Pembangunan Jalur MRT, Benarkah Mengancam Situs Bersejarah di Jakarta?

Pembangunan Jalur MRT, Benarkah Mengancam Situs Bersejarah di Jakarta?
info gambar utama

Arkeolog Candrian Attahiyat mengaku cemas dengan pembangunan jaringan mass rapid transit (MRT) bawah tanah Jakarta tahap kedua dimulai pada tahun 2020. Hal ini diduga akan menghilangkan sejarah yang berusia berabad-abad di kota Jakarta.

Rel sepanjang 5,8 km ini akan menghubungkan pusat kota Jakarta dan bagian utara ibukota Indonesia. Hal ini berarti akan menghilangkan sejarah berusia berabad-abad yang berasal dari masa ketika kota itu dikuasai oleh Belanda dan dikenal sebagai Batavia.

“Saya sangat cemas. Saya pikir semua orang di komunitas arkeologi merasakan hal yang sama,” kata Attahiyat, ketua Tim Ahli Pelestarian Budaya Jakarta yang dimuat CNA.

Legenda Mbah Kondor, Monyet Penjaga Ancol Sebelum Menjadi Taman Impian

Dalam beberapa bulan setelah konstruksi dimulai, ketakutan Attahiyat terkonfirmasi. Pekerja konstruksi mulai menemukan artefak sejarah kecil berupa pecahan keramik dan peluru dari masa lalu.

Saat pekerjaan konstruksi berlangsung, artefak yang lebih besar ditemukan, kata para ahli konservasi. Sejak pertengahan 2021, beberapa banyak peradaban masa lalu yang mulai terkuak setelah proses konstruksi berlangsung.

Para pekerja mulai menemukan jalur trem yang berasal dari abad ke-19, pipa bawah tanah kuno, dan fondasi jembatan berusia berabad-abad. Penemuan terbaru terjadi bulan lalu ketika para pekerja menggali jalur trem kuno sepanjang 1,4 km di enam lokasi.

Disimpan ke museum

Beberapa arkeolog, termasuk Attahiyat, meyakini bahwa benda-benda bersejarah tersebut harus tetap pada posisinya semula. Namun MRT Jakarta berdalih akan sangat sulit melanjutkan pembangunan jika artefak tersebut tidak disingkirkan.

Pada akhirnya, operator kereta api hanya setuju untuk mengawetkan beberapa benda yang tidak akan mengganggu pekerjaannya. Hampir semua jalur trem tua dan pipa terakota bawah tanah harus dibongkar dan dipindahkan.

“MRT Jakarta bekerja sama dengan tim ahli arkeologi untuk menemukan cara menyelamatkan temuan tersebut,” kata Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim kepada wartawan bulan lalu.

Jejak Keindahan Kali Besar yang Membelah Kota Kembar Batavia

Halim mengatakan, benda-benda tersebut akan didokumentasikan dan dibongkar dengan hati-hati sebelum disimpan untuk diamankan. MRT Jakarta juga berjanji akan menyediakan ruang di stasiun-stasiun untuk ditampilkan kepada publik.

Setelah proses negosiasi yang panjang, anggota komunitas arkeologi mengalah, setidaknya untuk saat ini. Tetapi mereka tetap cemas dengan nasib banyak artefak yang masih terkubur di kawasan bersejarah Jakarta.

“Saya masih merasa bahwa jalur trem harus dipertahankan pada posisi semula, tetapi saya mengerti bahwa secara teknis ini sulit dengan semua konstruksi yang sedang berlangsung. Kita harus membuat kompromi," katanya.

Pentingnya sejarah

Jalur trem dibangun oleh Belanda pada tahun 1867, dengan satu jalur sepanjang 10 km yang membentang dari bagian tertua Batavia di utara ke daerah pemukiman kelas atas tempat tinggal orang Eropa kaya di tempat yang sekarang disebut Jakarta Pusat.

Pada awalnya, trem ditarik oleh kuda. Tetapi trem kuda sangat tidak efisien karena kuda hanya dapat bekerja selama beberapa jam dan harus ditempatkan, dirawat, dan diberi makan. Lalu ada masalah kotoran yang mengotori jalanan Batavia.

Trem kuda akhirnya diganti dengan yang bertenaga uap pada tahun 1881. Pada tahun 1934, trem di Batavia bertenaga listrik dan jaringannya telah berkembang hingga mencakup sebagian besar ibu kota Hindia Belanda.

Namun selanjutnya trem tidak populer di mata beberapa tokoh nasional, termasuk presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang melihatnya sebagai sisa-sisa masa kolonial Indonesia.
Tapi menghapus jejak terbukti terlalu mahal bagi bangsa muda.

Memori Masjid Islamic Center Jakarta dari Puing Lokalisasi Terbesar di Asia Tenggara

Dengan demikian, jejaknya ditinggalkan begitu saja dan seiring waktu, terkubur di bawah lapisan aspal sebelum akhirnya dilupakan oleh masyarakat umum. Sejarawan JJ Rizal menilai tenggat waktu yang panjang itu ada hikmahnya.

“Sampai saat ini, kami belum melihat bagaimana stasiun akan dirancang dan bagaimana benda-benda bersejarah ini akan ditampilkan. (Batas waktu yang panjang) memberi setiap orang waktu untuk benar-benar memikirkan cara terbaik untuk menyajikan artefak ini dan sejarah di baliknya kepada masyarakat umum, ”katanya.

Attahiyat mengaku bingung dengan proyek pembangunan MRT yang sedang berjalan. Dirinya pun berharap agar pembangunan tersebut tidak mengorbankan sejarah. Pasalnya generasi muda memerlukan hal tersebut.

“Jika pekerja menemukan lebih banyak artefak, apakah mereka akan dibongkar dan disingkirkan seperti yang lain? Orang-orang harus melihat artefak ini di lokasi aslinya sehingga mereka dapat menghargai konteks sejarah dan geografis (objek),” katanya.

“Di satu sisi, itu berarti semakin banyak orang yang mengunjungi kawasan cagar budaya Jakarta. Tapi itu tidak boleh mengorbankan situs sejarah dan artefak, ” lanjutnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini