Lupa Sandi?
/ Front

"Ah..Ternyata Itu Buatan Indonesia To..!

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

Oleh Ahmad Cholis Hamzah, MSc*

Dulu tahun 1982, saya mengikuti program pertukaran pemuda ASEAN dan Jepang atau yang disebut SSEAYP- Ship for South East Asian Youth Program dengan menumpang Nippon Maru – kapal pesiar milik Jepang. Dalam program itu kapal itu menyinggahi masing-masing negara ASEAN dan terakhir Jepang. Selepas mengunjungi Singapura – kami menuju KL- Kuala Lumpur Malaysia. Yang ingin saya share kan dalam tulisan ini adalah pengalaman teman saya yang dengan bangganya membeli tas jinjing untuk ke ke kantor dari Singapura – "from Singapore!" katanya. Namun setelah saya bolak-balik tas itu – ternyata adalah buatan Tanggulangin Sidoarjo Jawa Timur dekat rumah saya.

Sering kali kita bangga dengan produk-produk branded dari luar negeri, dan menjadi bahan kebanggaan karena menjadi symbol kekayaan seseorang atau ke –“elit” an seseorang. Di kota-kota besar di Indonesia utamanya di Jakarta para “socialita” yang sering ngrumpi dan dugem di café dan hotel-hotel mahal, sering memamerkan produk-produk yang melekat di badannya apakah itu sepatu, tas, gelang, anting, baju, parfume dsb dengan bangga karena buatan luar negeri dan mahal harganya.

Namun seringkali kita tidak mengetahui bahwa banyak produk-produk branded itu adalah buatan kita sendiri. Dan anehnya, jarang – atau lebih tepatnya tidak ada diantara orang-orang kaya seperti selebrities, grup-grup socialite itu dengan bangga memamerkan produk-produk kita sendiri dengan berteriak: “from Indonesia you know!”.

Misalkan saja anime Jepang yang terkenal di TV-TV kita Doraemon yang membuat banyak orang diantara kita yang gandrun sampai kecanduan mengkoleksi berbagai hal yang berbau Doraemon. Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya anime-anime tersebut 50% pembuatannya ternyata dilakukan di Indonesia, tepatnya di Bali oleh perusahaan PT Marsa Juwita Indah. Hasil dari pekerjaan anak bangsa ini kemudian di kirimkan ke Jepang untuk disempurnakan ke tahap-tahap selanjutnya, lalu didistribusikan ke seluruh dunia. Animator di Indonesia juga mendapatkan tawaran dari Walt Disney.

Tidak banyak yang tahu juga bahwa Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga menggunakan teknologo buatan anak bangsa Indonesia yaitu teknologi pemindai atau Electrical Capacitance Volume Tomography (ECTV) yang dibuat oleh Warsito P. Taruno kelahiran Solo dari tugas akhirnya ketika menempuh studi di Fakultas Teknik Jurusan Kimia, Shizuoka University, Jepang.

Kita juga belum banyak yang tahu kalau seragam pasukan Amerika Serikat dan NATO dibuat oleh perusahaan – perusahaan dalam negeri di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Dalam diskusi di Metro TV tentang hubungan Uni Eropa dengan ASEAN/Indonesia baru-baru ini (16 Januari 2012), Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Mr. Julian Wilson menjelaskan tentang posisi kuat Indonesia di perekonomian global karena banyak produk –produk di Eropa itu ternyata buatan Indonesia; beliau memberi contoh bahwa sayap pesawat terkenal Airbus itu dibuat di Indonesia. Kita tidak banyak yang tahu bahwa PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sudah melakukan kerja sama dengan Airbus untuk membuat 600 sayap kiri dan kanan Airbus A-380 yang dimulai tahun 2001.

Dan banyak lagi contoh-contoh dimana produk-produk branded dari luar negeri itu ternyata buatan Indonesia. Tapi – “nobody knows”; tentu kita tidak boleh menyalahkan sana-sini, yang penting seharusnya seluruh kementrian yang terkait, Asosiasi Pengusaha Indonesia, Kadin, Perusahaan-Perusahaan, Perguruan Tinggi dan Media bekerja bersama-sama dengan melakukan “high profile” public relations kepada public untuk menjelaskan karya anak-anak bangsa yang mengagumkan itu. Dengan demikian, ada kebanggaan tersendiri di dada anak bangsa ini.

Saya iri sekali dengan teman saya dari Jepang ketika sama-sama belajar di London dulu, dia berkata dengan bangga: “Cholis san, look those Japanese cars dominate that street!”. Saya punya obsesi suatu saat saya akan berkata pada dia: “look, your shoes, your watch, your lap top, your airlines are made in Indonesia!”

*Alumni Universitas Airlangga Surabaya dan University of London. Sekarang dosen di STIE PERBANAS Surabaya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Welcome, Vietnam Airlines

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

The Blue of the Birds

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Internationally-connected Medan

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Konser Keajaiban : Sound From the East

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Liverpool to Manado

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata