Di Balik Batik Lasem: Kisah Kesetiaan dan Tanda Kepatuhan Seorang Santri

Di Balik Batik Lasem: Kisah Kesetiaan dan Tanda Kepatuhan Seorang Santri
info gambar utama

Kisah perjuangan perempuan-perempuan yang bangkit dari ketertindasan ekonomi terekam dalam lembaran batik. Dari situ juga terjejak kisah tentang etos santri yang selalu patuh kepada junjungannya.

Di Jalan Karangturi Gang 6, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, tujuh perempuan pengobeng (buruh batik) sedang bertekun dengan kesibukan masing-masing. Jari-jari mereka yang mengapit canting lincah menari di atas lembar-lembar kain batik yang baru setengah jadi.

“Etos yang setia merawat daya hidup para perempuan Lasem, yang mencoba bertahan di tengah laju zaman yang gemuruh,” tulis Dwi As Setianingsih dan Wisnu Dewabrata dalam Selisih Batik: Kisah tentang Etos Para Santri terbitan Kompas.

Semarak Piala Dunia 2022, Indonesia Promosi Wisata dan Pamer Batik di Qatar

Salah satunya adalah Batik Nyah Kiok yang dalam satu bulan mereka bisa menyelesaikan 40 lembar kain. Begitu selesai, semuanya langsung dikirim ke Semarang oleh Lasinah, pengobeng yang bertugas mengawasi seluruh aktivitas di sana.

Sejak Nyah Kiok meninggal, usaha batik itu diteruskan keponakan Nyah Kiok yang tinggal di Semarang. Hanya sesekali, keponakan Nyah Kiok datang ke Lasem mengirim bahan-bahan batik. Pencampuran warna yang rahasia pun dikerjakan para pengobeng.

“Para pengobeng biasa mengatur diri sendiri. Mulai bekerja pukul 08.00 dan pulang pukul 15.30. Bersepeda pergi-pulang lebih kurang 30 menit dari rumah mereka yang umumnya di daerah Pancur dan Karanglo,” jelasnya.

Bentuk kepatuhan

Tokoh masyarakat Lasem, H M Zaim Ahmad Ma’shoem (Gus Zaim) menjelaskan hal yang ditunjukan para pengobeng Lasem yang tetap bekerja tanpa keberadaan juragan bukan semata alasan ekonomi.

“Kalau soal ekonomi, jelas. Kalau di sini pertanian maju, pasti batik kalah,” katanya.

Tetapi para pembatik Lasem, jelasnya adalah cerminan etos yang menunjukkan kepatuhan kepada atasan. Dirinya membandingkan kepatuhan ini layaknya seorang TNI dan polisi, bahkan lebih.

Disebutkan oleh Zaim, bila TNI atau polisi diperintah oleh komandannya atau polisi diperintah atasannya. Tetapi yang namanya santri, patuh karena wibawa pimpinannya. Dan Islam, jelasnya mengatur itu dengan kuat.

Memahami Filosofi Batik Parang di Balik Larangan Penggunaannya di Pernikahan Kaesang-Erina

“Mereka yang batik-batik itu kan orang Islam, santri. Kalau malam Sabtu pengajian di sini, orang-orang Pancur yang perempuan pembatik ada yang ikut ngaji di sini. Yang mau saya tekankan adalah mereka ini santri. Mereka tidak harus berada di pesantren, tak harus mondok. Ada juga santri, yang penting dia ikut tokohnya,” tambah pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem.

Sejarawan Rembang, Edi Winarno menambahkan kepatuhan buruh batik di Lasem kepada majikannya muncul karena kebanyakan dari mereka bekerja dengan cara ngawulo. Dulu banyak buruh batik yang tinggal di rumah juragannya.

Para buruh yang umumnya Muslim juga bekerja efisien karena mereka berusaha mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan pesantren. Selain itu, para pembatik biasanya juga mampu memegang rahasia.

“Inilah mengapa selama berabad-abad batik Lasem tetap dikuasai etnis Tionghoa. Salah satunya lantaran rahasia proses batik yang tak pernah bocor,” ucapnya.

Pelestarian

Dicatat oleh Dwi, banyak pengobeng yang menunjukkan etos santri dengan patuh mengabdi berpuluh-tahun di tempat yang sama. Salah satunya adalah Jumiasih yang telah bekerja dan mengabdi di Batik Maranatha sejak umur 12 tahun.

Rusmini salah satu pembatik di Batik Beruang mengungkapkan alasan bertahan sekian lama karena kelonggaran dalam bekerja, bisa absen jika ada perlu dan bisa membawa pulang batik untuk dikerjakan di rumah, membuatnya betah.

“Biasanya saya mbatik di rumah habis shalat Magrib. Di sela-sela makan dan shalat Isya, pukul 22.00 selesai.” ucapnya.

Sementara itu, Munawir Aziz, penulis Lasem Kota Tiongkok Kecil menyebut kelonggaran semacam itu menunjukkan batik lasem tak berwajah industri. Baginya batik lasem lebih pada pelestarian dan tidak terkapitalisasi.

Berkenalan Dengan Batik Manggur: Ragam Motif dan Eksistensi Identitas Warga Bayuangga

Tetapi batik lasem tetap memiliki nilai ekonomi karena orang masih memburunya. Pasalnya orang mencari batik ini karena masih mempertahankan ciri khas tulis dan merah getih pithiknya yang sulit dibuat oleh pembatik daerah lain.

Lasem juga menjadi salah satu daerah penyebaran Islam yang tradisi batiknya masih bertahan. Di Kudus dan Demak mulai muncul juga generasi baru yang bersemangat menghidupkan kembali batik.

“Prinsip mereka, jangan sampai batik kudus punah. Demikian pula di Demak yang masih tertatih-tatih menghidupkan kembali kejayaan batiknya,” papar Dwi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini