Mengenal 5 Sistem Hidroponik untuk Rumah, Wajib Kawan Coba!

Mengenal 5 Sistem Hidroponik untuk Rumah, Wajib Kawan Coba!
info gambar utama

Seiring perkembangan zaman, cara budidaya tanaman semakin beragam. Salah satunya adalah dengan sistem hidroponik. Mungkin, sebagian besar Kawan berpikir bahwa menanam harus membutuhkan tanah.

Hal ini berbeda dengan sistem hidroponik. Mengapa demikian? Dilansir dari Gramedia Blog, hidroponik adalah teknik atau sistem penanaman dengan media air sebagai unsur haranya. Teknik ini memiliki kelebihan, yakni mengurangi biaya dan menghemat lahan.

Hidroponik jugadiklaim sebagai media bebas kotorkarena tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Jadi, Kawan bisa mendapat waktu panen lebih cepat karena dukungan air terhadap tanaman. Tidak heran, hasil panen dari sistem hidroponik dihargai lebih mahal daripada tanaman dari hasil panen konvensional.

Setelah mengetahui keunggulannya, Kawan mungkin tertarik untuk mencoba hidroponik di rumah. Pastinya, sistem penanaman ini tidak bisa diterapkan sembarangan. Ada beberapa teknik hidroponik yang bisa Kawan coba di rumah, apa saja itu?

1. Sistem Drip

Sistem Drip
info gambar

Sistem drip (dip system) sering dipakai oleh petani hidroponik. Secara ringkas, teknik ini menggunakan sistem irigasi tetes untuk disalurkan kepada akar-akar tanaman. Tetesan tersebut harus mengandung nutrisi yang baik untuk tanaman.

Penyaluran nutrisi tanaman menggunakan selang irigasi dibantu dengan dripper. Alat ini juga dilengkapi dengan pengatur waktu atau timer. Untuk media tanam, Kawan bisa menggunakan batu apung, zeolit, sekam bakar, atau serabut kelapa. Media tanam tersebut berfungsi sebagai tempat perkembangan akar dan memperkokoh tanaman.

Perlu Kawan ketahui, drip system ini bisa digunakan untuk tanaman tomat, terung, melon, paprika, dan stroberi. Kelebihan dari sistem ini adalah Kawan bisa menghemat biaya pemupukan. Kira-kira, Kawan ingin menanam apa dengan drip system?

Baca juga: 5 Aneka Plastik Ramah Lingkungan, Ada yang dari Sisik Ikan

2. Sistem Sumbu

Sistem Sumbu
info gambar

Sistem sumbu atau wick system merupakan teknik yang terbilang sederhana di dalam sistem hidroponik. Pasalnya, teknik ini memberikan nutrisi pada akar-akar tanaman melalui media berupa sumbu. Untuk media sumbu, Kawan bisa menggunakan sabut kelapa, rockwool, arang sekam, dan media penopang selain tanah.

Bagi Kawan yang tertarik metode ini, Kawan bisa menyiapkan botol-botol bekas yang berisi nutrisi untuk tanaman. Kemudian, Kawan bisa mengisi media tanam dan bibit tanamannya. Nutrisi dari botol bekas tersebut akan diserap ke dalam media tanam sehingga menumbuhkan bibit tanaman.

Tambahan, prinsip kerja dari wick system adalah kapilaritas, yaitu menggunakan sumbu atau jembatan pengalir nutrisi pada akar tanaman. Kawan juga bisa menggunakan kain flanel sebagai jembatan tersebut.

Baca juga: Biji Kopi Atasi Masalah Kemiskinan di Lereng Gunung Argopuro

3. Sistem Rakit Apung

Sistem Rakit Apung
info gambar

Sistem rakit apung juga terbilang sistem sederhana yang bisa Kawan coba di rumah. Dalam praktiknya, Kawan bisa menyiapkan wadah dari bahan plastik, hydrofoam atau aerator. Dilansir dari defturefarmer.id, prinsip kerja dari sistem ini hampir sama dengan sistem sumbu. Bedanya adalah sistem rakit apung tidak membutuhkan sumbu sebagai penyalur nutrisi.

Namun, media tanam langsung menyentuh air dengan akar tanamannya. Wadah tanam langsung mengapung di atas air yang berisi nutrisi. Dengan demikian, Kawan membutuhkan air nutrisi lebih banyak daripada air nutrisi saat sistem sumbu. Sistem rakit apung cocok untuk Kawan yang ingin mengembangkan bisnis tanaman dengan sistem hidroponik.

4. Sistem Pasang Surut

Sistem Pasang Surut
info gambar

Apakah penanamannya langsung di laut? Tentu tidak. Sistem pasang surut tetap bisa dilakukan di rumah Kawan. Dilansir dari 99.co, sistem pasang surut adalah sistem atau metode hidroponik yang membanjiri wadah tanaman dalam periode tertentu.

Proses pembanjiran air nutrisi dibantu oleh pompa air. Proses terseut akan dilakukan di waktu tertentu (umumnya pagi hari) dengan durasi tertentu. Setelah proses selesai, air nutrisi akan menyurut dengan sendirinya. Maka dari itu, peran pompa air sangat penting dalam sistem atau metode pasang surut.

Dengan penggunaan sistem ini, Kawan tak perlu memantau kondisi air secara manual. Namun, sistem atau metode pasang surut bergantung pada energi listrik (pompa air). Apabila terjadi pemadaman listrik, maka pompa air akan berhenti dan kualitas tanaman semakin menurun. Kalau begitu, apakah Kawan ingin menggunakan metode hidroponik satu ini?

5. Sistem NFT

Sistem NFT
Skema sistem NFT untuk penanaman tanaman berbasis hidroponik/Sumber: Agroniaga.com

NFT di sini bukanlah NFT dalam hal bitcoin. NFT yang dimaksud adalah Nutrient Film Technique. Sistem NFT menggunakan pipa PVC untuk mengalirkan air nutrisi secara terus-menerus. Sistem ini juga menggunakan pompa dengan teknik sirkulasi.

Pada sistem NFT, posisi beberapa tanaman membentuk segitiga siku. Alhasil, ada tanaman yang tumbuh pada lapisan air yang dangkal. Namun, Kawan tidak perlu khawatir karena tanaman tersebut tetap memperoleh nutrisi melalui akarnya. Lalu, posisi tanaman yang berada di atasnya akan mendapatkan oksigen.

Masa panen dengan sistem NFT akan menjadi lebih cepat. Karenanya, Kawan bisa memperoleh hasil panen berkali lipat lebih banyak. Dengan begitu, sistem ini cocok bagi Kawan yang akan menanam dalam skala besar.

Keunggulan dari sistem ini hampir sama dengan sistem pasang surut, yakni pemantauannya yang bisa dilakukan secara otomatis. Akan tetapi, Kawan harus bergantung pada energi listrik.

Baca juga: Avatar Lingkungan, Belajar dari Kisah Mbak Irma sebagai Avatar Pelindung Bumi

Beberapa sistem atau metode hidroponik tersebut bisa segera Kawan copa di rumah, ya! Perlu diingat, bahwa hidroponik memiliki kekurangan pada instalasi yang terbilang rumit dan biaya perawatan serta peralatan yang relatif mahal.

Meskipun begitu, hidroponik juga bisa menjadi peluang bisnis bagi Kawan. Tentu ini membutuhkan dana dan niat yang sungguh-sungguh. Jadi, apakah Kawan tertarik untuk mencobanya?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini