Cerita Sutomo Manfaatkan Lahan Tidur di Ibu Kota Jadi Lahan Urban Farming Produktif

Cerita Sutomo Manfaatkan Lahan Tidur di Ibu Kota Jadi Lahan Urban Farming Produktif
info gambar utama

Kawasan Ibu Kota yang padat penduduk, apalagi identik dengan bangunan gedung tinggi yang menjulang selama ini banyak dianggap sudah minim memiliki lahan hijau yang berisfat produktif, terutama yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Tapi nyatanya, anggapan tersebut dipatahkan oleh beberapa sosok yang berhasil membuktikan jik masih ada potensi dan peluang menggarap lahan produktif di kawasan Ibu Kota Jakarta.

Sebelumnya, GNFI pernah mengulas mengenai kisah Ahmad Fahrizal, petani muda yang melestarikan varietas alpukat asli Jakarta, dan berhasil menjaga budidaya di tanah aslinya hingga saat ini.

Tak jauh beda dengan Fahrizal, di saat bersamaan rupanya ada sosok lain yang juga melakukan hal serupa, bahkan dengan cakupan jenis pangan yang lebih luas, yakni seorang pria lanjut usia bernama Sutomo.

Ya, tak main-main, bukan kalangan pemuda atau pria di usia produktif, sosok yang menghadirkan upaya yang dimaksud diketahui berusia 69 tahun.

Ahmad Fahrizal, Petani Muda Pelestari Varietas Alpukat Asli Jakarta

Mengisi masa pensiun

Sutomo | Dwi Rachmawati/Sariagri
info gambar

Sutomo adalah sosok pria paruh baya yang hidup di wilayah perkotaan Jakarta, tepatnya di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Akrab disapa dengan sebutan Tomo, alih-alih berhenti beraktivitas berat dari pekerjaan yang biasa dilakukan saat masih di usia produktif, pria ini memilih melakukan menggarap sebuah kebun organik di sebuah lahan kosong dekat pemukimannya.

Inisiatif Tomo mendirikan kebun organik ternyata berangkat dari ingatan masa kecil selama hidup di kampung halaman Tuban, Jawa Timur. Dirinya memang bukan warga asli Ibu Kota, melainkan perantau yang pada dasarnya sama sekali bukan bekerja sebagai petani.

Setelah pensiun, Tono mengaku termasuk salah satu orang yang tidak bisa diam tanpa melakukan aktivitas sehari-hari.

"Saya ini orangnya aktif, kalau diam saya malah stres. Tapi kalau saya bergerak justru muncul inovasi dan ide untuk berkreasi," ujarnya, mengutip Sari Agri.

Tomo akhirnya memutuskan untuk menggarap sebuah lahan dekat rumah susun tempat ia tinggal bersama anak dan cucunya menjadi kebun organik. Terlebih, pada saat awal pandemi di tahun 2020 lalu, Tomo juga mengungkap jika ingin menyediakan lahan terbuka hijau untuk sang cucu bermain dan menyegarkan pikiran.

"Tujuan awal saya berkebun itu adalah untuk dikonsumsi saja bukan dikomersilkan.” tambahnya lagi.

5 Ritual Petani Sambut Musim Panen di Indonesia, dari Batak hingga Manggarai Timur

Manfaatkan lahan terbengkalai dan berguna untuk orang lain

Di kawasan Rumah Susun Samawa, Pondok Kelapa, ada sepetak lahan dengan luas tidak lebih dari 200 meter yang terbengkalai atau menjadi lahan mati. Tomo kemudian berinisiatif membersihkan lahan tersebut, dan menyulapnya menjadi kebun organik.

Beragam jenis tanaman pertanian ada di kebun itu, mulai dari jagung, terong ungu, terong putih, kangkung, singkong, caisim, pakcoy, gambas, labu, kemangi, dan pepaya tumbuh subur.

Selain itu dirinya juga menanam sejumlah tanaman rempah dan herbal di bagian sudut kebun seperti jahe merah, kunyit, kencur, kunci, kunyit putih, kumis kucing, telang, lengkuas dan temulawak.

Mengaku senang akan berubahnya lahan terbengkalai yang saat ini berubah menjadi lahan produktif, Tomo juga merasa terhibur jika ada orang lain yang sekadar berkunjung untuk melihat-lihat kebun organik tersebut.

"Saya tidak digaji di sini, menjual pun tidak, mereka datang ke sini senang melihat tempatnya adem saja saya juga sudah ikut senang," paparnya lagi.

Tomo mengungkap, bahwa awalnya ia sempat kesulitan mendapat bibit dan benih tanaman pangan dan hortikultura yang cocok untuk kebun organik. Lain itu, kesulitan juga dihadapi dari segi pemupukan.

Beruntung ia kerap dibantu baik dalam hal perawatan kebun atau pengolahan pupuk oleh warga setempat, dalam hal ini Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Ia dibantu untuk membuat pupuk kompos dari sisa-sisa tanaman di kebun dan limbah ikan dari Pokdakan tersebut.

"Saya senang melakukan beragam ide bertani dan budidaya ikan bersama anggota Samawa Fish. Berharap lahan ini bisa tetap dipertahankan menjadi ruang hijau bagi warga di sini," paparnya.

Raih Omzet Ratusan Juta, Ini 3 Sosok Petani Muda Sukses di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini