Tjong A Fie, Tionghoa Dermawan yang Danai Pembangunan Masjid Raya Medan

Tjong A Fie, Tionghoa Dermawan yang Danai Pembangunan Masjid Raya Medan
info gambar utama

Ada seorang tokoh pengusaha terkenal di Kota Medan, Sumatra Utara, yang hidup pada abad ke-19 hingga awal abad 20. Ia bukan asli Indonesia (saat itu Hindia Belanda), tetapi berkat kedermawanannya berhasil diterima oleh masyarakat setempat.

Namanya Tjong A Fie (dikenal juga dengan nama lain Tjong Hung Nam dan Tjong Jiauw Hian), yang berstatus pendatang dari negeri tirai bambu Tiongkok. Ketika usianya masih muda, ia merantau ke Sumatra mengikuti jejak kakaknya Tjong Yong Hian yang terlebih dulu menuai kesuksesan.

Karakteristik orang Tionghoa yang rajin dan ulet dipegang teguh oleh Tjong A Fie. Konon dalam menjalankan bisnisnya, Tjong A Fie selalu mengamalkan tiga hal yakni, jujur, setia dan bersatu. Ia tahu ia adalah pendatang, maka dari itu ia selalau berprinsip "di mana langit dijunjung di situlah bumi dipijak".

Selain itu, sisi paling menonjol dari diri Tjong A Fie ialah pandai bergaul dengan semua orang, dari lintas etnis yang berbeda. Ia juga murah tangan sehingga banyak infrastruktur di Kota Medan dibangun akibat hasil campur tangannya. Mempekerjakan banyak orang, Tjong A Fie juga tidak lupa membagikan lima persen keuntungannya kepada para pekerjanya. Karena dikenal sebagai filantropis terpandang inilah yang membuat momen pembaringan terakhir Tjong A Fie disaksikan banyak orang yang datang dari berbagai penjuru daerah.

Perantau yang Dibekali Ilmu Komunikasi dan Berniaga

Kesuksesan sang kakak Tjong Yong Hian di Pulau Sumatra membuat Tjong A Fie tergiur. Sosok kelahiran Sungkow, Distrik Mei Xian, Guandong, Tiongkok Selatan akhirnya memutuskan berlayar ke Sumatra pada 1877 ketika usianya sekitar 17-18 tahun. Tjong A Fie muda saat itu hanya berbekal uang 10 perak Manchu yang diikatkan ke ikat pinggangnya. Berbulan-bulan dalam pelayaran, tibalah Tjong A Fie di Labuhan Deli, kota kecil di pantai timur Sumatera pada 1880.

Tjong A Fie tidak serta merta bergantung pada kakaknya yang sudah berhasil dan dikenal sebagai pemuka masyarakat Tionghoa. Ia memulai usahanya dari bawah dengan bekerja di toko milik kerabat kakanya, Tjong Sui Fo.

Infografik Tjong A Fie
info gambar

Karena sudah dibekali ilmu berniaga ketika menjaga toko milik ayahnya, Tjong A Fie tidak menemukan kesulitan. Ia sanggup melayani pembeli, memegang bagian pembukuan, menagih utang, dan pekerjaan serabutan lain. Tjong Sui Fo selaku pemilik toko juga sering menugaskan Tjong A Fie mengantar barang ke penjara sehingga ia sering mengobrol dengan para narapidana di sana.

Profesinya sebagai penagih utang ditambah mudah bergaul membuat kemampuan berbahasa Melayu Tjong A Fie semakin baik. Imbasnya, ia semakin akrab dengan masyarakat setempat baik oleh orang-orang Melayu, Arab, India, sampai Belanda.

Karena kemampuannya dalam berkomunikasi ada kalanya Tjong A Fie diminta turun tangan ketika ada gesekan antara orang Tionghoa dengan etnis lain. Melihat pengaruhnya yang kuat di masyarakat, Belanda pun menunjuk Tjong A Fie sebagai Kapten Tionghoa dan menempatkannya dari Labuhan Deli ke Medan (Deli Lama).

Diizinkan Sultan Deli Buka Usaha Candu

Profesinya sebagai penagih utang ditambah mudah bergaul membuat kemampuan berbahasa Melayu Tjong A Fie semakin baik. Imbasnya, ia semakin akrab dengan masyarakat setempat baik oleh orang-orang Melayu, Arab, India, sampai Belanda.

Karena kemampuannya dalam berkomunikasi ada kalanya Tjong A Fie diminta turun tangan ketika ada gesekan antara orang Tionghoa dengan etnis lain. Melihat pengaruhnya yang kuat di masyarakat, Belanda pun menunjuk Tjong A Fie sebagai Kapten Tionghoa dan menempatkannya dari Labuhan Deli ke Medan.

Di Medan, Tjong A Fie diterima baik oleh pemimpin Kesultanan Deli, Sultan Makmun Al Rasyid. Hubungan baik dengan sang sultan menjadi awal kisah kesuksesan usaha Tjong A Fie. Oleh sultan, Tjong A Fie diberikan izin/konsesi berdagang candu (opium) di daerah Deli.

Karena politik bisnis yang terjadi saat itu, candu sangat dibutuhkan para pengusaha perkebunan. Para pemilik perkebunan sengaja membuat buruh kebun bergantung pada candu. Jika tidak mendapat candu, para buruh akan kehilangan gairah semangat kerja.

Buruh kebun yang menggunakan candu ditambah berjudi akan kehabisan penghasilannya. Ketika kontrak kerja selama tiga tahun berakhir, para buruh pun tidak sanggup kembali ke daerah asalnya. Situasi ini kemudian dimanfaatkan para pemilik perkebunan untuk tetap mempekerjakan mereka. Pengusaha untung besar karena tidak perlu lagi mengeluarkan biaya mendatangkan buruh baru.

Bisnis candu Tjong A Fie berkembang pesat. Hasil keuntungannya itu kemudian membuatnya mampu beli perkebunan dengan komoditas beragam. Ketika pengusaha lain baru merintis usaha karet, Tjong A Fie sudah meraup untung dari karet yang ia tanam. Dari karet, ia kemudian beralih menanam teh. Perkebun teh Bandar Baroe-nya pun terhampar tidak jauh dari Si Boelan, kebun karet milik Belanda yang ia akuisisi

Membangun Infrastruktur di Medan

Benny G. Setiono dalam buku berjudul Tionghoa Dalam Pusaran Politik menyebutkan Tjong A Fie sepanjang hidupnya sering melakukan aksi sosial dan senang menolong orang susah yang didera kemiskinan. Sifatnya yang murah hati kemungkinan didorong dari kesadarannya sebagai pengusaha bisnis candu yang merupakan barang berbahaya. Ia yakin, sebagian hartanya yang didapat dari "uang panas" mesti dikembalikan kembali ke masyarakat termasuk ke pekerjanya yang berjumlah belasan ribu orang.

Kota Medan sama seperti kota-kota pesisir umumnya di wilayah Nusantara, yakni menjadi melting pot alias tempat membaurnya beragam macam suku bangsa yang singgah hingga menetap. Di kota inilah Tjong A Fie menjadikannya sasaran "penebusan dosanya". Ia membangun berbagai infrastruktur untuk kepentingan umum dan membantu orang tanpa membedakan warna kulit, suku, kelas sosial, maupun agama.

Untuk sesama Tionghoa, Tjong A Fie membangun ibadah klenteng, tempat pemakaman di Pulo Brayan, dan mendirikan perkumpulan kematian untuk merawat kuburan. Demi masyarakat setempat ia juga membangun rumah sakit Tjie On Tjie Jan, RS Tionghoa yang melayani pengobatan secara cuma-cuma dengan mengingat umur dan kemiskinan pasien.

Masjid Raya Medan.
info gambar

Hubungan Tjong A Fie sangat baik antar penganut agama lain. Dengan penganut agama Islam misalnya, ia turut menyumbang sepertiga dari seluruh biaya pembangunan Masjid Raya Medan. Tjong A Fie juga membiayai seluruh biaya pembangunan Masjid Gang Bengkok di dekat kediamannya di Jalan Kesawan, yang kini menjadi Jalan Jenderal Ahmad Yani.

Di Kota Medan, bahkan hampir di seluruh Sumatra Timur saat itu, Tjong A Fie sangat terkenal karena kedermawanannya. Banyak sekolah mendapat bantuannya, baik sekolah Kristen, Islam, maupun Tionghoa. Ia menyediakan tanah untuk pembangunan sekolah Methodis di Medan. Memberi sumbangan pada berbagai kelenteng, masjid, gereja, dan kuil-kuil Hindu. Ia juga menyumbang jam besar di puncak gedung Balai Kota lama. Tak hanya itu, Tjong A Fie juga ikut terlibat dalam pembangunan jalur kereta api pertama di Sumatra yang dioperatori Deli Spoorweg Mij (DSM) yang menghubungkan Medan dan Belawan.

Sebuah surat kabar berbahasa Belanda mengabarkan Tjong A Fie turut serta mendanai pembangunan sekolah Mohamedaansche School (sepertinya Sekolah Muhammadiyah) di Kota Medan pada 1918.
info gambar

Kepiawaian sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa membuat Sultan Deli merekomedasi Tjong A Fie diangkat sebagai anggota dewan kota (Gementeeraad) dan dewan kebudayaan (Culturaad). Pemerintah Hindia Belanda turut memberikan apresiasi dengan memberinya jabatan penasehat untuk urusan Tionghoa.

Meskipun dekat dengan pemerintah kolonial Belanda, Tjong A Fie termasuk pemilik perkebunan yang menentang Poenale Sanctie (sanksi pidana). Pemerintah kolonial Belanda saat itu memberlakukan peraturan tersebut demi kepentingan pengusaha perkebunan. Jika buruh melarikan diri ketika kontrak kerjanya belum habis, maka pihak pengusaha diberikan izin mengejar, menangkap, dan memberikan hukuman fisik ataupun penjara. Tjong A Fie menilai peraturan ini membuat buruh tidak jauh berbeda dengan budak belian. Namun, karena visinya tidak sejalan dengan orang-orang sezamannya para pengusaha perkebunan lain kerap mencap Tjong A Fie pengkhianat.

Kerajaan bisnisnya besar. Dalam buku Memoirs of a Nonya karya Queeny Chang tercatat Tjong A Fie juga menggaet pengusaha dari Medan, Penang, Singapura, Tiongkok, dan Batavia untuk mengerjakan berbagai macam proyek bisnis yang membuatnya terkenal di luar Sumatra.

Wafat Diantar Banyak Orang

Pada 4 Februari 1921, Tjong A Fie tutup usia dalam usia 61 tahun karena menderita pendarahan otak (apopleksia). Seluruh masyarakat Kota Medan berduka, banyak orang tumpah ruah di jalan mengantar kepergiannya.

Tidak cuma warga Kota Medan, tetapi ada banyak orang datang dari berbagai penjuru mulau dari wilayah Sumatra Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaya, Singapura, hingga yang terjauh dari Pulau Jawa. Sekitar ribuan orang dari berbagai ras dan suku bangsa menyaksikan prosesi Pemakaman Tjong A Fie yang berlangsung dengan megah sesuai dengan tradisi dan jabatannya.

Ribuan orang memadati jalan di Kota Medan ketika prosesi pemakaman Tjong A Fie tengah berlangsung.
info gambar
Sebuah spanduk Sultan Langkat tsb ternyata pujian: Tjong A Fie terkenal di penjuru dunia dan begitu dihormati. Pujian tsb tercermin di potret pertama: orang semua bangsa mengantarkan jenazahnya, ada yang bertopi, berpeci, juga berserban
info gambar

Tjong A Fie tampak sudah melihat garis akhir hidupnya. Empat bulan sebelum wafat ia meninggalkan wasiat agar hartanya diurus oleh Yayasan Toen Moek Tong, yayasan yang ia harap didirikan di Medan dan Desa Sungkow, tempat ia dilahirkan. Ia berharap pihak yayasan mau membanntu pendidikan pemuda berbakat dan berkelakuan baik, para penderita difabel, dan korban bencana alam tanpa memandang perbedaan bangsa dan etnis.

Rumah Tjong A Fie.
info gambar

Peninggalan usaha Tjong A Fie di sektor perkebunan hingga perbankan sayangnya habis tidak bersisa. Anak-anaknya tidak cakap mengelola usahanya ditambah krisis ekonomi dunia pada dekade 1920-an mengguncang usaha peninggalan sang ayah.

Meskipun begitu, Tjong A Fie masih bisa dikenang lewat berbagai arsitektur di Kota Medan. Selain Masjid Raya Medan, Rumah Tjong A Fie di Jalan Ahmad Yani bisa bebas dikunjungi oleh wisatawan. Di rumah ini pengunjung bisa melihat lukisan Tjong A Fie dan keluarganya beserta perabotan asli yang mereka pakai. Salah satu objek wisata andalan di Medan ini pun pernah menyandang kategori Museum Cantik dalam Anugrah Purwakalagrha Museum Awards pada 2016 lalu.

---

Referensi: Tjongafiemansion.org | Kemdikbud.go.id | Queeny Chang, "Memoirs of a Nonya" | Benny G. Setiono, "Tionghoa Dalam Pusaran Politik" | Sam Setyautama, "Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini