Mengenal Rosalinda Delin, Sosok yang Memadamkan Kekeliruan Budaya Panggang Api di NTT

Mengenal Rosalinda Delin, Sosok yang Memadamkan Kekeliruan Budaya Panggang Api di NTT
info gambar utama

Kelahiran bayi merupakan salah satu momen berarti yang terjadi bagi insan manusia. Sebagai negara yang kaya akan budaya, sudah menjadi hal lumrah dan umum diketahui jika Indonesia memiliki ragam tradisi penyambutan atau aktivitas yang dilakukan setiap ada kelahiran bayi.

Sebut saja tradisi Molonthalo dari Gorontalo, Peucicap dari Aceh, Medak Api dari Lombok, dan masih banyak lagi.

Tapi nyatanya, tak semua budaya yang dulunya lumrah dilakukan, masih relevan dan bisa diterima atau dimaklumi dengan baik di masa kini. Salah satunya adalah budaya Panggang Api, yang berasal dari wilayah Nusa Tenggara Timur.

Mengenal Tradisi Molonthalo dalam Menyambut Kelahiran Bayi di Gorontalo

Tentang budaya panggang api di NTT

Bagi masyarakat Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Atupupu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sempat hidup sebuah tradisi atau budaya yang dikenal dengan nama panggang api. Wajib dilakukan, dulunya budaya ini harus dilalui oleh seorang ibu yang baru melahirkan bersama dengan bayinya.

Lebih detail, panggang api adalah kegiatan di mana sang ibu yang baru melahirkan dan bayi, masuk dalam ruangan yang dipenuhi asap dari kayu bakar, sehingga nampak seperti menjalani proses pengasapan. Bukan hanya beberapa jam, hal ini dilakukan selama berhari-hari, ada yang hingga 20 bahkan sampai 42 hari.

Menilik maknanya, dikatakan bahwa menurut pemahaman masyarakat setempat hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengatasi kondisi pegal-pegal pasca melahirkan, dan untuk menghangatkan bayi yang kedinginan.

Namun pada kenyataannya, setelah melakukan tradisi tersebut tak sedikit para ibu yang mengalami anemia, bahkan bayinya yang mengalami gangguan pernapasan.

Peucicap, Upacara Kenalkan Rasa Makanan Pada Bayi Khas Masyarakat Aceh

‘Meluruskan’ budaya ala Rosalinda Delin

Melihat kondisi tersebut, muncullah seorang bidan bernama Rosalinda Delin, yang berinisiatif melakukan perubahan.

Mengutip penjelasannya dari wawancara BBC Indonesia, dikatakan bahwa tradisi tersebut masih bertahan karena memang merupakan tradisi nenek moyang, yang dilakukan secara turun temurun.

Tidak berlangsung mudah, Delin mengaku butuh waktu 10 tahun baginya untuk dapat memberikan pemahaman yang baik dan benar, bagi masyarakat khususnya para ibu di Desa Jenilu. Apalagi, karakter kehidupan mereka yang masih sangat kental akan budaya tradisional.

“Saya terus-menerus ke rumahnya (warga yang menolak), beri penjelasan. Bukan sekali atau dua kali...” jelas Bidan Delin.

Delin mengungkap, sejak bertugas di sana pada Agustus 1999 dirinya menemukan ada lima ibu yang melakukan kebiasaan panggang api. Di saat bersamaan ia memahami, jika hal tersebut bisa terjadi karena masyarakat di sana tidak tahu bahwa kebiasaan tersebut berbahaya bagi kesehatan.

"Untuk ibu biasanya setelah 42 hari mengalami anemia, wajahnya pucat, dehidrasi dan matanya sakit karena asap, sedangkan bayinya susah bernapas, gangguan pernapasan, pneumonia dan gangguan rasa nyaman," ungkapnya, mengutip publikasi di laman Dinas Kesehatan Kota Kupang.

Seiring berjalannya waktu, Delin secara perlahan memberikan pemahaman akan bahaya dari tradisi panggang api dengan cara yang lebih masuk akal. Ia menunjukkan simulasi sederhana menggunakan ikan yang dibakar dengan arang, untuk menganalogikan kondisi ibu dan bayi yang sedang ‘dipanggang’.

“Kita beri penjelasan, apabila manusia dipanggang seperti ikan, maka (cairannya) airnya menetes sedikit-sedikit, hilang, dan kering,” ujar Delin, menirukan perkataannya kepada para warga.

Membuahkan hasil, perlahan warga Desa Jenilu mulai mengerti. Setelahnya bidan Delin memberikan solusi alternatif yang sesuai dengan standar kesehatan untuk menghangatkan bayi, yakni dengan memberikan selimut atau memberikan minyak telon.

Berkat inisiasi lugas dan bermakna yang dilakukan, Rosalinda diganjar penghargaan Srikandi Award 2011, yang dianugerahkan oleh IBI dan Sari Husada. Namanya hingga saat ini juga dikenal sebagai bidan yang memiliki pengaruh besar dan berjasa bagi Indonesia.

Dari Minangkabau hingga Lombok, Ini 3 Tradisi Kelahiran Bayi yang Ada di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini