Keunikan Atap Rumah Siwaluh Jabu, dari Kepala Kerbau hingga Simbol 5 Marga Suku Karo

Keunikan Atap Rumah Siwaluh Jabu, dari Kepala Kerbau hingga Simbol 5 Marga Suku Karo
info gambar utama

Masyarakat suku Karo di Sumatra Utara memiliki rumah adat bernama Siwaluh Jabu. Aristekturnya sangat sederhana, tapi banyak makna yang tersimpan dalam setiap sudutnya. Masyarakat Karo sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Hal itu tergambar dari pemdirian Siwaluh Jabu yang dilakukan dengan bergotong royong.

Secara harfiah, Siwaluh Jabu berarti rumah delapan. Maksudnya, rumah tersebut dihuni oleh delapan kepala keluarga sesuai tradisi adat Karo yang masih dipegang teguh sampai sekarang. Masing-masing keluarga punya peran sendiri.

Rumah adat Siwaluh Jabu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2013. Namun, sepertinya ia tidak begitu populer di masa sekarang. Keberadaannya pun cukup sulit ditemukan. Rumah ini masih bisa dijumpai di Desa Dokan dan Lingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Selain itu, ada juga di Jalan Bunga Herba 5, Nomor 89, Kota Medan. Di tempat yang kedua ini, Siwaluh Jabu diboyong langsung dari Karo. Usianya sudah lebih dari 120 tahun.

Seperti yang telah dipaparkan, rumah Siwaluh Jabu sangat sarat makna. Beberapa ornamen yang ada, berhubungan dengan adat suku Karo. Salah satu yang paling menarik adalah kepala kerbau yang ditancapkan di ujung atap.

Kabupaten Karo sebagai Sentra Pertanian di Tengah Isu Berkurangnya Minat Jadi Petani

Simbol dalam atap Siwaluh Jabu

Atap rumah adat Siwaluh Jabu terbuat dari ijuk. Bentuknya menyerupai orang yang sedang duduk sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Setiap ujung depan belakang atap yang menjorok ke depan, tertancap kepala kerbau dengan tanduk yang runcing. Bukan tanpa alasan, penempatan hewan karnivora itu melambangkan hubungannya dengan sistem budaya masyarakat Karo.

Kerbau sangat dihargai di tanah Karo, kebanyakan rumah di sana menyimpan tanduk kerbau. Ia dianggap sebagai simbol kemakmuran, bahkan dulu transaksi jual beli diputuskan berdasarkan nilai kerbau. Tak hanya itu, status sosial masyarakat juga dibedakan dari jumlah kerbau yang mereka punyai.

Di samping itu, orang Karo memanfaatkan kerbau sebagai kendaraan untuk mengelola lahan pertanian, sedangkan kotorannya bisa diolah menjadi pupuk. Mamalia itu dikonsumsi dan dijadikan hewan kurban dalam upacara adat pernikahan ataupun kematian.

Kepala kerbau di ujung atap Siwaluh Jabu juga bermakna tolak bala. Masyarakat lokal percaya bahwa mereka akan terlindung dari hal-hal mistis.

Kemudian, ijuk dipilih sebagai bahan pembuat atap guna memberikan kesejukan di dalam rumah. Ia juga sangat efisien, tahan lama, dan ramah lingkungan. Ijuk menyerap panas, sehingga ruangan tetap adem di siang hari. Ia juga mampu menahan hujan.

Ijuk juga menggambarkan kesederhanaan. Dari dulu, masyarakat Karo terbiasa membangun rumah dengan memanfaatkan bahan-bahan dari alam, termasuk ijuk.

Selain kepala kerbau dan ijuk, hal menarik lainnya dari atap Siwaluh Jabu adalah lukisannya yang terbuat dari bahan alami. Warna dalam lukisan itu mempunyai makna Merga Silima, yakni marga induk di dalam suku Karo. Merah melambangkan marga Karokaro, hitam melambangkan marga Sembiring, hijau melambangkan marga Perangin-angin, kuning melambangkan marga Ginting, dan putih melambangkan marga Tarigan.

Selanjutnya, di atap Siwaluh Jabu juga ada pengeretret, semacam pengikat atau pengganti paku. Ornamen yang satu ini berbentuk cicak. Sesuai kepercayaan masyarakat Karo, cicak dianggap mampu menempel dan hidup dimana saja.

Proses pembangunan Siwaluh Jabu

Pembangunan Siwaluh Jabu tidak menggunakan paku. Tiang, kerangka, lantai, dan dinding, dibangun menggunakan kayu. Sementara teras dan langit-langit terbuat dari bambu. Pembuatannya memerlukan waktu hingga berbulan-bulan, bahkan dua tahun karena banyak tahapan dan ritual yang harus dijalani.

Mengutip Pariwisata Indonesia, Sebelum membangun Siwaluh Jabu, pihak keluarga terlebih dahulu mencari letak dan arah rumah dengan bantuan guru si baso atau dukun. Tahap ini dinamakan padi-padiken tapak rumah.

Kemudian, melakukan pemiliihan pohon di hutan dan menentukan tanggal untuk menebangnya, disebut juga ngempak. Lalu, ngerintak kayu, meminta bantuan para warga desa untuk membawa pohon yang telah ditebang. Pihak keluarga akan membagikan sirih dan menggelar acara makan besar bersama warga desa.

Berikutnya pebelit-belitken­, mengumpulkan pekerja untuk menentukan waktu pembangunan dan besaran upah (disembunyikan). Setelah itu, pohon yang ditebang tadi dipahat dan dipotong (mahat) dilanjutkan dengan ngampen, yakni pemasangan balok di bis yang telah dibuat.

Sesudah itu, para pekerja melalukan pemasangan anyaman bambu pada bagian atap (ngampekan ayo). Tahap terakhir, pemasangan tanduk kerbau pada malam hari, yang diyakini sebagai penolak bala.

Kerja Tahun, Pesta Tahunan Suku Karo

Ruang-ruang di Siwaluh Jabu

Jika ingin masuk ke dalam rumah Siwaluh Jabu, orang harus menundukkan tubuh mereka karena pintu yang dibuat berukuran kecil. Hal ini menyimbolkan penghormatan kepada pemilik rumah. Di setiap ruangan, terdapat jendela untuk menjaga sirkulasi udara dan pencahayaan.

Ruang-ruang di Siwaluh Jabu terbagi ke dalam empat bagian. Pertama, kolong yang digunakan orang Karo zaman dulu untuk memelihara hewan ternak. Namun, untuk menjaga kesehatan penghuni rumah, kini ternak diletakkan di kandang yang jaraknya agak jauh.

Kedua, ruang tengah atau inti rumah. Di sinilah para penghuni melakukan aktivitas, mulai dari memasak, makan, hingga tidur. Kedua sisi bagian ini memiliki 8 ruangan yang dipisahkan oleh sekat dan ditutup kain. Tiap dua ruangan mempunyai satu dapur di depan. Masing-masingnya dapat digunakan oleh dua keluarga.

Ketiga, bagian atas, digunakan untuk menyimpan cadangan kayu bakar untuk memasak. Keempat, ture atau teras. Terletak di depan atau belakang. Para wanita biasanya mengisi waktu kosong dengan menganyang tikar di teras.

Nikmatnya Perasan Rumput Lambung Sapi, Bahan Baku Soto Trites Khas Karo

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini