Lupa Sandi?

Macan Pertumbuhan Bernama Kreatifitas

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Macan Pertumbuhan Bernama Kreatifitas

Gonjang ganjing kasus korupsi Nazarudin, Surat Palsu KPU, Banggar DPR melawan KPK, kekalahan berturut-turut PSSI, reshuffle kabinet dsb seperti menguras energi anak bangsa ini dan melupakan tantangan bangsa kedepan dibidang lainnya dalam hal ini ekonomi. Bukannya hal-hal tersebut tidak penting; itu penting dalam rangka penegakan hukum dan upaya clean government dan goog governance; namun juga tidak boleh dilupakan adalah upaya misalnya mengentaskan kemiskinan dan dan daya tahan perekonomian Indonesia kedepan. Penulis tertarik untuk membahas salah satu aspek dalam kehidupan ekonomi yaitu masalah pentingnya ekonomi kreatif dan industri kreatif yang nampaknya semua orang pada lupa dikarenakan persoalan-persoalan diatas; padahal sector ini dapat dijadikan andalan mengentaskan kemiskinan di negeri ini.

Istilah industri kreatif pertama kali dipakai oleh Partai Buruh di Ingrris pada tahun 1997. Dalam beberapa tahunnya analisa dampak dari indutri ini pada perekonomian Inggris dilakukan, misalnya industri ini pada tahun 2000 telah menyumbang sekitar 7,9% penerimaan nasionalnya dan menyerap banyak tenaga kerja. John Howkins dari Inggris juga yang memperkenalkan ekonomi kreatif ini dalam bukunya “Creative Economy How People Make Money from Ideas”. Dia menyebutkan bahwa ekonomi kreatif adalah suatu aktivitas penciptaan dimana inputnya adalah Gagasan dan ouputnya juga sebuah Gagasan. Ekonomi kreatif adalah transaksi dan hasil kreasi produk-produk kreatif yang muncul dari sebuah gagasan.




Di Indonesia masalah ini mulai santer dibicarakan pada awal tahun 2006; dan menteri Perdagangan Mari Pangestu pada tahun itu membuat blue print bagaimana mendayagunakan ekonomi kreatif ini di Indonesia yang bertujuan salah satunya untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Menurut menteri Mari Pangestu sector indusri kreatif itu di Indonesia meliputi: Jasa periklanan; Arsitektur; Seni Rupa; Kerajinan; Desain; Mode (fashion); Film; Musik; Seni Pertunjukan; Penerbitan; RIset dan Pengembangan; Software; TV dan Radio dan Video Game.

Dinegara-negra maju sumbangan industri kreatif itu pada PDB (Produk Domestik Bruto) nya cukup signifikan. Misalnya pada tahun 2000 sektor ini menyumbang 3% di PDBnya, Amerika dan Ingrris sekitar 5%-8%; dan di Amerika sector ini berhasil menyerap 30% penduduknya untuk bekerja. Temuan Deperindag Indonesia pada tahun 2006 menunjukkan bahwa industry kreatif ini menyumbang sekitar 5,7% PDB, menyerap tenaga kerga sekitar 4,9 juta orang yang bekerja di sekitar 2.000 lebih perusahaan dan nilai ekspornya bisa mencapai Rp 81 milyar lebih.

Baca Juga

Negeri kaya gagasan

Mungkin presiden SBY ketika menyatakan bahwa ekonomi kreatif ini merupakan ekonomi gelombang ke-empat terinspirasi oleh teori Alvin Tovler tentang gelombang peradaban manusia dari gelombang pertama ekonomi pertanian, kedua ekonomi industri, ketiga ekonomi informasi. Saat ini ketika persaingan di era globalisasi yang ketat dan kompleks ini negara-negara didunia ditantang untuk masuk pada ekonomi gelombang keempat yang oleh banyak pakar disebut sebagai knowledge based economy atau ekonomi yang berbasis kreativitas. Negara-negara maju yang tidak memiliki sumber daya alam yang besar seperti Indonesia telah membuktikan sejak lama bahwa gagasan atau ide cemerlanglah yang sanggup menguasai dunia. Jepang dan Swis misalkan ide-ide kreatif dari manusia-manusianyalah yang mampu menciptakan produk-produk yang bersifat global. Jepang telah mengimplementasikan definisi Kreatif secara nyata. Kreativitas atau Creativity ada yang mendefinisikan sebagai developing something new that never existed before. Creativity atau Kreativitas itu bisa dalam bentuk Innovation - menemukan sesuatu yang baru; synthesizing –menggabungkan sesuatu dan modification –merubah sesuatu menjadi baru. Jepang berhasil melakukan itu semua.

Tidak kalah serunya dengan Jepang ini seorang mahasiswa dari Munich University of Applied Science bernama Slavche Tanevsky merancang konsep Lamborghini Madura. Dia memakai nama Madura pada mobil mewah dan ramping ini sebagai nama Lamborghini baru yang akan diluncurkan pada 2016 nanti. Dia menemukan kata Madura dari internet ketika dia ingin mencari kata banteng. Kemudian dia menemukan karapan sapi dan itu di Madura. Karakter Madura yang cepat dan straight forward itulah yang memunculkan ide kreatifnya membuat konsep mobil mewah ini. Inilah yang disebut gagasan dalam ekonomi kreatif itu.




Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan negara-negara lain karena negeri ini memiliki banyak anak bangsa yang memiliki gagasan atau ide yang cemerlang. Arsitektur Borobudur dan Batik adalah bukti bahwa bangsa ini sudah lama memiliki gagasan cemerlang yang masuk katagori industry kreatif ini. Anak-anak Indonesia juga berhasil sebagai pemenang dalam berbagai lomba kreativitas mulai dari seni sampai robot. Tari Bali dan Jawa dan seni tari dari berbagai suku bangsa di Indonesia ini adalah gambaran betapa gagasan atau ide kreatif anak bangsa ini sudah lama ada.

Sayangnya

Sayangnya di Indonesia ini kaya akan policy atau kebijakan tapi miskin implementasi. Seringkali kita menyaksikan ide-ide yang nampak bagus misalnya saja ide pembangunan infrastruktur atau keinginan membuat pasar produk agro industry yang terbesar di Asia dsb, ujug-ujug atau tiba-tiba plus tidak ada kabarnya. Sayangnya semua gagasan yang nampak cemerlang itu tidak terintegrasi. Misalnya gagasan meningkatkan sector agro industri tidak dibarengi dengan insentif pihak industry perbankan dan tidak adanya infrastruktur yang cukup. Di propinsi-proinsi Indonesia diluar Jawa anak-anak bangsa yang memiliki gagasan kreatif akan sulit berkembang bila listriknya mati setiap hari dua kali. Integrasi policy juga miskin; kawasan wisata yang penuh dengan kekayaan budaya tidak dibarengi dengan dibangunnya terminal atau stasiun KA dan bis. Tidak perlu mencontoh negara-negara maju yang jauh; Singapura dalam membangun stasiun MRT nya selalu dekat dengan tempat –tempat wisata atau bisnis. Ada keterkaitan antara city planning dan economic planning nya. Di negara-negara lain juga seperti itu. Penulis sering menanyakan pada mahasiswa sebuah pertanyaan: apabila ada turis di suatu tempat bertanya bagaimana menuju kawasan industry tas kulit misalnyan. Jawabannya: naik taxi atau angkot, setelah itu tanya pada tukang becak dimana pusat industi tas itu. Apabila hal-hal seperti ini tidak direnungkan maka sampai kapanpun Indonesia tetap berbahagia sebagai konsumen produk kreatif dan bukan sebagai pencipta.

Sayangnya insentif bagi anak bangsa yang menciptakan produk kreatif masih sedikit. Di Singapura pemerintahnya memberikan insentif S$ 20,000 pada setiap pembuat proposal pembuatan film independen. Negara-negara lain juga sangat getol memberika insentif bagi orang-orang pinternya supaya tidak meninggalkan negara. Pada acara Kick Andy di Metro TV kita pernah menyaksikan adanya orang-orang muda pinter – professor yang bekerja di luar negeri dengan gaji besar karena trauma pulang ketanah air tidak mendapatkan apa-apa. Kalau tidak salah anak muda yg bernama Dr. Reza yang diwawancarai Andy mengatakan bahwa ketika dia pulang ke tanah air dari Belanda setelah lulus S3 nya; mengajukan 50 lamaran ke berbagai perusahaan termasuk perusahaan sabun. Tapi di tolak semua. Dan kini dia menjadi orang penting di perusahaan raksasa di Eropa. Ketika ditanya apakah tidak punya nasionalisme dengan tidak mau pulang. Dia menjawab masih memiliki nasionalisme itu tapi untuk pulang tunggu dulu karena dia punya trauma yang menyakitkan ketika lamarannya ditolak.

*) Drs. A. Cholis Hamzah, MSc alumni University of London, wakil ketua I Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga dan dosen pada STIE Perbanas Surabaya

(Tulisan serupa oleh penulis pernah dimuat di harian Jawa Pos tahun 2009)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas