7 Tempat Nongkrong Khas Indonesia, Pernah Singgah?

7 Tempat Nongkrong Khas Indonesia, Pernah Singgah?
info gambar utama

Sejak dulu, aktivitas berkumpul bersama teman atau keluarga merupakan hal yang sering dilakukan masyarakat Indonesia. Berkumpul di tempat makan, atau yang sering dikenal dengan istilah nongkrong, merupakan kegiatan yang bergeser menjadi gaya hidup di masa kini.

Penyebaran virus COVID-19 membuat seluruh dunia sempat melewati masa karantina yang membosankan sehingga masyarakat menjadi gemar untuk mencari hiburan baru. Saat ini, banyak orang senang mengunjungi berbagai jenis tempat makan untuk bertemu dan berkumpul, salah satunya kafe yang sedang populer.

Kafe merupakan kata serapan dari café, bahasa Perancis untuk “kopi”. KBBI menjelaskan bahwa kafe adalah tempat dimana pengunjungnya dapat memesan minuman seperti kopi, teh, bir, dan lainnya sembari mendengarkan musik.

Jauh sebelum fenomena nongkrong di kafe populer, masyarakat Indonesia ternyata sudah punya tempat-tempat khusus untuk destinasi nongkrong. Tidak hanya pemuda saja, bahkan beberapa tempat ini banyak didatangi generasi-generasi tua untuk melepas letihnya. Berikut merupakan tempat nongkrong lokal khas masyarakat Indonesia, apakah Kawan GNFI pernah singgah di salah satu tempat ini?

1. Warkop

Tampak depan Warkop
info gambar

Tentu tempat sudah tak asing lagi. Bisa dibilang merupakan pelopor kedai untuk orang-orang minum kopi di Indonesia, sebelum akhirnya konsep kafe menjadi lebih populer. Warkop merupakan singkatan dari Warung Kopi, adalah salah satu tempat untuk masyarakat berkumpul dan bersosialisasi.

Meskipun begitu, bukan hanya kopi yang bisa Kawan temukan di kedai tersebut, pemilik Warkop kadang turut menjual makanan sebagai pendamping minumannya, mulai dari camilan ringan, seperti roti, kue, gorengan, hingga makanan berat nasi bungkus. Di Indonesia, Warkop identik dengan bapak-bapak sebagai mayoritas pengunjung untuk melepas penat.

Baca juga: 5 Kafe Berkonsep Kereta Api Terhits di Indonesia

2. Lapo

(Situasi di dalam Lapo | Foto: Aditya Mardiastuti/detik.com)
info gambar

Di beberapa daerah, banyak warkop yang tidak hanya menjual kopi sebagai minuman utamanya, namun juga tuak dan jenis-jenis alkohol lainnya. Kedai yang menjual tuak dan alkohol sebagai salah satu produknya lebih sering disebut Lapo. Lapo berasal dari kata lepau, dalam KBBI merujuk pada bagian beranda belakang rumah yang dijadikan dapur.

Lapo identik dengan masyarakat Batak karena tongkrongan ini berasal dari Sumatera, daerah Danau Toba. Selain itu, kedai ini juga identik dengan sajian menu non-halal, seperti minuman beralkohol dan daging babi. Meskipun begitu, tidak semua lapo merupakan kedai non-halal, karena secara bahasa, lapo memiliki arti sebagai tempat makan yang menyajikan masakan khas Sumatera, bukan kedai alkohol dan daging babi secara khusus. Masyarakat Batak, terutama generasi tuanya, gemar mendatangi lapo untuk melepas letih sepulang kerja.

3. Burjo

(Tenda Burjo | Foto: setopratama.com)
info gambar

Jika ada warung khusus kopi, maka terdapat pula warung khusus bubur kacang hijau. Bubur kacang hijau merupakan bubur manis, salah satu makanan penutup yang populer di Asia Tenggara, di antaranya adalah Indonesia, dan memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan.

Burjo merupakan singkatan dari bubur kacang hijau. Warung ini sangat populer, mayoritas ditemukan di daerah Yogyakarta. Kawan dapat menemukan Burjo sebagai sebuah tenda kecil di pinggir jalan, dan beroperasi di malam hari, tetapi tiap daerah mungkin memiliki bentuk dan jam buka yang bervariasi.

Meskipun dinamakan warung bubur kacang hijau, di masa kini Burjo tidak hanya menjual bubur kacang hijau saja. Beberapa Burjo banyak yang mulai menjual makanan-makanan lain seperti mi instan. Karena inilah banyak pedagang yang beralih konsep dari burjo menjadi warmindo.

4. Warmindo

(Kedai mie instan ‘Warmindo’ | Foto: Refi Firdan Isnantya/Kompasiana)
info gambar

Warmindo merupakan singkatan dari Warung Makan Indomie, sebuah merek mi instan yang sangat populer di Indonesia, terutama di kalangan pelajar. Warung ini menyediakan berbagai jenis rasa dari mi instan, yang kemudian ia jual kepada pelanggannya dalam keadaan matang dan hangat.

Mi instan, seperti namanya, merupakan makanan murah dan mudah dibuat. Namun tujuan lain dari adanya Warmindo adalah sebagai tongkrongan bersama teman ataupun orang-orang sekitar untuk bersosialisasi dan makan murah.

Warung ini biasa buka selama 24 jam. Kehadirannya cukup membantu masyarakat, terutama kaum pelajar yang tidak memiliki dapur di kosnya. Karena merupakan hasil "evolusi" dari burjo, warmindo pun tidak hanya menjual mi sebagai menu utamanya. Terdapat sajian lain yang ditawarkan, seperti bubur kacang hijau, soto, nasi-nasian, dan camilan lainnya.

Baca juga: Sayangi Bumi, Intip Kafe dengan Konsep Ramah Lingkungan

6. Warteg

( Situasi di dalam Warteg | Foto: Subekti/Tempo.co)
info gambar

Warteg bisa dibilang merupakan restoran untuk orang-orang dengan budget ketat. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang, Kawan sudah dapat menikmati lauk-pauk khas masakan rumah. Warteg merupakan singkatan dari Warung Tegal. Hal ini dikarenakan konsep warteg diciptakan oleh orang-orang asal Tegal.

Pemandangan khas yang dapat ditemukan dalam warteg adalah etalase tempat penjual menjajakan makanannya, dan kursi memanjang yang menghadap ke arah etalase tersebut. Tidak ada sistem pemesanan yang rumit, pembeli dapat langsung menunjuk lauk yang diinginkan dan pramusaji akan segera menyajikannya.

Warteg kadang identik dengan adanya TV yang dipajang di pojok ruangan sehingga pengunjungnya dapat menikmati hiburan sembari menyantap makanan. Jika musim pertandingan sepak bola sedang hangat, Kawan akan menemukan Warteg penuh dengan orang-orang yang menonton bola beramai-ramai.

7. Angkringan

angkringan jogja
info gambar

Tongkrongan ini merupakan tempat yang banyak ditemukan di daerah Yogyakarta dan Solo, bahkan menjadi salah satu atraksi turis khas daerah tersebut. Angkringan, dengan nama lain HIK (Hidangan Istimewa Klaten), atau juga wedangan, adalah tempat makan kecil yang biasa mulai beroperasi dari malam hari hingga pagi buta.

Tempat makan ini berwujud gerobak yang biasa singgah di pinggir jalan dan menggunakan kursi yang memanjang mengelilingi gerobaknya, ataupun terpal sebagai alas untuk pengunjungnya duduk dan menikmati makanan yang dijual.

Baca juga: Andalkan Kopi Lokal, Kafe Djournal Coffee Siapkan Ekspansi ke Luar Negeri

Makanan yang disajikan dalam angkringan terbilang ringan, seperti nasi kucing, berbagai jenis sate, goreng-gorengan, teh, wedang ronde, dan juga kopi panas. Tempat ini menjadi tongkrongan yang digemari berbagai generasi dan kalangan, dari masyarakat biasa hingga pejabat. Semua status dan kelas menjadi luntur ketika berada di dalam Angkringan.

Iitulah beberapa tempat nongkrong lokal khas masyarakat Indonesia. Dari ketujuh tempat tersebut, adakah tempat lain yang pernah Kawan datangi?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MA
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini