Dikagumi James Cameron, Kehidupan Suku Bajo Jadi Inspirasi Film "Avatar: The Way of Water"

Dikagumi James Cameron, Kehidupan Suku Bajo Jadi Inspirasi Film "Avatar: The Way of Water"
info gambar utama

Avatar: The Way of Water saat ini sedang menjadi salah satu film yang mendapat atensi besar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tapi bukan hanya sebagai target pasar penikmat, rupanya salah satu bagian dari Indonesia juga menjadi bagian yang menginspirasi terciptanya elemen penting dalam film tersebut, yakni suku Bajo.

Untuk diketahui, Avatar: The Way of Water merupakan salah satu film fenomenal garapan sutradara kenamaan James Cameron, yang sudah sangat dinanti selama 13 tahun. Film pertamanya yang rilis pada tahun 2009 silam, begitu fenomenal dan hingga kini masih bertengger sebagai film terlaris dunia selama 13 tahun pula.

Bukan tanpa alasan, pada masanya Avatar banyak mendapat apresiasi lantaran dinilai sebagai film paling berhasil yang menyuguhkan produksi hasil CGI (Computer Generated Imagery) dengan sempurna.

Dalam waktu 13 tahun terakhir pula, semakin banyak film Hollywood bahkan Indonesia yang sudah bisa mengikuti kemajuan dengan penggunaan teknologi serupa, dan membuat kehadiran film dengan produksi CGI menjadi hal biasa.

Namun rupanya, Cameron tetap memberikan sentuhan khas tersendiri dalam menghadirkan film lanjutan Avatar, ditambah dengan sentuhan inspirasi dari Indonesia yang berpengaruh dalam keseluruhan film tersebut.

Ketika Masyarakat Bajo Mengikat Manusia dengan Laut Agar Bersaudara

Gambaran kehidupan suku Bajo lewat suku Metkayina

Gambaran tempat tinggal suku Metkayina dan suku Bajo | Kolase: Avatar Wiki Fandom, CarlosAndresLopez/Shutterstock
info gambar

Avatar pada dasarnya merupakan film fiksi-ilmiah yang mengambil latar belakang kehidupan makhluk hidup di planet selain Bumi (Pandora). Makhluk hidup yang dimaksud itulah yang diperkenalkan sebagai Avatar atau suku Na’vi--penduduk planet Pandora yang hidup berdampingan dengan alam di hutan belantara.

Suku Na’vi tersebut mempertahankan tanah tempat tinggalnya, dari umat manusia yang ingin mengeksploitasi planet mereka demi keuntungan materi. Di mana jika dikaitkan dengan kondisi nyata, sebenarnya hal tersebut memang menggambarkan keberadaan masyarakat atau suku adat yang masih bertahan bukan hanya di Indonesia, namun juga berbagai negara.

Pada film keduanya, Cameron melakukan eksplorasi lebih luas. Berpindah dari hutan, latar tempat kini menyuguhkan kehidupan suku Metkayina--suku Na’vi yang hidup di habitat pesisir dan lautan.

Bagian ini yang menarik, Cameron dalam sebuah wawancara yang dimuat pada kanal YouTube National Geographicmengatakan, bahwa sebelumnya mereka telah melakukan riset mendalam ke banyak suku adat/tradisional pesisir di berbagai dunia, termasuk Indonesia.

Kemudian, sutradara Titanic tersebut secara gamblang menjelaskan jika inspirasi mengenai gambaran suku Metkayina, termasuk cara kehidupan mereka terinspirasi dari salah satu suku yang ada di Indonesia, dan menjurus kepada suku Bajo yang hidup di beberapa wilayah perairan Sulawesi.

Wawancara James Cameron | Tangkapan layar YouTube National Geographic
info gambar

“Ada orang laut di Indonesia yang tinggal di rumah yang dirakit sedemikian rupa. Kami melihat beberapa desa berbeda di jalur air laut dengan arsitektur tempat tinggal yang menggunakan pohon lokal, jadi kami terpikir ide berdasarkan arsitektur mereka.” ungkap Cameron.

Dalam Avatar: The Way of Water, memang terlihat jika suku Metkayina hidup di pesisir laut dengan membangun sebuah pemukiman pada pepohonan besar. Jika dilihat dari bentuk yang divisualisasikan dalam film, pohon tersebut nampak menyerupai mangrove dengan ciri khas akarnya.

Apa yang dimaksud oleh Cameron juga menggambarkan karakteristik dan pola pemukiman suku Bajo, yang hidup berdampingan dan memiliki ikatan erat serta tak terpisahkan dengan laut. Mereka menggunakan bahan material dari alam dan memberikan kesan yang menyatu dengan alam.

Untuk diketahui, rumah adat suku Bajo disebut dengan nama 'baboroh' yang memiliki arti bangunan sederhana dengan tiang terbuat dari batang pohon. Untuk penutup dindingnya, biasa terbuat dari anyaman daun kelapa.

Sementara itu dinding papan dan lantainya terbuat dari papan dan balok kayu. Atap rumah suku Bajo juga biasanya menggunakan daun nipa atau yang biasa mereka sebut dengan tuho. Ciri lain adalah tapak tiang rumah yang terbuat dari karang.

Pemilihan karang dilakukan karena bahan tersebut paling tepat untuk rumah masyarakat yang mengapung di atas laut. Sementara tiang-tiang yang menjulang tinggi membuat orang suku Bajo membangun lorong menuju ke halaman rumah sebagai tempat menyandarkan kapal.

Arsitektur Rumah Tradisional Suku Bajo untuk Menghadapi Iklim Tropis

Karakteristik dan gambaran ‘manusia ikan’ suku Bajo dan Metkayina

Gambaran kemampuan menyelam suku Metkayina dan suku Bajo | Kolase: Avatar Wiki Fandom, Bastian AS/Shutterstock
info gambar

Selama ini, beberapa anggota kelompok suku Bajo ada yang dikenal sebagai ‘manusia ikan’. Bukan tanpa alasan, hal tersebut lantaran kemampuan mereka yang unggul dalam hal menyelam melebihi manusia pada umumnya.

Disebutkan bahwa beberapa orang suku Bajo bahkan mampu menyelam hingga kedalaman 60 meter. Tak main-main, dengan kedalaman tersebut ada yang sanggup bertahan hingga 13 menit di dalam air. Padahal untuk manusia normal, rata-rata hanya bisa menahan nafas di dalam air selama 30-60 detik.

Perlu dicatat, bahwa kemampuan tersebut dilakukan dengan tangan kosong tanpa perlengkapan menyelam mumpuni.

Hal itu juga yang nyatanya digambarkan oleh Cameron dalam Avatar. Pasalnya, diceritakan jika suku Metkayina memiliki keunggulan jika dibandingan dengan suku Na’vi biasa, yakni kemampuan menyelam lebih lama di dalam laut.

Dari segi ciri tubuh, digambarkan jika suku Metkayina memiliki ciri berbeda dari Avatar biasa, yakni tangan, kaki, dan ekor yang lebih lebar layaknya sirip, untuk beradaptasi dengan kehidupan laut.

Bagaimana dengan suku Bajo?

Penemuan serupa mengenai karakteristik tubuh yang beradaptasi dengan habitat laut nyatanya juga telah terbukti.

Dalam sebuah jurnal sains yang memuat hasil penelitian seorang ilmuwan bernama Dr. Melissa Ilardo dari Copenhagen University, ditemukan fakta bahwa limpa orang suku Bajo lebih besar 50 persen ketimbang masyarakat di suku terdekat mereka, yakni suku Saluan, yang hidup di darat dan bertahan hidup dengan bertani.

Detailnya, setelah mendapat izin untuk melakukan pemeriksaan langsung menggunakan mesin ultrasonografi portabel kepada para suku Bajo, Dr. Illardo menemukan fakta bahwa baik itu penyelam maupun orang yang bukan penyelam dari suku Bajo memiliki limpa berukuran sama--berbeda dari manusia normal.

Hal tersebut menunjukkan jika perubahan ukuran limpa bukan hanya terjadi pada para penyelam, namun juga seluruh anggota suku. Dan itu lah keunikan dari masyarakat suku Bajo, yang menginspirasi dan menjadi gambaran cerita kuat di film Avatar: The Way of Water garapan James Cameron.

Si Uda, Manusia Ikan dari Suku Bajo Pemilik Genetik Penyelam

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini