Heru Susilarto, Sang Pembuat Keris dari Magelang

Heru Susilarto, Sang Pembuat Keris dari Magelang
info gambar utama

Senjata tradisional ini pasti bukan hal yang asing lagi di telinga Anda, yaitu keris. Warisan budaya tak benda UNESCO ini memang sangat populer. Bahkan tak hanya di pulau Jawa, keris juga ada terdapat di beberapa daerah di Indonesia.

Selain menjadi senjata, dulu benda ini juga menjadi identitas status sosial serta pelengkap ritual adat. Namun, kini keris juga berfungsi sebagai benda seni yang dijadikan koleksi oleh para pecintanya.

Empu, begitulah gelar yang diberikan kepada orang-orang yang membuat keris. Untuk membuatnya,tentu perlu keahlian tinggi dan mengenai seluk beluk dari sebuah keris.

Memang, sekarang pembuat keris tidaklah banyak. Namun, ada empu pengrajin keris yang masih terus melestarikan kerajinan seni tempa logam ini. Ia adalah Heru Susilarto. Atau para pecinta keris biasa memanggilnya dengan sebutan ‘Heru Nglawisan’.

Seniman pengrajin keris ini berasal dari kota Magelang. Sesuai dengan nama panggilannya, sehari-hari ia menggarap keris di rumahnya yang berada d Dusun Nglawisan, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

Museum Tosan Aji dan Upaya Merawat Keris Berusia Ratusan Tahun

Empu yang otodidak

Heru Susilarto | Penggarap Keris Top
info gambar

Mungkin yang Anda tahu, pembuat keris biasanya adalah keturunan dari empu-empu di zaman dahulu, maka tidak dengan Heru. Ia bukanlah keturunan kerajaan atau empu terdahulu.

Semua keahlian membuat keris ini benar-benar ia pelajari secara otodidak. Minatnya pada keris sendiri tidak terlepas dari kecintaannya terhadap karya seni dan barang antik.

Pembuatan keris dari awal hingga akhir melewati proses yang cukup panjang. Mulai dari penempaan hingga penggarapan bentuk. Setiap tahap ini dilakukan oleh orang yang berbeda-beda.

Untuk penempaan, Heru tidak melakukannya. Ia menyerahkannya kepada orang lain. Meskipun begitu, ia juga tetap menguasai teknik penempaan dari awal hingga akhir.

Dalam pemilihan materialnya, ia juga berusaha memanfaatkan berbagai material yang ada di sekitar. Misalnya untuk bahan nikel, heru bisa mengambilnya dari knalpot yang sudah tak terpakai.

Baginya, kualitasnya tak jauh berbeda. Tergantung dari keahlian penempa. Alat-alat yang heru gunakan juga sudah modern.

Desa Aeng Tong-Tong, Kampung Perajin Keris Terbanyak di Dunia

Mengedepankan rasionalitas

Keris buatan Heru Susilarto | Penggarap Keris Top
info gambar

Hal lain yang membedakan empu yang satu ini yaitu mengandalkan rasionalitas ketika membuat keris. Segala tahap pembuatan keris tidak lepas dari hal-hal yang ilmiah, misalnya dari segi sudut pandang ilmu fisika atau kimia dalam konteks metalurgi yang juga berpadu dengan nilai-nilai seni.

Memang, berbagai anjuran yang berbau mistis atau klenik tidak Heru lakukan. Dalam pandangan Heru, daya tarik utama keris adalah nilai seninya sebagai kerajinan tempa logam.

Meskipun begitu, ia tetap menghargai tradisi kuno tersebut hanya sebagai hasil budaya di masa lalu, namun tidak untuk menerapkannya. Lalu, sesuai dengan kepercayaannya, ia juga tidak menerima pesanan keris yang memiliki motif makhluk bernyawa secara penuh.

Dalam pembuatan sebilah keris, Heru mengerjakannya sesuai dengan suasana hati. Baginya, ini adalah hal yang sangat penting ketika membuat karya seni seperti keris.

Bila ia memaksakannya ketika suasana hati tidak baik, maka hasilnya pun tak akan maksimal. Jadi, pelanggan tidak bisa menentukan waktu untuk keris pesanannya selesai. Semuanya tergantung kepada sang empu.

Kalau hendak memesan, setidaknya pembeli harus menyiapkan uang 10 juta rupiah untuk keris tanpa rangka. Uang muka sebesar 50% pun harus diserahkan di awal.

Sejak tahun 1997 hingga sekarang, sudah ada ratusan keris yang ia buat. Pembelinya pun berasal dari berbagai kalangan dan wilayah di seluruh Indonesia. Tak jarang, heru juga menerima pesanan dari luar negeri.

Ia juga bisa membuatkan sertifikat bagi pemesan yang menginginkannya sebagai tanda kepemilikan.

Profesi pembuat keris memanglah unik dan langka. Setidaknya, setiap daerah harus memiliki masing-masing empu. Hal itulah yang menjadi harapan besar dari heru.

Sebagai warisan tak benda dunia, menurutnya, generasi muda harus lebih mengenal keris supaya kerajinan ini bisa dikenal oleh generasi selanjutnya.

Bukan Hanya Keris, Inilah Senjata-Senjata Tradisional Untuk Membela Diri Pada Jaman Dulu (Bag. 1)

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini