Asal Usul Gajah Kerdil dari Kalimantan

Asal Usul Gajah Kerdil dari Kalimantan
info gambar utama

Gajah dikenal sebagai hewan dengan tubuh besar yang memiliki gading dan belalai. Bobot gajah afrika diperkirakan mencapai 6 ton yang artinya hampir sama dengan berat maksimal mobil truk CCD long box. Sedangkan gajah asia beratnya sekitar 4 ton.

Gajah kalimantan atau biasa disebut gajah borneo [Elephasmaximusborneensis] memang unik. Gajah kerdil ini memiliki badan gemuk dengan muka kecil dan bulat, ekornya panjang menyentuh tanah. Tingginya sekitar 2,5 meter dengan berat sekitar 3-5 ton. Satwa ini asli Indonesia, hidup di Kalimantan. Namanya gajah kalimantan [Elephasmaximusborneensis] atau disebut juga gajah borneo yang merupakan subspesies gajah asia.

Latar belakang mengenai gajah terkecil di dunia ini , memang masih misteri. Para ilmuwan tidak yakin kapan tepatnya dan bagaimana gajah ini sampai ke Pulau Kalimantan dari daerah lain di Asia.

Sebuah penyelidikan di 2003 mengenai genetika menunjukkan, gajah ini secara genetik berbeda dari saudara gajah terdekat mereka yang selama 300.000 tahun tiba di Kalimantan atau beberapa saat setelah masa itu. Dugaan lain adalah, mereka merupakan populasi liar yang berasal dari gajah yang telah dibawa oleh manusia beberapa ratus tahun lalu.

Persebaran gajah ini di wilayah utara Kalimantan, yaitu Kalimantan Utara [Indonesia] dan Sabah [Malaysia]. Mereka hidup di ketinggian 300 – 1.500 meter di atas permukaan laut [mdpl], dengan wilayah jelajah 4.000 – 12.000 hektar.

Gajah dan keturunannya di perkebunan kelapa sawit di Kinabatangan. Foto: Rudi Delvaux.
info gambar

Dalam upaya berkembang biak, mamalia berwarna coklat tua hingga abu-abu itu, dapat melahirkan 7 anak dalam hidupnya, dengan 1 anak per waktu kelahiran. Rentang antar kehamilan antara 4-6 tahun, meskipun periode ini dapat diperpanjang ketika kondisi alam sulit, seperti saat musim kering. Masa kehamilan gajah betina antara 19 hingga 22 bulan.

Asal usul

Terkait asal usul gajah kalimantan, ada perdebatan ilmiah menarik yang menarik.

Agus Suyitno, peneliti gajah kalimantan dari Forum Konservasi Gajah Indonesia [FKGI] menjelaskan, upaya konservasi gajah borneo yang merupakan subspesies gajah asia ini dilakukan ketika ditemukan secara fisik di Kalimantan Utara tahun 2005-2006.

Terkait asal-usul gajah borneo, Agus menjelaskan, ada beberapa catatan. Pertama, dari Andau [1985], pada pertengahan abad 17, sebuah perusahaan Inggris di India Timur memberikan beberapa gajah liar ke Sultan Sulu, kemudian dilepaskan di Pantai Timur Sabah, Malaysia, dan berkembang biak hingga saat ini.

Kedua, catatan berbeda dari Corvanich [1995] yang menuliskan pada 1960-an sejumlah gajah dari Thailand didatangkan ke Pantai Timur Sabah untuk digunakan sebagai pengangkut kayu perusahaan.

Ketiga, laporan terbaru “Origin of The Elephant elephas maximus of Borneo” yang diterbitkan Serawak Museum Journal, menunjukkan bahwa tak ada bukti arkeologis mengenai gajah borneo dalam jangka panjang di Pulau Kalimantan.

Usaha memastikan asal-usul gajah borneo pun dilakukan Universitas Columbia dan WWF Malaysia. Mereka mengambil sampel gajah di Sabah untuk diuji DNA. Hasilnya, gajah ini secara genetik berbeda dari subspesies gajah di Sumatera dan daratan Asia lainnya.

Kawanan gajah kalimantan di Sabah. Foto: John C. Cannon/Mongabay
info gambar

Keterangan lainnya, yaitu studi DNA taksonomi yang menyatakan bahwa gajah ini masuk katagori subspesies tersendiri, karena terpisah sekitar 200.000 tahun lampau.

Fakta ini diketahui melalui analisis DNA gajah di Sabah yang menunjukkan bahwa gajah kalimantan merupakan subspesies terpisah dari subspesies gajah lainnya.

Habitat

Di Provinsi Kalimantan Utara, habitat gajah ini berada di wilayah administratif Kabupaten Nunukan, khususnya di aliran Sungai Sebuku, meskipun terkadang, gajah-gajah soliter juga menjelajahi wilayah Sembakung.

Selain itu, ancamannya adalah gangguan yang datang dari manusia seperti pembalakan liar, perburuan, dan penebangan hutan yang sering kali memutuskan interaksi antar subpopulasi gajah. Kondisi tersebut mempersempit kawasan hutan alam tersisa bagi kelompok kecil gajah untuk dapat bertahan hidup.

Habitat terbesarnya dapat ditemui di daerah aliran Sungai Agison dan Sungai Sibuda di bagian barat serta Sungai Apan dan Sungai Tampilon di bagian timur. Kelompok-kelompok gajah kerap ditemui di bagian hulu Sungai Agison dibandingkan bagian tengah atau hilirnya.

Hulu Sungai Agison berada di Sabah, dan pada bagian lembahnya diduga menjadi bagian penting pergerakan gajah dari Sabah ke Sebuku atau sebaliknya.

Perlindungan

Wishu Sukmantoro, Wakil Direktur Forest Wildlife Society mengatakan

perlindungan gajah kerdil ini sudah dicontohkan oleh masyarakat lokal, yaitu Suku Dayak Agabag. Mereka mempunyai kearifan lokal, yaitu menganggap gajah sebagai hewan sakral.

“Mereka menyebut gajah dengan panggilan ‘nenek’. Apabila diperlakukan dengan buruk, dipercaya mendatangkan bala bencana.”

Sesungguhnya sejak 1986, gajah kalimantan digolongkan dalam status Kritis oleh IUCN kemudian dipertahankan statusnya di tahun 2008 sampai saat ini.

Gajah ini juga digolongkan dalam Appendix I CITES, yaitu satwa yang tidak diperbolehkan diperdagangkan termasuk organ-organ tubuhnya.

Pemerintah Indonesia melindungi satwa ini berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, nomor urut 51.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini