Wajib Tahu, Ini Perkembangan Asyik Pengelolaan Sampah Plastik Indonesia di Masa Kini

Wajib Tahu, Ini Perkembangan Asyik Pengelolaan Sampah Plastik Indonesia di Masa Kini
info gambar utama

Saat ini hingga beberapa waktu ke depan, persoalan sampah masih jadi hal yang tak pernah kehilangan tempat sebagai pembahasan penting di tengah masyarakat. Karena pada dasarnya, diakui atau tidak sampah telah dan akan terus menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan.

Tanpa perlu mengulas lebih dalam, hampir sebagian besar masyarakat pastinya sudah paham dengan baik seperti apa dampak dari keberadaan sampah yang tak terkelola dalam kehidupan, baik untuk manusia dan lingkungan.

Meski lebih identik dengan konotasi negatif, ternyata ada sisi lain dari sampah yang dapat membuat keberadaannya lebih bernilai.

Benarkah demikian? Hal tersebut yang nyatanya disampaikan oleh Febriadi Pratama, selaku CEO Gringgo, sebuah startup lingkungan yang menghadirkan platform pengelolaan sampah terintegrasi di Indonesia.

Dalam acara Talkshow ‘Good Movement’ dari Good News From Indonesia (GNFI), bertajuk Belajar Asyik Kelola Sampah Plastik, pada Selasa (20/12/2022), Febriadi menjelaskan, bagaimana sampah plastik bisa memiliki nilai yang berarti, jika pengelolaannya dilakukan dengan baik.

Canggih dan Inovatif, Mahasiswa ITB Rancang Pengubah Sampah Plastik Menjadi Listrik

Misi edukasi masyarakat soal pengelolaan sampah

Ilustrasi | Ridwan Zulfirman/Shutterstock
info gambar

Febriadi memaparkan, jika ada beberapa kondisi yang sebenarnya masih jadi tantangan dari pengelolaan dan penindakan sampah di Indonesia. Adapun tantangan yang dimaksud adalah kesadaran masyarakat mengenai bagaimana cara penindakan yang baik dan benar akan sampah yang dihasilkan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Febriadi dan Gringgo menghadirkan salah satu sistem bernama SWAI dalam platform yang mereka kelola, untuk dapat digunakan masyarakat dan membangun awareness mengenai karakteristik sampah, termasuk upaya penindakannya.

“Kita membangun awareness untuk masyarakat, kita ngeluarin misi setiap minggunya yang bisa dilakukan pengguna di mana mereka bisa dapat poin dan di-reedem (tukar) dengan hadiah” ujar Febri.

Ada dua hal yang menurut Febri masih diperlukan peningkatan kesadarannya mengenai pengelolaan sampah dari masyarakat.

Pertama, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui perbedaan sampah organik dan non-organik. Kedua yang nampaknya sepele dan belum banyak disadari, ternyata belum semua orang paham jika pada jenis sampah plastik seperti botol misalnya, ada beberapa jenis materil pembuat dan pembentuk yang membuat tiap jenisnya berbeda dan perlu mendapat penanganan berbeda pula.

“Hal-hal seperti itu yang mau kita coba bangun awareness-nya sambil mereka ikut melakukan misi pengumpulan sampah. Harapannya adalah ketika awareness itu terbangun, pada saat infrastruktur masuk, orang sudah paham dan edukasinya sudah ada dan tinggal diimplementasi saja” jelas Febri lagi.

Berkat Air Liur Cacing, Benarkah Masalah Sampah Plastik di Bumi Bisa Teratasi?

Dukungan untuk penggerak pengelola sampah

Membahas lebih lanjut soal pengelolaan sampah ke cakupan yang lebih luas, Febri menjelaskan tentang bagaimana Gringgo memfasilitasi para penggerak atau inisiator di bidang pengelolaan sampah (waste management), yang selama ini sudah memberikan kontribusi berarti tapi belum terekspos atau terfasilitasi dengan baik.

“Inisiatif-inisiatif (pengelolaan sampah) ini ada yang memang sudah besar, ada yang kecil, baru mulai, atau hanya aktivitas komunal saja, mereka semua fokus di lapangan, kita connect dengan mereka, kita bantu supaya bisa menambah nilai tambah bagi teman-teman di lapangan ini” jelasnya.

Maksudnya, Febri memaparkan ketika Gringgo membantu partner atau teman-teman inisiator pengelola sampah di lapangan, mereka bisa berkembang dan melakukan evaluasi terhadap kekurangan yang dimiliki.

“Selain mereka dapat digitalisasi, kita juga bisa kasih liat pengelolaan sampah mana yang belum ter­-cover di jangkauan mereka” tambah Febri.

Dengan adanya sinergi pengelolaan sampah yang melibatkan semua pihak ini, Febri berharap ke depannya akan membentuk partisipasi publik secara mandiri, yang mendorong pemerintah untuk membangun infrastruktur, sistem, dan kebijakan dalam pengelolaan sampah di Indonesia.

Misalnya, ketika masyarakat sudah bisa membedakan jenis sampah botol plastik, pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan bagi produsen kemasan air minum untuk menjalani sirkular ekonomi dalam bentuk pengambilan jumlah sampah kemasan yang dipakai masyarakat dari produk mereka, dengan jumlah yang sama dengan produk yang dihasilkan.

Salah satu kebijakan yang dimaksud adalah Permen LHK No. 75 tahun 2019, yang membahas mengenai peta jalan untuk para produsen barang Fast Moving Consumer Good (FMCG), dan akhirnya menciptakan siklus ekonomi sendiri.

“Sekarang kalau misal kita lihat, sudah hampir tidak ada botol plastik (PET) di tempat sampah, kenapa? Karena berangkat dari partisipasi publik dan membuat terciptanya kebijakan itu (Permen LHK No. 75), produsen mulai menarik lagi sampah botol plastik mereka, dan banyak orang (masyarakat) mau mengumpulkan sampah itu entah dijual, donasi, dan semacamnya.” pungkas Febri.

Ecobrick, Inovasi Mengubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bangunan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini