By Akhyari Hananto

Perubahan politik di Myanmar begitu mengejutkan, dan menggembirakan. Satu tahun lalu, mungkin tak ada satupun dari kita yang memperkirakan bahwa kran-kran menuju demokrasi akan dibuka oleh pemerintah Junta Myanmar, yang dikuasai kalangan militer. Kita bahkan menyangka bahwa Myanmar akan semakin jatuh ke dalam lubang isolasi yang dalam, sehingga bahkan para tetangga dekatpun, termasuk Indonesia, takkan mungkin lagi menggapai tangannya untuk menariknya ke atas lagi.

Kita masih ingat, selain negara-negara barat, Filipina adalah negara yang paling keras menghujat Myanmar, dengan mengeluarkan statement-statement yang begitu menyudutkan, dan (tentu saja bagi pemerintah Myanmar) menyakitkan hati, sesuatu yang mungkin tidak disadari oleh Filipina.

Myanmar, seperti juga kita dan orang-orang Asia yang lain, tetaplah berkarakter ketimuran. Semakin ditekan dan diinjak, semakin tidak ingin menurut, dengan segala resikonya. Negara miskin tersebut, bahkan setelah Topan Nargis tahun 2008 yang memporak-porandakan negaranya, tetap saja tidak tunduk pada tekanan barat, apalagi Filipina.

Itu yang mungkin kemudian sangat disadari oleh pemerintah Indonesia, bahwa Myanmar tidak butuh lagi tekanan dan sanksi. Indonesia sangat menyadari dari pengalaman masa lalu betapa sanksi, embargo, takkan membawa hasil yang bagus. Itulah kenapa, Indonesia lah yang paling ngotot bahwa pada 2014, Myanmar adalah ketua ASEAN, menggantikan Kamboja. Dengan memberikan kesempatan itu, Indonesia yakin bahwa Myanmar lambat laun akan berubah. Dan momentum itu, disertai dengan momentum tuan rumah SEA GAMES 27, yang akan berlangsung di ibukota Myanmar yang baru.

Nah...sekarang, lihatlah...Indonesia silent diplomacy, membuahkan hasil..

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu