Pelajaran dari Alice in Wonderland

Pelajaran dari Alice in Wonderland
info gambar utama
Salah Kaprah Visi dan Misi. Oleh: A. Cholis Hamzah*)

“Assalamualikum warohmatullahi wabarokatuh!, para hadirin jamaah Mesjid yang kami hormati, tiba saatnya kita dengarkan paparan Visi dan Misi para calon Kades kita…”, demikian bunyi kata pembukaan dari takmir mesjid di kampung saya dalam acara proses pemilihan kepala desa. Salah seorang calon Kades mengatakan: “Visi dan Misi saya nanti kalau jadi Kades adalah membuat persatuan sepakbola di lingkungan kita” sambil berteriak lantang meminta dukungan dari jamaah Masjid yang sebagian besar tidak tahu apa arti Visi dan Misi itu sendiri. Kata Misi dan Visi saat ini sudah menjadi “langganan” setiap orang atau pejabat dalam setiap acara, misalkan dalam rangka menjelaskan program kerja suatu instansi sampai pada acara perkawinan. Kata kata itu sudah seperti kata kunci yang “suci” yang apabila tidak disebut dalam suatu pidato maka seakan ada “bencana” yang akan datang. Kurang afdol kalau kata itu tidak diucapkan. Kalau dulu orang gemar mengucapkan kata-kata seperti: “aman terkendali”, “selaras dan seimbang”, kemudian muncul kata-kata “reformasi”, “transparan”, “akuntabilitas” dsb sekarang mulai trend kata Visi dan Misi itu.




Tapi apakah kata-kata itu sudah tepat diucapkan sesuai dengan makna sebenarnya?. Dalam sebuah cerita anak-anak “Alice in Wonder Land” dikisahkan bahwa Alice kebingunan mencari jalan karena tersesat di hutan dan didepannya banyak pilihan jalan yang dapat dilalui, maka dia bertanya pada sahabatnya seekor kuncing jalan mana yang harus dia tempuh. Sebelum menjawab kucing tadi bertanya tujuan Alice kemana. Alice menjawab bahwa dia tidak mempunyai tujuan, maka kucing akhirnya menjawab: “Jika engkau tidak tahu kemana, maka jalan mana saja yang akan kamu ambil tidak membuatmu tersesat, toh Alice tidak tahu tujuan kemana dia harus pergi”.

Cita-cita atau impian masa depan seseorang akan kemana tujuannya nantinya itulah yang disebut Visi. Para pendiri Repbulik ini memiliki Visi bahwa mereka sepakat untuk membawa bagsa ini mencapai kondisi masyarakat yang adil dan makmur. Itulah Visi para pendiri bangsa ini. Cita-cita seperti ini perlu disosialisasikan kepada semua pihak dalam suatu organisasi karena seringkali masih bersifat umum. Agar semua orang mengerti cita-cita ini maka perlulah Visi tersebut dibuat secara tertulis yang dikenal dengan apa yang disebut “Mission Statement”.

Dalam perusahaan, misi ini adalah pernyataan yang berkerangka luas, tapi mempunyai ketahanan yang lama. Misi memasukkan falsafah usaha dari para pengambil keputusan strategic dalam perusahaan, menyatakan citra perusahaan yang berusaha di proyeksikan, merefleksi jati diri perusahaan, menunjukkan ruang lingkup usaha, kebutuhan konsumen dsb. Jadi pada dasarnya sebuah Misi itu – kalau dalam sebuah perusahaan adalah pernyataan yang menggambarkan produk /jasa yang dibuat perusahaan, pasar dan ruang lingkup usaha termasuk teknologi yang akan dipakai.

Jadi sebelum sebuah Misi dibuat maka para stakeholders harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: produk apa yang akan dibuat, siapa pelanggannya, nilai apa yang bisa diberikan kepada pembeli, bagaimana prospek usaha nantinya dsb. Jadi kalau Jawa Timur ini kita ibaratkan sebagai perusahaan maka Visi dan Misi yang akan dibuat itu harus memenuhi unsur-unsur jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas.

Perlu diketahui bahwa sebuah Misi itu dibentuk oleh lima unsur penting yaitu pertama, “History” atau Sejarah, setiap perusahaan atau bangsa memiliki sejarah masa lalu, sejarah pencapaian hasil-hasil masa lalu, sejarah tujuan dsb Jadi Misi harus dibentuk berdasar atau dengan melihat nilai-nilai sejarah positif masa lalu yang akan dtuangkan untuk mencapai suatu tujuan. Bung Hatta pernah mengatakan dalam sebuah kongres sarjana ekonomi di Jogja setelah kemerdekaan bahwa bangsa Indonesia ini dibentuk oleh sejarahnya masa lalu, dia tidak dibentuk secara tiba-tiba begitu saja. Kedua, “Current Preference” atau keinginan sekarang dari para pemilik perusahaan baik itu komisaris maupun para manager. Ketiga, “Environmental Factors” atau faktor lingkungan. Sering disebutkan bahwa lingkungan disini dimaksudkan sebagai ancaman dan peluang yang dihadapi. Keempat, “Resources” atau sumber-sumber, bisa sumber alam, modal maupun manusia. Dan Kelima, Distinctive Competence” atau keunggulan khusus yang dipunyai sebuah institusi baik itu negara/propinsi atau sebuah perusahaan. Jawa Timur tidak dapat membuat misi tanpa mengetahui secara jelas keunggulan khusus yang dipunyai. Singapura misalnya sekarang ini mempunyai keunggulan khusus yang lain bila dibandingkan dengan negara-negara tetangganya yaitu sebagai salah satu pusat jasa keuangan dunia atau sebagai negara kota yang terbersih di dunia.

Filosofi suatu institusi – sekali lagi bisa sebuah negara/propinsi atau perusahaan seringkali menjadi salah satu komponen utama dari pembuatan misi itu. Filosofi ini dikenal sebagai “Company Creed” atau kredo perusahaan. Dia adalah sebuah keyakinan dasar, nilai-nilai, dan aspirasi para stakeholder. Akan tetapi dalam prakteknya seringkali filosofi dalam sebuah Misi itu hampir sama dimana-mana dan berisi sesuatu di “awang-awang”. Kadangkala saking “agungnya” filosofi dalam sebuah Misi, justru Misi ini terkesan hambar dan cenderung terkesan “basa-basi”

Dalam pemilihan umum atau Gubernur atau Bupati/Walikota atau Tamir Masjid seharusnya dihindari pembuatan Visi dan Misi yang tidak mengandung unsur-unsur diatas karena hanya akan membuat janji-janji yang sulit di laksanakan dan itu jelek untuk pendidikan politik bangsa ini. Misalkan saja ada Mission Statemen yang mengatakan: “Kalau saya jadi kepala stasiun KA, maka nanti semua bonek pendukung perkumpulan sepakbola tidak perlu membeli tiket alias gratis untuk semua tujuan selama musim kompetisi sepak bola tahun ini”.

Pernyataan Misi seperti itu hampir sulit mendapatkan kepercayaan publik untuk masa sekarang ini, dan tentu tidak berdasarkan lima elemen pembentu Misi diatas. Selain itu para pembuat Visi dan Misi harus mampu membedakan apa itu Visi, apa itu Misi, apa itu tujuan, apa itu falsafah. Kalau tidak, maka seringkali kita dibuat bingung oleh sebuah pernyataan yang tidak tahu kemana arah pembicaraannya, karena “jumbuh” atau overlap antara apa itu Visi dan Misi atau antara apa itu Program dan Proyek. Kalau kita amati dalam setiap pemilihan kepala daerah di propinsi ini maka akan dapat kita lihat bahwa hampir semuanya memuat hal-hal yang sama yaitu sesuatu yang bersifat “se-akan-akan” yang bersifat khayali.

Sekarang ini rakyat semakin cerdas dan rasional dalam menentukan pilihan, tidak bisa lagi didikte atau di paksa. Kalau toh di iming-imingi dengan materi (uang) maka ada yang mau menerimanya namun toh mereka akan tetap melakukan pilihan sesuai dengan hati nuraninya sendiri. Oleh karena itu sekarang ini sering kita saksikan bahwa rakyat menggugat janji “Visi dan Misi” parpol atau pemimpin yang ternyata tidak jelas, hanya ada di awang-awang tadi. Misalkan saja soal pengurusan tanah “Ijo”, soal pengentasan kemiskinan, soal pendidikan yang gratis dsb. Hal ini terjadi karena yang membuat Visi dan Misi itu tidak mengerti variable apa saja yang harus dimasukkan dan variable apa yang melatar belakangi suatu Visi dan Misi itu.

Semoga dalam pemilihan Kepala Daerah di negeri ini semua calon Gubernur atau seluruh “Think Tank”nya yang ada dibelakangnya memahami apa itu sebenarnya Visi dan Misi. ---------------------------------- *) Drs. Ec. A. Cholis Hamzah, MSc adalah Alumni University of London, Wakil Ketua I Ikatan Alumni FE Unair dan staf pengajar Perbanas, Stiesia Surabaya dan Program MM Unmuh Sidoarjo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini