Oase yang menggetarkan

Oase yang menggetarkan

Oase yang menggetarkan

SMKN 9 Surabaya, Sebuah Oase. Esti Durahsanti Tugas memfasilitasi acara pertukaran budaya, membawa saya ke SMKN 9 Surabaya Rabu, 18 Januari lalu. Tak seperti SMK-SMK lain yang berfokus pada kemampuan siswa menguasai kecanggihan teknologi, SMKN 9, sebagai satu-satunya SMK di Surabaya, bahkan di Jawa Timur yang berfokus pada pendidikan seni, di mata saya sungguh sebuah oase. Siang itu saya menemani musisi Amerika, Emily Elbert untuk berbagi tentang bagaimana ia meniti karir sebagai musisi independen dan menggunakan media sosial untuk mempromosikan musiknya. Sebagai acara pembuka, gabungan siswa dan guru tampil dengan kesenian karawitan dan sinden. Meski dengan peluh menetes karena tak ada pendingin ruangan, murid dan guru dengan pakaian adat Jawa dengan penuh semangat menampilkan kebolehan mereka menyuguhkan karawitan. Tepuk tangan panjang dari 500-an penonton di auditorium menyambut setiap jeda penampilan mereka. Fitrotus Sadiyah dan Dinda, siswi jurusan tari, dengan mengenakan baju tari tradisional jawa timur, menyambut para penonton. Panas? Jangan ditanya! Tapi senyum tak lepas dari bibir mereka. Ketika ditanya mengapa memilih masuk SMK apalagi memilih jurusan tari, masih dengan senyum mereka menjawab, “Ingin mengasah bakat, dan harus ada mbak yang mau belajar kesenian tradisional,” Ah, saya jadi malu… saya sendiri tak ingat kapan terakhir kali saya mengenakan baju tradisional, kapan terakhir saya menikmati kesenian tradisi? Malah ketika seorang teman dari Amerika mengajak saya nonton wayang kulit karena ia sangat suka dengan gamelan, saya menolak mentah-mentah. Selanjutnya grup Nine Percussion, beranggota siswa/i jurusan musik naik panggung. Mengenakan kaos “I love Surabaya” mereka menyanyikan lagu yang rasanya tak asing di telinga saya, tetapi somehow terasa unik dengan sentuhan gamelan dan perkusi. Lagu apa ya??? Hmm…. Pertanyaan saya akhirnya terjawab ketika Emily Elbert naik panggung dan mengajak Nine Percussion untuk duet. Ternyata lagu yang dibawakan tadi adalah lagu Do Without dan In the Summertime yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Emily Elbert, hanya saja lagu yang aslinya hanya diiringi oleh petikan gitar, kini diaransemen ulang dengan memasukkan unsur gamelan dan bahkan dangdut! Wow Keren!! (ssst… penampilan duet ini bisa dilihat juga di youtube lho). “They gave me chill bump!!” kata Emily mengomentari penampilan Nine Percussion dengan aransemen uniknya. “Love it!” Sedikit tentang SMKN 9 Surabaya.SMKN 9 berdiri sejak tahun 1973 dengan nama KOKAR (Konservatori Karawitan) kemudian berganti menjadi SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) dan sejak tahun 1994 resmi menjadi SMKN 9. Saat ini SMKN 9, yang berlokasi di Jl. Siwalankerto Permai No 1 Surabaya, menawarkan jurusan Tari, Karawitan, Musik, Pedalangan dan Teater dengan jumlah siswa sebanyak 996. Meski dengan fasilitas yang sederhana, berbagai prestasi telah diraih oleh SMK 9, mulai dari menjadi penampil di Festival Seni Surabaya, Festival Gamelan Gaul di Yogya dan berbagai juara lomba band dan seni. Satu lagi keunggulan SMKN 9, tak seperti sekolah-sekolah negeri lainnya yang prosedural dan mementingkan formalitas, SMK 9 sangat terbuka dan mudah diajak bekerja sama. Hanya dengan satu sambungan telepon dan beberapa pesan pendek, acara kerja sama pertukaran budaya ini pun terlaksana. Kepala Sekolah Drs. Djoko Pratmodjo, MM menuturkan bahwa saat ini dia berkonsentrasi pada pembenahan infrastruktur, seperti pembenahan gedung, lab, alat-alat pertunjukan. “Meski sering kita diundang untuk mengikuti perjalanan seni ke luar negeri, tapi jika kami harus mengeluarkan biaya kami terpaksa harus menolak karena sedang membenahi infrastruktur dan fasilitas siswa,” katanya. Ya, di tengah gegap gempita pemberitaan mengenai prestasi siswa-siswi SMK akhir-akhir ini, seperti prestasi gabungan murid dari beberapa SMK di Jawa Tengah dengan mobil Kiat Esemka, SMKN 8 Bandung dengan Mobil “Buggy”, atau SMKN 2 Surabaya dengan mobil pick-up nya, mungkin tak banyak yang tahu tentang prestasi seni yang dicapai anak-anak SMK 9 Surabaya. Meski jauh dari hiruk pikuk pemberitaan media dan sepinya apreasiasi dari para pejabat dan masyarakat, murid dan guru-guru di SMKN 9 terus berkarya dan mencoba menjadi guardian seni tradisi kita yang sarat dengan nilai-nilai luhur bangsa agar tak punah tergerus arus globalisasi. Inovasi terus dilakukan agar seni tradisi ini tak hanya bisa bertahan, tapi juga bisa bersaing dengan budaya popular (pop culture) yang kini menjadi kiblat anak-anak muda, dan Nine Percussion telah membuktikan kepiawaian mereka berinovasi. Good job guys!

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

2 0 1 4 Sebelummnya

2 0 1 4

Ini Dia Nama Lain Delman di Beberapa Wilayah Indonesia Selanjutnya

Ini Dia Nama Lain Delman di Beberapa Wilayah Indonesia

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.