sejumlah bagiannya terbuat dari batang kayu ulin kokoh. Rumah panjang Sungai Utik dibangun tahun 1973 dengan tinggi 2 meter dari permukaan tanah. Bangunan itu terdiri atas beberapa bagian.

“Bagian paling depan disebut tanjok atau selasar, lebarnya 6 meter dan panjang 214 meter. Di sana terhampar padi hasil panen, dijemur di tikar,” tulis Emanuel Edi Saputra dalam Tanah Air: Hidup Utuh di Rumah Panjang terbitan Kompas.

Ritual Mangkuk Merah: Panggilan Perang Maut Masyarakat Dayak

Di bagian dalam rumah terdapat ruangan 214 meter x 6 meter yang disebut ruai. Di sanalah ruang tamu dan tempat berkumpul warga atau tempat berbincang. Selain ruai, di dalam rumah panjang terdapat bilik-bilik.

Di dalamnya ada tempat tidur, dapur, dan kamar mandi. Jumlahnya 46 bilik. Satu bilik dihuni satu hingga empat keluarga. Rumah panjang Sungai Utik dipimpin oleh Tuai Rumah yang menentukan semua hukum di sana.

“Tuai rumah memimpin mulai dari menentukan masa berladang hingga panen, hukum adat, dan berbagai pertemuan penting di rumah panjang. Tuai Rumah jabatan turun-temurun,” kata Bandi atau Apai Janggut, Tuai Rumah kala itu.

Penjaga kekompakan

Ketua Badan Pengurus Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Wilayah Adat Kalbar, Stefanus Masiun mengatakan masyarakat Dayak Iban masih bertahan di rumah panjang karena secara historis kuat memelihara adat dan budaya.

“Rumah panjang jadi jantung kebudayaan. Contohnya saat syukuran sehabis panen dilaksanakan di rumah panjang. Hal itu tak mungkin dilakukan di rumah tunggal karena mengundang banyak orang,” katanya.

Kekompakan dan semangat persaudaran terjaga. Suasana damai juga dijaga dan dipelihara. Itu diyakini oleh warga sebagai penyebab banyak orang berumur panjang bila tinggal di rumah panjang.

Daun Sengkubak, Penyedap Rasa Alami dari Kalimantan

Kekompakan misalnya tercermin saat mereka mendirikan rumah panjang yang memakan waktu lima tahun. Selain kekompakan, diperlukan juga kepemimpinan kuat dari seorang Tuai Rumah.

Masih kuatnya tradisi juga tercermin dalam pengambilan keputusan. Dalam pertemuan, keputusan baru akan diambil setelah semua penghuni setuju. Satu tak setuju, dicari solusi sampai semua setuju.

“Meskipun tinggal di rumah panjang, mereka tidak menutup diri. Dalam kehidupan sosial, mereka terbuka dengan orang luar,” jelas Emmanuel.

Kearifan loka

Sementara itu penghuni desa itu juga mewarisi kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam. Orang Sungai Utik memiliki tata guna lahan atau zonasi pemanfaatan. Mereka menentukan lokasi berladang dan mencari ikan serta kawasan lindung dan konservasi.

Masyarakat Sungai Utik pun sering menghadapi tantangan dari luar yang mencoba merebut wilayah kelola mereka. Misalnya pada tahun 1980-an, daerah Sungai Utik hampir digarap perusahaan hak pengusahaan hutan.

Tetapi masyarakat berhasil menghalaunya. Bagi mereka, uang bukanlah segalanya, tetapi mengutamakan keutuhan hidup. Maka keseimbangan alam sangat mereka jaga karena terkait keutuhan hidup sosial budaya.

Mengenal Budaya dan Kehidupan Suku Dayak di Museum Balanga

“Aspek adat lemah, hutan hancur dan sebaliknya,” paparnya.

Di Kapuas Hulu ada beberapa subsuku Dayak yang tinggal di rumah panjang selain Dayak Iban, antara lain Dayak Taman dan Kantuk. Tetapi hingga kini rumah panjang lestari masih ada di Kapuas Hulu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini