Segera Ditutup, Inilah Sekilas Perjalanan RSDC Wisma Atlet dalam Memberantas Covid-19

Segera Ditutup, Inilah Sekilas Perjalanan RSDC Wisma Atlet dalam Memberantas Covid-19
info gambar utama

Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet sebentar lagi akan ditutup. Sebanyak 6 dari 7 tower yang digunakan untuk menangani kasus Covid-19 bakal berhenti beroperasi pada 31 Desember 2022, bertepatan dengan akhir masa pinjam. Oleh sebab itu, hak pengelolaan dengan segala aset di dalamnya, dikembalikan lagi kepada Kementerian PUPR setelah mendapat instruksi presiden. Satu tower akan tetap dibuka hingga Maret 2023 sebagai antisipasi kondisi darurat. Operasional tower tersebut dipercayakan kepada Pusat Kesehatan Mabes TNI.

Pihak pengelola sebetulnya sudah cukup lama hanya membuka satu tower untuk pelayanan pasien. Hal ini dikarenakan dalam 3 bulan terakhir, jumlah pasien di Wisma Atlet terus menurun, sehingga hampir semua tower kosong, bahkan kemarin tinggal empat orang yang dirawat di sana. Situasi ini menunjukkan keberhasilan pemberantasan pandemi Covid-19 di Indonesia. Namun, di sisi lain, banyak petugas medis yang kebingungan mencari pekerjaan pengganti.

Angka Covid-19 yang terus merosot, wacana Indonesia menuju endemi, serta penghentian PPKM, mengiringi Wisma Atlet mengakhiri tugasnya karena tak ada lagi aktivitas terkait pertolongan pasien Covid-19. Para tenaga medis dan lainnya juga terpaksa menemukan pekerjaan baru.

Dua tahun lebih Wisma Atlet memerangi pandemi. Berikut kami rangkum sekilas perjalanan Wisma Atlet sebagai rumah sakit darurat Covid-19.

Moristin, Body Lotion Alami Ciptaan Mahasiswa UB Guna Cegah Covid-19

Kilas balik RSDC Wisma Atlet

Wisma Atlet yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta, sesungguhnya adalah fasilitas penginapan untuk para atlet Asian Games 2018. Namun, seiring waktu Covid-19 pun memasuki Indonesia, tak berselang lama jumlah penderitanya terus melonjak. Kondisi ini mendorong pemerintah mengalihfungsikannya menjadi RSDC dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 23 Maret 2020.

Gedung itu memiliki 10 tower dengan kapasitas 24.000 orang. Namun, yang dijadikan rumah sakit hanya 7 tower dengan total daya tampung 12.000 orang. RSDC ini dilengkapi fasilitas isolasi mandiri dan kamar tidur pasien sebanyak 7.894 unit, sisanya untuk tenaga medis, satpam, dan lainnya.

Pada hari pertama pembukaan, tenaga kesehatan (nakes) Wisma Atlet langsung menampung 411 pasien rawat inap. Angka itu terus bertambah. Apalagi tempat ini menjadi RS rujukan faskes se-DKI Jakarta.

Selama lebih dari dua tahun, para petugas berjibaku pagi hingga malam, menolong ratusan sampai ribuan pasien setiap hari.

Lonjakan terparah pernah terjadi pada Juni 2021. Pasien lama yang masih positif diminta pulang dan isoman di rumah karena Wisma Atlet penuh. Sebanyak 2.000 unit tempat tidur telah ditambahkan, namun masih saja kurang karena jumlah pasien masuk lebih banyak dibandingkan yang keluar.

Kemudian, pandemi Covid-19 mencapai puncaknya pada pertengahan 2021 hingga awal 2022. Jumlah pasien positif selalu lebih banyak dari yang sembuh dan negatif. Kepadatan kapasitas rumah sakit terjadi di mana-mana, termasuk di Wisma Atlet. Pasien yang harus dirawat di sini pernah berjumlah 8.000 orang, sementara kamar tidur yang tersedia hanya 7.800 unit.

Situasi semakin tak terkendali. Ratusan orang meninggal setiap harinya karena virus ini, termasuk perawat. Para nakes harus bekerja ekstra untuk menyembuhkan pasien dan menurunkan angka Covid-19. Situasi sulit ini juga berdampak pada mereka yang menjadi garda terdepan penanganan pandemi. Kebanyakan dari mereka ikut meninggal dalam bertugas karena terjangkit virus dan kelelahan.

Hal tersebut terjadi juga di Wisma Atlet. Setelah setahun beroperasi, untuk pertama kalinya seorang nakes di RSDC Wisma Atlet dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan seminggu di ICU. Dia sempat koma akibat positif Covid-19 dan masalah kesehatan lainnya, hingga akhirnya tak dapat diselamatkan..

Pada Agustus 2021, Wisma Atlet sempat di-lockdown gara-gara Omicron pertama terdeteksi dalam tubuh seorang petugas kebersihan. Selama 7-10 hari, para pasien yang telah dinyatakan sembuh, tidak diizinkan pulang.

Setelah itu, memasuki gelombang ketiga pada bulan Desember 2021, Wisma Atlet kian disibukkan oleh peningkatan pasien Covid-19 varian Omicron. Saat itu, pasien harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan kamar isolasi.

Wisma Atlet dan seluruh tenaga medis di dalamnya, telah berjasa sangat besar dalam memerangi pandemi Covid-19 yang dulu rasanya seperti tak akan berakhir. Tapi ternyata, sejak bulan November 2022, jumlah pasien di Wisma Atlet tak pernah lebih dari 50 orang dan turun terus setiap minggu. Sampai akhirnya, kini hanya empat orang yang tersisa. Wisma Atlet menunggu waktu untuk kosong. Setelah dinyatakan sembuh, keempat pasien itu pun pasti akan meninggalkan rumah sakit ini.

Masa pinjam Wisma Atlet sebagai rumah sakit darurat memang hampir berakhir. Namun, apakah dia dikembalikan lagi sebagai rumah susun atau tetap menjadi rumah sakit, semua itu tergantung instruksi Presiden Joko Widodo.

Bangkitnya Bali Pasca Pandemi COVID-19

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini