Sejarah Thrift Shop - Pakaian Bekas yang Kerap Diburu Millennial Indonesia

Sejarah Thrift Shop -  Pakaian Bekas yang Kerap Diburu Millennial Indonesia
info gambar utama

Apakah kalian pernah membeli pakaian bekas? Atau pernah mendengar istilah "thrift shop" ?

Ya bagi mereka yang ingin tampil modis tapi budget minimalis, maka thrift shop adalah jalan ninja paling realistis.

Perpaduan antara upaya mencari barang branded layak pakai, unik namun alokasi anggaran yang pas-pasan barangkali menjadi pengertian yang tepat untuk menggambarkan fenomena thrifting.

Namun darimana sebenarnya asal-usul kemunculan lapak-lapak pakaian bekas ini ?.

Mari kita kupas melalui uraian singkat berikut ini. Jangan lupa secangkir kopinya disiapkan!.

Perbedaan Istilah Thrift, Thrifting, dan Thrift Shop

Sebelum kita menelusuri jejak-jejak historis kemunculan thrift shop ini, baiknya kita awali dengan pemahaman beberapa istilah yang lazim digunakan dalam dunia per-baju bekas-an.

Secara bahasa, kata "thrift" dapat diartikan sebagai penghematan atau berdasarkan pengertian Cambridge Dictionary, thrift adalah "the careful use of money, especially by avoiding waste and saving money for the future".

Senada dengan definisi tersebut, maka istilah "thrift" yang dimaksud dalam konteks ini adalah barang bekas atau secondhand yang masih layak pakai dan harganya jauh lebih murah dari harga barunya.

Barang tersebut bisa berupa pakaian, sepatu, topi, tas, barang elektronik, atau benda-benda antik lainnya.

Seiring waktu, kini tidak hanya barang bekas yang dijajakan, tapi juga produk sisa yang tidak lolos standar industri atau tidak laku dalam jangka waktu lama, kemudian diimpor dan dijual kembali oleh pelapak thrift shop.

Belakangan ini muncul lagi satu istilah "pre-loved stuff". Kendati sama-sama menjual barang bekas pakai, namun untuk barang pre-loved lebih sering dijual secara personal dan terbatas.

Istilah berikutnya adalah thrifting, yakni istilah yang menggambarkan aktivitas seseorang mencari dan belanja barang bekas di toko yang khusus menjual barang-barang tersebut. Toko inilah yang disebut thrift shop.

Kini ada beragam istilah yang disematkan untuk toko yang menjual barang bekas seperti second stuff, second store, vintage clothing store hingga nama-nama lokal sesuai daerahnya.

Di Makassar orang menyebutnya cakar (cap karung), di Solo disebutnya awul-awul, burjer di Tapanuli, cimol di Bandung, lelong di kalimantan Barat, dlsb.

Sejarah Kemunculan Thrift Shop

Untuk melacak embrio kemunculan thrift shop ini, kita dapat melangkah mundur ke paruh abad 18 yakni era revolusi industri pertama (1760 - 1840) di Eropa dan Gelombang imigrasi di Amerika.

Sejak revolusi 1.0 tersebut, perjalanan thrift shop melalui beberapa babak di antaranya;

Era Produksi Massal Pertama

Pada akhir abad 19, mulailah diperkenalkan mass-production of clothing (produksi pakaian secara massal) yang mana menggeser cara pandang masyarakat saat itu tentang dunia fashion.

Karena melimpahnya hasil produksi membuat harga pakaian sangat murah dan melahirkan anggapan bahwa pakaian tersebut adalah barang yang sekali pakai lalu dibuang (disposable).

Menurut sejarawan Le Zotte dalam karyanya From Goodwill to Grunge: A History of Secondhand Styles and Alternative Economies mengatakan bahwa ketika penduduk kota semakin bertumbuh, namun lahan tempat tinggal terbatas, maka membuang barang-barang seperti pakaian adalah jalan pintas.

Era Charity Shop (Lembaga Amal)

Fenomena menumpuknya pakaian - pakaian yang dibuang ini ditangkap oleh komunitas keagamaan sebagai ide bisnis yang dapat menghasilkan uang.

Muncullah nama-nama seperti Salvation Army tahun 1897 dan disusul Goodwill 5 tahun berikutnya pada 1902. Kedua NGO tersebut mencoba mengumpulkan pakaian bekas dari para warga dan sebagai imbalannya, mereka mendapat makanan dan penginapan (shelter).

Namun di benua berbeda, tepatnya di Inggris, organisasi amal serupa dinilai lebih dulu muncul dan dianggap sebagai pelopor pengumpulan barang bekas, yaitu Wolverhampton Society for the Blind, menurut laman trvst.world.

Era Great Depression (Krisis Amerika 1920) dan Perang Dunia

Ketika Great Depression melanda Amerika, banyak orang kehilangan pekerjaan dan tentu saja berefek pada menurunya daya beli masyarakat termasuk membeli pakaian baru.

Maka berburu pakaian bekas di thrift shop adalah alternatif. Sedangkan untuk orang yang yang berkecukupan, tempat ini dijadikan untuk donasi.

Selain itu, perang dunia I dan II juga berkontribusi terhadap penggunaan pakaian bekas sebab bahan baku untuk pakaian baru mengalami kelangkaan.

Meningkatnya permintaan akan pakaian bekas mengubah pakem thrift shop dari “tempat donasi” menjadi toko serba ada (department store).

Salah satu thrift shop yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah Goodwill. Toko ini menjadi thrift shop terbesar di Amerika kala itu. Bahkan tahun 1935 Goodwill telah memiliki hampir 100 toko di seluruh Amerika dan memiliki armada truk yang siap mengumpulkan sekaligus menyuplai pakaian dan peralatan rumah tangga ke lebih 1000 rumah tangga Amerika.

Era 90-an - Popularitas Grunge Style dan Kurt Cobain

Tahun 90an acapkali ditandai sebagai era Grunge, yakni satu aliran musik pop rock alternatif dari Amerika dan nama Kurt Cobain dianggap sebagai representasi genre ini sekaligus panutan setiap remaja dimasa itu.

Bersama sang istri, Courtney Love, Kurt Cobain yang identik dengan setelan ripped jeans, flanel shirt, dan layering yang cukup banyak dinilai secara tidak langsung mempromosikan “thrifting style”.

Untuk mewujudkan setelan style tersebut, Kurt Cobain mesti berburu barang-barang seperti itu di thrift shop, karena toko retail saat itu belum menjual pakaian yang semacam ini.

Era Millenial Abad 21 - Kala Thrifting jadi Gaya Hidup

Memasuki era 2000-an, mengenakan pakaian bekas sedikit mengalami pergeseran. Hal tersebut tidak lagi sebagai cerminan ketidakmampuan seseorang dalam membeli pakaian baru, namun telah menjadi gaya hidup.

Jika ditanya faktor apa yang paling mempengaruhi pertumbuhan thrift shop, maka jawabannya adalah internet dan e-commerce.

Pelopor penjualan pakaian bekas secara online atau e-commerce adalah eBay dan Craigslist yang sudah memulai debutnya secara global pada 1995.

Kini thrift shop telah menjadi kekuatan yang menggerakkan ekonomi global. Bahkan sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 17% konsumen Amerika membeli pakaian bekas setiap tahun.

Sementara jumlah dana yang berputar dalam transaksi pakaian bekas menurut data IBISWorld bernilai hingga $14.4 billion dan penjualan secara online mencapai $33 billion pada 2021.

Kapan Tren Membeli Pakaian Bekas di Indonesia Mulai ?

Melansir laman CNN Indonesia bahwa geliat membeli pakaian bekas di Indonesia diperkirakan telah muncul sejak dekade 1980-an.

Sedangkan secara geografis, usaha thrift shop awalnya berkembang di wilayah pesisir laut Indonesia. Wilayah-wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga, seperti Sumatera, Batam, Kalimantan, hingga Sulawesi jadi pintu masuk impor pakaian bekas.

Seiring waktu, bisnis pakaian impor bekas mulai berekspansi ke pulau Jawa. Namun konon demi mempertahankan gengsi, maka kebanyakan menjual barang tersebut dengan embel-embel "barang impor" ketimbang melabeli dagangan mereka dengan "barang bekas".

Demikianlah sekilas perjalanan thrift shop dari masa ke masa. Apakah kalian tertarik untuk mencoba berburu pakaian bekas ?.

Baca juga : 5 tempat Berburu Pakaian Bekas (thrift shop) terbesar di Indonesia

Referensi: time.com | goodwillaz.org | ussfeed.com | trvst.world | cnnindonesia.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini