Animasi Dunia, Rasa Indonesia

Animasi Dunia, Rasa Indonesia

Animasi Dunia, Rasa Indonesia

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

By Akhyari Hananto

Tentu kita akrab dengan anime Jepang yang sering mewarnai TV-TV kita tiap hari, seperti Doraemon, Pokemon, atau Detektif Conan. Bagi beberapa orang di Indonesia, bahkan ada yang "kecanduan" dan akhirnya mengkoleksi berbagai hal berbau animasi-aminasi tersebut. Seorang teman bahkan punya koleksi pakaian dalam Doraemon :). Kita begitu memuji negara asal anime-anime tersebut, Jepang. Bisa jadi, mungkin, grup band favorit saya J-Rock, membuat musik bergaya Jepang juga setelah banyak menonton anime2 Jepang. Wallahua'lam.

Namun...

Tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya anime-anime tersebut 50% pembuatannya ternyata dilakukan di Indonesia, tepatnya di Bali oleh perusahaan PT Marsa Juwita Indah.

Hasil dari pekerjaan anak bangsa ini kemudian di kirimkan ke Jepang untuk disempurnakan ke tahap-tahap selanjutnya, lalu didistribusikan ke seluruh dunia. Dari pengerjaan tahap pertama dan kedua untuk animasi Doraemon yang durasinya 24 menit, perusahaan Asiana Wang Animation dan PT Marsa Juwita Indah meraup keuntungan sebesar $30.000 (~270 juta rupiah). Perusahaan-perusahaan anime di Jepang lebih memilih untuk meng-hire perusahaan animasi Indonesia karena kualitasnya bersaing dengan harga terjangkau. Harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan dengan Korea yang mematok $90.000 dan Filipina yang mematok $40.000. (Gatra)

Selain mengerjakan anime, ternyata animator di Indonesia juga mendapatkan tawaran dari Walt Disney. Asiana Wang Animation yang berlokasi di Tanggerang mendapat orderan untuk menggambar tokoh kartun si rusa, Bambi. Menurut pengakuan Amarsyah, Direktur Asiana, saat ini selain Walt Disney, perusahaanya juga turut menggarap kartun yang di produksi oleh MGM dan Warner Bros. Namun ketiga perusahaan raksasa animasi itu tidak mencantumkan nama Asiana Wang Animation di credit title film-film animasi tersebut. Hal ini dikarenakan pengerjaannya tidak seluruhnya dilakukan oleh Asiana, sehingga Asiana juga tidak berhak untuk mendapatkan royalti dari karya animatornya. (Gatra)

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa saat ini di MNC TV dan stasiun-stasiun TV lain sibuk menayangkan anime-anime asing padahal di negeri sendiri kita dijadikan tumpuan perusahaan-perusahaan animasi raksasa dunia?

Bisa jadi yang terjadi adalah karena kita sendiri kurang mampu menghargai produk negeri sendiri. Kita masih melihat banyak orang memilih terbang bersama Singapore Airlines, meski Garuda Indonesia juga sama nyamannya, terkadang jauh lebih murah. Serial Upin-Upin, adalah serial animasi yang mengangkat isu-isu sederhana, dengan teknik animasi yang sederhana juga, namun begitu laku di Indonesia. Bukankah Si Unyil juga menawarkan hal yang sama, lebih mewakili Indonesia, dan dengan isu-isu yang sangat Indonesia?

Pertanyaannya sekarang, kalau dengan attitude konsumsi seperti itu, sanggupkah Indonesia bertahan pada saat Asean Single Market diterapkan pada 2015?

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Asian Games 2019, di Kotamu? Sebelummnya

Asian Games 2019, di Kotamu?

Yuk! Kenal Mereka yang Masuk Forbes 30 Under 30 Asia 2020 (2) Selanjutnya

Yuk! Kenal Mereka yang Masuk Forbes 30 Under 30 Asia 2020 (2)

Akhyari Hananto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.