Rekam Jejak Masyarakat Jawa yang Hidupi Perkebunan Teh di Sumsel

Rekam Jejak Masyarakat Jawa yang Hidupi Perkebunan Teh di Sumsel
info gambar utama

Kabut tebal masih menyelimuti lereng Gunung Dempo di Pagar Alam, Sumatra Selatan (Sumsel). Satu persatu perempuan paruh baya turun dari objek sepeda motor yang membawa mereka dari kaki gunung,

Dengan bergegas, mereka menuju pohon penanda di salah satu perkebunan teh Pagar Alam. Kerut di wajah yang tertutupi bedak tebal dan gincu merah tak mengurangi kegesitan dan kecerian mereka.

Udara dingin dan jalanan basah sisa hujan lebat malam sebelumnya tak menghalangi langkah mereka. Segera mereka duduk jongkok bergerombol di pinggir jalan. Bungkusan plastik berisi bekal sarapan pagi pun dibuka.

Mulai dari sayur daun singkong, sambal goreng kentang dan tahu, serta kerupuk singkong menjadi pelengkap nasi porsi jumbo milik mereka. Masakan itu telah mereka masak sejak pukul empat pagi.

Di sela-sela sarapan, sapa dan canda dalam bahasa Jawa meningkahi obrolan mereka. Walau mereka lahir, tinggal dan bekerja di pedalaman Sumatra, mereka masih fasih untuk berbahasa Jawa.

Dari Balik Keharuman Minuman Teh: Cerita Panjang Pencicip dari Wonosari

Tetapi saat ditanya asal mereka, mereka dengan tegas mengatakan orang Pagar Alam. Budaya dan tutur bahasa mereka memang Jawa, karena sesuai dengan yang diajarkan orang tua mereka.

“Rata-rata para pemetik itu adalah generasi kedua kuli perkebunan teh Pagar Alam yang didatangkan Belanda dari Jawa,” tulis Kompas dalam Pemetik Teh: Dari Jawa Membangun Sumatra.

Mereka yang tersisa

Sriatun, perempuan kelahiran Kediri, Jawa Timur mengaku datang ke Pagar Alam pada 1965 mengikuti orang tuanya yang bekerja di perkebunan teh. Ketika kontrak kerja selama lima tahun usai, pengerah tenaga kerja yang membawa mereka sudah pergi.

Namun Sriatun bersama orang tuanya tetap menetap di pagar alam dan turun temurun menjadi pekerja pekerja perkebunan teh. Para pekerja asal Jawa-lah yang menjadi tulang punggung perkebunan.

Menurut Partiyem, bekerja sebagai pemetik teh adalah satu-satunya pilihan mereka. Meskipun digaji tidak terlalu besar, mereka masih mendapat kemudahan-kemudahan lain dari perusahaan, seperti perumahan dan listrik.

Emas Hijau Priangan: Romansa Kebun Teh Rakyat Pewaris Jejak Kejayaan

Tetapi mekanisasi pemetikan teh telah membuat jumlah pemetik teh berkurang drastis. Sebelum mekanisasi pemetikan teh terdapat sekitar 1.000 orang pemetik. Kini hanya sekitar 650 orang.

Meskipun terancam, sulit bagi pekerja perkebunan yang merupakan warga perantauan Jawa untuk kembali ke kampung halaman. Mereka mengaku sudah menyatu dengan masyarakat dan kultur daerah tempat mereka berada saat ini.

“Sudah tidak ada saudara di Jawa. Semua ada di sini. Pulang ke Jawa juga sudah sangat jarang,” jelas Sriatun.

Dari Jawa

Guru Besar Sosiologi Universitas Sriwijaya, Waspodo mengatakan masyarakat Jawa yang umumnya didatangkan Belanda sebagai buruh perkebunan atau lewat program transmigrasi, bisa bertahan hidup di daerah orang karena budayanya.

Dijelaskannya orang Jawa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan budaya di mana mereka berada, hidup berdampingan dengan masyarakat setempat, sembari tidak melupakan budaya asalnya.

Sikap adaptif masyarakat Jawa di Sumsel itu juga disebabkan oleh adanya kebutuhan sebagai warga pendatang. Karena butuh, mereka mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus bisa menghargai dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempatnya kini berada.

Semerbak Teh, Mimpi yang Pernah Indah bagi Warga Priangan

“Masyarakat Jawa memiliki budaya empan papan atau menyesuaikan diri dengan kondisi di mana kini dia hidup, serta filsafat dan naluri untuk bertahan di mana pun dia berada. Nilai ini merupakan ajaran leluhur yang disebarkan sejak zaman penyebaran Islam oleh para Wali Songo,” kata Waspodo.

Hal ini juga berdampak terhadap masyarakat lokal di Pagar Alam yang bisa menerima orang Jawa hingga kini. Disebutkan oleh Waspodo, jumlah orang Jawa di sana diperkirakan mencapai 35-40 persen.

Besarnya jumlah penduduk itu, memiliki makna besar dalam politik. Namun Waspodo menyadari untuk menduduki jabatan politik tertinggi di suatu daerah masih sulit untuk diwujudkan.

“Masyarakat Jawa hanya ingin dihargai berdasarkan profesionalitasnya, bukan dilihat berdasarkan etnisnya. Masyarakat Jawa juga mampu memberikan sumbangan bagi pembangunan dan kemajuan di Sumsel,” ungkapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini