Benteng Udara Indonesia

Benteng Udara Indonesia
info gambar utama

Dan cerita pun berulang... di Libya. Mudah ditebak, ketika NATO mulai ikut campur membantu pihak oposisi Libya melawan rezim Khaddafi, cepat atau lambat, Khaddaffi dan pendukungnya akan runtuh. Dan alasannya cuma satu, superioritas NATO di udara.

Kekuatan udara suatu negara adalah pilar paling penting bagi pertahanan negara tersebut, bila kekuatan udaranya lemah, maka hampir mustahil sebuah negara mampu bertahan lama dalam menjaga kedaulatannya bila terjadi perang, apalagi menyerang negara lain yang kekuatan udaranya lebih kuat. Tidak heran, Singapura, setitik negeri kecil di Asia Tenggara mempunyai kekuatan udara maksimal, dan berencana membeli 100 JSF F-35, pesawat multifungsi terbaru dan tercanggih buatan AS. Meskipun mungkin tidak akan pernah dipakai perang, kekuatan udara Singapura akan menyebarkan efek yang menggetarkan dan menggentarkan. Hal ini akan sangat bermanfaat dalam positioning di ranah diplomasi.

Kalau melongok ke sejarah, bukti bukti pentingnya superioritas di udara diantaranya adalah sebagai berikut :

- Battle on Britain. Baik RAF maupun Luftwaffe waktu itu adalah dua kekuatan udara paling kuat di dunia. Luftwaffe (AU Jerman) bertempur habis-habisan dengan RAF (AU Inggris), sebelum akhirnya kalah. Setelah itu, kekuatan udara dan strategi AU Jerman praktis mudah ditebak, lebih lemah, dan tak pernah lagi mampu melawan kekuatan udara RAF, apalagi setelah USAF datang. Banyak yang meyakini, apabila RAF kalah waktu itu, tanah Inggris Raya akan jatuh ke tangan Hitler.

- Awal mula kekalahan Jerman. Semua orang mengakui bahwa Wehrmarcht (AD Jerman) waktu PD II teramat kuat, dengan personel yang gigih dan sangat terlatih, dan peralatan tempur yang tercanggih di jamannya. Namun semuanya terlihat sia-sia ketika mereka tidak mampu mengimbangi kekuatan udara Sekutu. Pabrik2 senjata mereka di hajar dari udara tanpa mampu melawan. Kota-kota industri utama Jerman juga tidak luput dari pemboman tanpa balas dari Sekutu.

- Kekalahan Korea Utara. Siapapun memahami bahwa Perang Korea adalah salah satu perang singkat yang paling dahsyat dan mematikan. Sebenarnya Korea Utara hampir memenangi peperangan. Namun suply logistik mereka yang dihancurkan melalui udara oleh pesawat2 tempur Amerika (disamping juga marinir AS), membuat kemenangan mereka hanya sesaat sebelum akhirnya didesak jauh ke utara.

Masih banyak contoh2 lain, namun intinya adalah bahwa dalam dunia modern seperti sekarang ini, kekuatan udara adalah mutlak untuk memenangi peperangan. Namun perlu diingat, bahwa kekuatan udara bukan hanya berarti jumlah dan teknologi pesawat tempur yang dimiliki, namun juga kualitas pilot, dan kekuatan penangkis serangan udara. Pada Perang Dunia II, Jepang sangat sering kalah dalam pertempuran udara melawan pasukan sekutu. Salah satu sebabnya adalah kurangnya stok pilot berpengalaman. Dan itu membawa malapetaka besar.

Indonesia, saat ini tengah bersemangat memperkuat armada tempur udaranya. Mulai dari Sukhoi SU-27, Sukhoi SU-30, dan beberapa heli tempur kini siap mengudara sewaktu-waktu. Menurut kabar terakhir, bahkan pemerintah Indonesia akan menambah 2 Skuadron Sukhoi pada 2014 (semoga kabar itu betul).

Disamping itu, perlu diapresiasi upaya Indonesia membangun sendiri kekuatan udaranya, dengan menggandeng Korea Selatan membangun pesawat siluman generasi 4.5 bernama KFX. Proses itu kini tengah berjalan, dan apabila seluruh prosesnya selesai, TNI AU akan memperoleh setidaknya 50 pesawat tempur KFX.

Namun perlu juga diingat sekali lagi, sebesar apapun kita membangun kekuatan udara kita, kemampuan keuangan cukup terbatas. Dan negara2 tetangga kelihatannya mempunyai lebih banyak dana untuk ditebar membeli pesawat-pesawat baru lebih banyak yang Indonesia mampu beli. Alangkah bijak juga bila Indonesia juga membangun secara sistematis dan masif, kekuatan penangkis serangan udara berupa rudal darat ke udara seperti Patriot-nya AS. Serangan udara bisa ditangkis dari udara, menghadangnya dengan pesawat fighters, atau ditangkis dari darat, dengan rudal. Sebagai orang awam, saya tidak faham apakah semua rudal akan dengan akurat menembak sasaran.

Apapun itu, kekuatan udara RI masih belum maksimal, dan belum memberikan efek menggetarkan dan menggentarkan. Ketika negara-negara tetangga berlomba mempersenjatai diri, ada baiknya opsi-opsi di atas dipertimbangkan. Toh, kalau perang darat, ratusan juta rakyat bisa mempertahankan kedaulatannya. Wallahua'lam.

Written for Good News From Indonesia by  Akhyari Hananto

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini