Mengenal Tradisi Molonthalo dalam Menyambut Kelahiran Bayi di Gorontalo

Mengenal Tradisi Molonthalo dalam Menyambut Kelahiran Bayi di Gorontalo
info gambar utama

Gorontalo dijuluki Serambi Madinah karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Nilai keislaman cukup melingkupi kehidupan dan kebudayaan masyarakat.

Istilah Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah, ikut berkembang hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Dalam bahasa daerahnya, istilah tersebut dikenal dengan “Adati hula-hulaa to saraa, saraa hula-hulaa to Qur’ani”.

Suatu daerah biasanya memiliki bermacam tradisi untuk menyambut sesuatu, termasuk kehamilan. Momen bahagia ini biasanya disambut dengan kenduri dan acara tertentu ketika kandungan telah berumur tujuh bulan.

Masyarakat Gorontalo juga memiliki tradisi dalam menyambut kedatangan seorang bayi ke dunia, namanya molonthalo. Tradisi tersebut bisa dikatakan untuk meringankan atau memudahkan proses persalinan.

Molonthalo umumnya diadakan pada umur kehamilan 7-8 bulan. Para warga akan berkumpul untuk mendoakan bersama agar persalinan nanti dimudahkan oleh Allah SWT.

Upacara molonthalo pada masyarakat Gorontalo biasanya diisi dengan pembacaan Alquran dan salawat nabi yang dipimpin oleh seorang kiai. Dalam acara ini juga akan dihidangkan berbagai makanan di tengah para undangan atau di depan kiai.

Mengenal Proses Pengerjaan Karawo, Sulaman Paling Rumit di Dunia dari Gorontalo

Molonthalo bagi wanita Gorontalo yang hamil 7 bulan anak pertama dapat dikatakan pra-acara adat dalam rangka peristiwa adat kelahiran dan keremajaan yang berlaku pada masyarakat Gorontalo.

Pada hakikatnya, molonthalo terdiri dari 3 hal penting: pertama, pernyataan keluarga pihak suami bahwa kehamilan pertama adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan turunan dari perkawinan yang sah. Kedua, maklumat kepada pihak keluarga bahwa sang istri benar-benar suci dan menjadi dorongan bagi gadis lainnhya untuk menjaga diri dan kehormatannhya.

Ketiga, pernyataan syukur atas nikmat Tuhan yang diberikan kepada sepasang suami istri melalui doa dan salawat. Hal ini bertujuan agar kelahiran sang bayi dapat dimudahkan. Keempat, pemantapan kehidupan sepasang suami istri menyambut penerus keturunan mereka serta persiapan fisik mental menjadi ayah dan ibu yang baik dengan membina rumah tangga. Para calon ayah-ibu ini akan saling menyuapi satu sama lain.

Pelaksanaan molonthalo merupakan perwujudan rasa syukur kedua calon orang tua baru kepada Allah atas hadirnya anak yang dikandung sang ibu. Acara ini juga bermaksud menanamkan nilai-nilai tauhid kepada sang bayi sedari dini, bahkan sebelum ia lahir.

Makna Setiap Atribut Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini