Amien Rais, Tentang Kemandirian Bangsa

Amien Rais, Tentang Kemandirian Bangsa
info gambar utama
Berceramah di depan jamaah tarawih masjid kampus UGM tadi malam, Amien Rais ternyata masih sama seperti dua tahun silam saat saya menyaksikannya berpidato di tempat dan acara yang sama. Isi pembicaraannya tak pernah jauh dari isu kemandirian bangsa dilihat dari perspektifnya yang anti kekuatan asing. Beliau selalu melihat Indonesia sebagai subordinat bangsa lain, dus, melayani kepentingan bangsa lain. Sambil mengutip ayat-ayat Al-Quran lalu mengekstrapolasikannya ke konteks kebangsaan, beliau berpendapat bahwa Indonesia masih merupakan bangsa bermental budak yang disetir oleh tangan-tangan VOC versi modern. Akibatnya tak ada rencana yang berhasil, tak ada usaha yang bermanfaat untuk kemakmuran negeri. Tak lupa beliau memberi contoh dengan mengutip ucapan presiden SBY soal negosiasi ulang kontrak-kontrak tambang dengan perusahaan asing. Saya mesem-mesem sendiri mendengar ceramahnya, sambil berpikir: masih relevankah pandangan pak Amien? Apakah kemandirian yang dimaksud beliau adalah melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan bangsa lain? Sementara di tengah dunia yang semakin terbuka dan dibuat borderless oleh kemajuan dan perkembangan teknologi informasi, bisakah sebuah bangsa hidup tanpa bantuan dan kerjasama dengan bangsa lain? Apalagi jika dilihat dari perspektif supply chain management, perusahaan-perusahaan multinasional butuh jaringan antarnegara untuk berkembang. Di lain pihak, Indonesia juga butuh investasi untuk memodali pembangunan. Perusahaan-perusahaan asing mencari material dan menyebarkan produknya ke berbagai negara; menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lokal; merekrut orang-orang lokal dan seterusnya. Jaringan bisnis sudah jalin-menjalin ke seluruh dunia dan sangat sulit untuk berbicara tentang melakukan segala sesuatunya sendirian di era globalisasi semacam ini. Sudah banyak contoh yang dikemukakan di website ini akan manfaat kerjasama bisnis internasional. Apalagi dengan figure Indonesia yang semakin meningkat di dunia belakangan ini, semakin banyak perusahaan-perusahaan multinasional yang merengsek masuk. Nissan hendak menanam ratusan milliar US dollar untuk ekspansi bisnis di sini, Google juga akan buka kantor di Indonesia dalam waktu dekat, dan banyak perusahan-perusahaan besar yang hendak memindahkan pusat-pusat bisnisnya di Indonesia. Apakah derasnya interest negara lain yang masuk harus kita anggap sebagai ancamanan bagi kemandirian bangsa? Apakah semakin banyaknya perusahaan-perusahaan asing yang terlibat dalam bisnis di negeri ini harus diangggap sebagai bentuk kolonialisme baru yang menghisap semua sumber daya yang kita miliki? Saya pikir tidak seperti itu. Justru sebaliknya, ini adalah kesempatan emas bagi Indonesia. Negeri ini harus memanfaatkan semua itu demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia sendiri, sebagaimana amanat undang-undang dasar. Lagipula, layaknya seorang manusia, sehebat apapun sebuah negara ia tak akan mampu bertahan tanpa bantuan negara-negara lain. Sebab tak ada satu negara pun yang punya semua hal. Pasti ada kurangnya di sana dan di sini. Maka kerjasama itu mutlak dan tak bisa dihindari. Mari memanfaatkan teknologi dan sumber daya mereka sebesar-besarnya untuk kemakmuran kita, sebagaimana mereka juga memanfaatkan kita untuk kemakmuran mereka sendiri. Dengan demikian, bekerjasama bukanlah berarti menjadi subordinat dan melayani kepentingan negara lain. Saya pikir ide-ide nasionalisme dan kemandirian seperti yang dimaksudkan pak Amien tersebut sudah mulai usang. Ditulis oleh Faisal Cahyadi

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini