Menyusuri Pamor Batik Lasem yang Kejayaannya Berpusar Bersama Waktu

Menyusuri Pamor Batik Lasem yang Kejayaannya Berpusar Bersama Waktu
info gambar utama

Bila orang menyebut batik Jawa Tengah orang segera menyebut Solo dan Pekalongan padahal masih ada daerah lain yang juga menghasilkan batik tulis yang tidak kalah indahnya, yaitu Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Batik Lasem bercorak khas, terutama warna merahnya yang menyerupai warna merah darah ayam, yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Kekhasan lain terletak pada coraknya yang merupakan gabungan dari Tionghoa, Keraton, hingga pesisir.

Dalam Babad Lasem karangan Mpu Santibadra tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi, diceritakan Na Li Ni dan Bi Nang Un yang tinggal di Kemandung mengajari perempuan Lasem membatik di Taman Banjarmlati.

“Namun belum ditemukan artefak yang menunjukkan keberadaan batik gaya Champa di masa itu,” tulis Dwi As Setianingsih dan Wisnu Dewabrata dalam Sejarah Batik Lasem: Batik Lasem, Berpusar Bersama Waktu terbitan Kompas.

Memahami Filosofi Batik Parang di Balik Larangan Penggunaannya di Pernikahan Kaesang-Erina

Perdagangan batik mulai dilihat sebagai peluang menguntungkan oleh warga Tionghoa Lasem pada abad ke 18 dan 19. Banyak golongan etnis Tionghoa Lasem yang tertarik terjun sebagai pengusaha batik.

Inger McCabe Elliot dalam buku Batik: Fabled Cloth of Java menulis industri batik di Lasem mengalami kejayaan di penghujung masa peralihan abad ke 20. Batik tulis dan cap diproduksi besar-besaran, terutama oleh pengusaha batik Tionghoa.

“Hingga 1942 tercatat ada ratusan perusahaan batik yang terpusat di kawasan pecinan Lasem,” tulis Inger.

Batik yang tersembunyi

Pada masa booming pedagang batik lasem menikmati keuntungan berlipat. Selain dipasarkan di banyak daerah di Nusantara, antara lain Jambi, Medan, Bali, dan Manado, batik lasem juga diperdagangkan ke luar negeri seperti Singapura, Jepang, dan Suriname.

Dalam Encyclopedie Van Nederlandsch-Indie disebutkan, ekspor terpenting Lasem adalah sarung batik yang dikirim ke Singapura. Pada masa kejayaan batik lasem, hampir setiap rumah tempat tinggal orang Tionghoa merekrut tenaga pembatik dari daerah sekitar.

Di wilayah Lasem, usaha batik tersembunyi di rumah-rumah warga Tionghoa juragan batik kaya yang bangunannya berbentuk rumah besar serba tertutup, berpagar tinggi, dengan pintu masuk kayu besar berukir aksara Tiongkok.

Dwi menyatakan arsitektur bangunan yang serba tertutup itu sekaligus menjadi cara setiap juragan batik melindungi rahasia perusahaan mereka. Kerahasiaan itu terutama terkait teknik pewarnaan, motif, dan cara pembuatan kain-kain batik mereka.

Semarak Piala Dunia 2022, Indonesia Promosi Wisata dan Pamer Batik di Qatar

“Persaingan antar pengusaha batik kala itu konon sangat sengit. Menurut beberapa pengusaha batik lasem, anak atau sanak keluarga pun tak mengetahui teknik pencampuran warna yang digunakan, terutama untuk jenis warna khas batik lasem, seperti merah darah ayam (getih pitik) yang tersohor itu,” jelasnya.

Sigit Witjaksono, pengusaha batik mengatakan tingginya persaingan antar pengusaha batik memunculkan sikap individualistis di antara para pembatik hingga saling mematikan. Peneliti batik lasem, William Kwan menyebut para pengusaha batik saling membajak dengan kasar.

“Mereka menunggu pembatik-pembatik itu di muka pintu juragannya. Katanya, kalau kamu mau ikut aku, upahmu ditambah atau mereka mengiming-imingi dengan menu ayam seminggu sekali. Atau nanti dikasih ceret, mereka juga mau.” jelasnya.

Hilangnya kejayaan

Tetapi kompetisi itu justru menjadi senjata makan tuan yang mengakibatkan jumlah pengusaha batik makin menyusut. Sepanjang tahun 1950-an tercatat ada 140 pengusaha batik lasem, namun dua dekade kemudian, jumlah tingga separuh.

Berdasarkan data Forum Economic Development Rembang yang dirilis situs Yayasan Batik menyebut puncak penyusutan pengusaha batik di Lasem terjadi pada tahun 1980-an yang tersisa hanya tujuh orang.

“Gempuran tekstil bermotif batik pabrikan dan putusnya regenerasi batik menjadi faktor pendukung kemerosotan batik lasem,” tulis laman tersebut.

Berkenalan Dengan Batik Manggur: Ragam Motif dan Eksistensi Identitas Warga Bayuangga

Penetapan Hari Batik pada 2009 sempat mendokrak batik Lasem, namun geliat tersebut tidak bertahan lama. Pemerintah daerah pun berupaya menjaga denyut batik Lasem dengan memfasilitasi dan mendorong kegiatan industri.

Salah satunya batik Lasem diangkat sebagai kurikulum sekolah oleh Pemerintah Kabupaten Rembang. Pengrajin batik Lasem juga dihubungkan dengan desainer untuk mendapatkan pelatihan dan pembinaan.

“Pengembangan batik Lasem menjadi aneka ragam pakaian siap pakai merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan batik Lasem ke khalayak yang lebih luas,” ujar Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Siti Atikoh yang dimuat Liputan6.

Lebih lagi, pengrajin batik Lasem juga ikut pelatihan yang membuatkan suatu merek yang menaungi mereka, Batik Lasemku. Hal ini diperkenalkan pada perhelatan Rembang Fashion Parade pada 2 November 2021.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini