Resesi dan Inflasi Kompak Menggiring Depresi Ekonomi. Mampukah Indonesia Beradaptasi?

Resesi dan Inflasi Kompak Menggiring Depresi Ekonomi. Mampukah Indonesia Beradaptasi?
info gambar utama

Halo, Kawan GNFI!

Berbicara mengenai resesi dan inflasi, iterasi berita ini hampir mirip dengan pandemi, ya, Kawan! Terkadang gencar diberitakan, tiba-tiba hilang, lalu datang lagi sampai memuncak disuarakan di mana-mana. Menurut Kawan GNFI, seberapa penting, sih, kabar resesi dan inflasi ini bagi masyarakat Indonesia?

Ya! Tentu saja berita ini sangat penting, tetapi sangat disayangkan berita penting seperti ini terkadang dilupakan bahkan tertimbun begitu saja.

Tahukah, Kawan, resesi dan inflasi diprediksi akan terjadi secara bersamaan di tahun 2023, lho! Kok bisa? Apa pentingnya? Memangnya kenapa? Kalau begitu, mari kita ulas bersama-sama topik kali ini.

Ancaman Depresi Ekonomi

Resesi dan inflasi
info gambar

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), resesi adalah suatu kondisi di mana perekonomian suatu negara sedang memburuk, yang terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. Di sampung itu, Bank Indonesia mengartikan resesi sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.

Resesi dan inflasi memiliki kesamaan, yakni sama-sama "penyakit" negara yang mana ketika keduanya terjadi bersamaan, maka akan menggiring Indonesia menuju depresi ekonomi. Singkatnya, resesi ini tingkatannya berada satu tingkat di atas krisis ekonomi, dan bahayanya lagi jika resesi berdampingan dengan inflasi, maka Indonesia berpeluang masuk ke jurang depresi yang merupakan keterpurukan ekonomi paling parah.

Seperti yang Kawan GNFI ketahui, belakangan ini harga barang semakin meningkat disebabkan oleh lonjakan nilai tukar mata uang rupiah dengan mata uang dolar. Peningkatan harga barang yang tidak terkontrol ini menyebabkan Indonesia mengalami inflasi. Buruknya lagi, hal ini terjadi ketika Indonesia sedang merangkak menuju pemulihan ekonomi.

Keterpurukan selama dua tahun ke belakang membuat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi. Beberapa tokoh ekonomi pemerintahan Indonesia, memprediksi bahwasannya di tahun 2022 atau 2023 Indonesia bisa menggalakkan pemulihan ekonomi. Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut nyatanya Indonesia justru mengalami inflasi besar-besaran.

Bagaimana Langkah Adaptasi Indonesia?

Kenaikan harga barang yang terjadi tidak seimbang dengan pendapatan masyarakat pada umumnya. Oleh sebab itu, turunlah kebijakan Bank Indonesia mengenai kenaikan suku bunga untuk mentasbilkan keuangan atau perekonomian negara. Nah, kalau menurut kawan GNFI, apakah bentuk adaptasi Indonesia cukup sampai di sini?

Bisa jadi jawabannya iya, jika Indonesia hanya dihadapkan dengan permasalahan inflasi saja. Namun, perlu diingat bahwasannya di tahun 2023 Indonesia akan dihadapkan dengan dua penyakit negara paling berbahaya, yaitu inflasi dan resesi. Keduanya kompak menyerang sektor perekonomian Indonesia.

Kebijakan tentang kenaikan suku bunga memang akan menurunkan inflasi di Indonesia. Meskipun begitu, pernah kah Kawan GNFI berpikir bahwa kenaikan suku bunga juga akan berdampak pada pelemahan ekonomi dan daya beli masyarakat?

Indikasi yang paling terlihat adalah ketika harga melambung tinggi, mayoritas masyarakat menekan konsumsinya sehingga jumlah permintaan pasar turut menurun. Kemudian, ketika para pelaku UMKM mencoba untuk merangkak mendukung pemulihan ekonomi, justru nilai suku bunga meningkat drastis. Ketentuan pinjaman modal pun tentu akan terkena dampaknya. Alhasil, para pelaku usaha mengurungkan pinjaman dan modal pun tersendat.

Kedilemaan Ekonomi Indonesia

Indonesia menghadapi dilema ekonomi
info gambar

Bahkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar pun turut menyampaikan kedilemaan ekonomi Indonesia. Dilansir antaranews.com, Mahendra mengatakan bahwa di tahun 2023 tantangan ekonomi makro ada dua. Akibatnya, Indonesia dihadapkan dilema, apakah harus menangguangi inflasi dengan meningkatkan suku bunga sehingga inflasi turun, atau menyelesaikan resesi dengan menurunkan tingkat suku bunga sehingga ekonomi bergerak.

Jika tahun 2023, kedua penyakit negara tersebut benar-benar terjadi dalam satu waktu, maka Indonesia benar-benar akan dilema. Pilihannya sangat mencekik, inflasinya tinggi, resesinya berat. Jika tingkat suku bunga dinaikkan, maka Indonesia semakin resesi. Jika tingkat suku bunga diturunkan, maka inflasinya naik terus-menerus.

Namun, dibalik jurang nan suram tersebut masih ada secercah harapan bagi Indonesia. Mahendra mengatakan bahwa para analis hingga lembaga multilateral memperkirakan ekonomi Indonesia dan kawasan Asia tenggara akan tetap tumbuh positif di kisaran 5 persen year on year (yoy) pada tahun 2023.

Sepenggal harapan tersebut harus bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk beradaptasi menghadapi resesi dan inflasi. Indonesia masih memiliki pasar dalam negeri dan pasar kawasan yang besar. Hal tersebut harus dimaksimalkan dalam aspek konsumsi, investasi, dan belanja pemerintahnya.

Indonesia juga harus menstimulasi sumber pertumbuhan-pertumbuhan baru di daerah dan kawasan yang selama ini belum terjangkau dengan baik. Dengan ini, pemerataan ekonomi harus terjadi sebagai bekal untuk menghadapi ketidakpastian perekonomian global di tahun yang akan datang.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CA
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini