Generasi Tiada Dua Ketika tiga minggu lalu saya pulang ke Yogyakarta, saya dikejutkan oleh berita bahwa Mbah Duladi, penjual pecel keliling yang sudah berjualan puluhan tahun hingga beliau tua renta, meninggal dunia. Terus terang saja, saya tidak begitu dekat dengan beliau, hanya saja yang saya tahu, suaminya juga sudah tua, anak-anaknya tidak ada satupun yang mengikuti jejak beliau berjualan pecel. Lalu apa istimewanya Mbah Duladi ini? Ada banyak hal yang membuatnya istimewa, dan saya tidak tahu apakah hal ini juga berlaku untuk tempat-tempat lain di luar Jogja. Mbah Duladi adalah sosok wanita yang mewakili generasi yang lahir pada tahun 1920-1930an, masa penjajahan, juga masa dimana sultan masih menjadi tumpuan harapan rakyat Yogyakarta, masa dimana orang yang berdiam diri di rumah dan menganggur adalah tabu, masa dimana bekerja keras tanpa mengeluh adalah sebuah kemuliaan. Lihatlah di Yogyakarta, beberapa dari mereka masih hidup. Berjalan kaki tiap pagi berkilo-kilo meter hanya untuk menjual daun pisang, bersepeda puluhan kilometer menjual kerupuk, berjualan jamu, gudeg. Apakah mereka mengeluh? Sepanjang pengetahuan saja tidak pernah, bahkan ketika sakit mereka sedikitpun tidak mengeluh. Bagi mereka, hidup adalah sebuah kewajiban, dan mengisinya adalah sebuah kemuliaan. “Nrimo ing Pandum” menerima dengan senang hati apa saja yang Gusti Allah beri, itulah motto hidup mereka. Generasi ini, semakin dimakan umur. Kita memang masih bisa melihat beberapa dari mereka berpakaian tradisional jawa (jarik dan kebaya jawa) menggendong tenggok, atau pergi kesawah memetik padi, atau berjualan jamu berkeliling dengan jalan kaki. Generasi yang melahirkan budaya dan karakter adiluhung masyarakat Jawa, Yogyakarta khususnya. Generasi yang tidak ada duanya… generasi yang mulai hilang.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu