Goldman Sachs: Tahun 2075, Indonesia Jadi Negara Ekonomi Terbesar Dunia Salip Jepang

Goldman Sachs: Tahun 2075, Indonesia Jadi Negara Ekonomi Terbesar Dunia Salip Jepang
info gambar utama

Goldman Sachs, sebuah bank investasi dan perusahaan jasa keuangan multinasional yang bermarkas di New York ini sudah dua dekade terakhir terkenal memberikan proyeksi (forecast) pertumbuhan jangka panjang negara-negara di dunia.

Kini para ekonom Goldman Sachs yang dipimpin oleh Jan Hatzius itu telah memperluas proyeksi mereka untuk 104 negara di dunia setengah abad dari sekarang. Mereka memproyeksikan beberapa poin tentang perekonomian dunia pada tahun 2075.

Salah satu poinnya cukup mengejutkan, khususnya bagi Indonesia. Berikut beberapa hasil proyeksi mereka:

  1. Pertumbuhan rata-rata ekonomi global diprediksi di bawah 3% per tahun, turun dari proyeksi angka 3,6% pada dekade sebelum krisis keuangan. Angka tersebut akan menurun secara bertahap yang menjadi cerminan perlambatan pertumbuhan angkatan kerja.

  1. Negara berkembang akan bertemu dan bergabung dengan negara maju atau negara industri seperti China, Amerika Serikat, India, Indonesia, dan Jerman akan ada di puncak label ekonomi terbesar. Nigeria, Pakistan, dan Mesir juga bisa menjadi yang terbesar.

  1. Kekuatan Amerika Serikat diprediksi akan berkurang selama 10 tahun ke depan, meski dalam dekade terakhir kinerja ekonominya masih mendominasi dan relatif kuat. Ketahanan dollar diprediksi akan menurun.

  1. Ketimpangan pendapatan antar negara akan menurun, itu artinya beberapa negara akan memperlihatkan perkembangannya.

Khusus untuk poin pertama, soal perlambatan ekonomi global, para ekonom Goldman Sachs menjelaskan salah satu sebabnya adalah soal demografi. “Pertumbuhan populasi global telah berkurang setengahnya selama 50 tahun terakhir,” ungkap para ekonom dalam catatan khusus mereka seperti yang dikutip oleh Bloomberg.

Di satu sisi, melambatnya pertumbuhan populasi bisa dianggap sebagai “kabar baik” jika membahas soal isu lingkungan. Namun sebaliknya, persoalan tersebut akan menghadirkan sejumlah tantangan ekonomi secara global.

Salah satu contoh tantangannya adalah bagaimana negara akan membayar biaya kesehatan yang meningkat dari populasi mereka yang menua dan renta?

Lalu perhatikan poin kedua. Indonesia disebut akan bergabung jadi lima negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Jika mengutip catatan terakhir World Economic Outlook dari International Monetary Fund (IMF) edisi Oktober 2022, lima negara produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia adalah China (US$ 30,07 triliun), Amerika Serikat (US$ 25,03 triliun), India (US$ 11.66 triliun), Jepang (US$6,11 triliun), dan Jerman (US$ 5,3 triliun).

Sedangkan posisi Indonesia saat ini baru di peringkat ketujuh dengan PDB mencapai US$ 4,46 triliun, dimana sudah mengalahkan PDB Brazil, Inggris, dan Perancis.

“Mengutip cuitan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, IMF melihat kinerja ekonomi Indonesia masih cukup menjanjikan di tengah perkiraan perlambatan ekonomi global. Indonesia tetap menjadi sebuah titik yang terang di tengah ekonomi dunia yang memburuk,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartanto dikutip Investor.id (2/11/2022).

Jika dibandingkan dengan proyeksi Goldman Sachs yang masih harus menanti 50 tahun lagi, sebenarnya IMF melihat potensi Indonesia yang dianggap mampu masuk ke dalam 5 besar pada tahun 2024 nanti, dimana Indonesia akan memperingati hari kemerdekaannya ke-100 tahun.

Untuk kembali mengingat, pada tahun itu pula Indonesia sebenarnya sedang dalam masa puncak “bonus demografi”, dimana jumlah populasi angka produktif sedang mendominasi di Indonesia.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengungkap bahwa proyeksi itu bukanlah sebuah angan-angan atau mimpi saja. Jika lembaga ekonomi internasional sudah menghitung dan memproyeksikan seperti itu, maka Indonesia sebenarnya bisa merealisasikannya.

“Ada empat sektor usaha yang berpotensi terus tumbuh, yakni hilirasi sumber daya alam (SDA), ekonomi digital, ketahanan pangan, serta pariwisata dan ekonomi kreatif,” ungkap Erick dikutip Kompas.com (27/10/2022).

Erick menilai empat sektor itu nantinya akan ditopang dengan jumlah kelas menengah Indonesia yang diprediksi akan mencapai 223 juta orang dari total populasi yang diperkirakan mencapai 318,9 juta orang pada 2045.

Bagaimana menurut proyeksi Kawan GNFI? Apakah Indonesia mampu menjangkau 5 besar pada tahun 2045 atau 2075 nanti?

Sumber: Bloomberg, Investor.id, Kompas.com, Yahoo Finance

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini