by Ahmad Cholis Hamzah, MSc

Temen saya seorang diplomat asing menceritakan bahwa sebagian besar stationary atau alat-alat kantor di kantornya di beli dari negaranya. Ketika saya bekerja di sebuah Bank Asing juga saya saksikan beberapa peralatan kantornya juga dibeli di negera Bank tersebut. Padahal di Indonesia sebenarnya barang-barang itu ada dan harganya lebih murah. Apa yang dilakukan beberapa institusi asing itu menunjukkan bahwa ada “moral obligation” atau keharusan moral mereka untuk lebih mengutakamakan membeli produk-produk negaranya (walaupun mahal) untuk meningkatkan ekonomi dalam negeri mereka atau untuk upaya menunjukkan kemauan keras untuk membantu produk-produk dalam negeri sendiri. Nampaknya itu juga suatu bentuk nasionalisme mereka. Jadi nasionalisme itu tidak hanya ditandai dengan menangis ketika mencium bendera negara atau mendengarkan lagu-lagu perjuangan, namun itu bisa di tunjukkan dengan kemauan yang keras untuk membeli produk-produk buatan bangsa sendiri.

Negara-negara maju sebelum mereka mengalami kemajuan ekonominya sampai bisa mendominasi pasar global misalkan Inggris dan Jepang, mereka itu lebih dulu meningkatkan “domestic consumption” mereka dengan membeli produk-produk buatan anak bangsa mereka sendiri. Lama kelamaan secra agregat ekonomi mereka tumbuh secara perlahan-lahan, sampai pada akhirnya bisa mengalami take off secara cepat dan produk-produk mereka itu bisa menguasai pasar global.

Strategi memasuki pasar global memang ber-macam-macam, antara lain ketika produk-produk dalam negeri sudah mengalami surplus, maka suatu negara bisa menjualnya ke pasar global baik melalui ekspor maupun melalui agen atau perwakilan dagangnya di luar negeri. Setelah meraka berhasil, maka mereka melakukan standardisasi produk dan brand atau merek global. Dan kita bisa menyaksikan sekarang beberapa merek global terkenal di pasar kita, apakah itu arloji, kamera, computer, mesin cuci sampai mobil dan perbankan.

Semua itu bisa dicapai karena fokus seluruh bangsa adalah mengutamakan pembelian produk dalam negeri untuk membantu produsen dalam negeri bangkit dan mengalami kemajuan pesat demi nama negara. Bahkan dalam era krisis keuangan dan ekonomi global yang melanda Amerika Serikat pun kita bisa menyaksikan upaya Presiden Obama berkampanye “buy American products” dalam rangka membantu industri dalam negeri bangkit dari keterpurukan global. Negara Jepang bahkan sudah lama melakukan hal yang sama sejak negerinya kalah dalam Perang Dunia ke II dulu. Dalam dunia politik internasional juga dikenal bahwa “foreign policy” suatu negara itu “based on national interests”.

Kita mungkin agak terkejut dan mengelus dada atas temuan-temuan tentang dugaan korupsi yang ada di gedung DPR – gedung milik rakyat di Jakarta. Kritikan-demi kritikan bermunculan ketika ada temuan bahwa DPR di ruang Badan Anggaran (Banggar) membeli kursi yang di impor dari Jerman dengan harga Rp 24 juta per kursinya, lalu membeli kain gorden juga dari luar negeri yang satu meternya berharga Rp 6 juta. Para aktivis LSM atau jurnalis melakukan survey sendiri dan menemukan bahwa kursi yang sama atau kain gorden yang sama di Jakarta harganya jauh lebih murah, dan kualitasnya tidak kalah.

Keinginan untuk membeli barang dari luar negeri yang hanya untuk memenuhi “lifestyle” atau gaya hidup “modern”, adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat rakyat – karena uang yang dipakai dari rakyat dan juga merupakan bentuk yang “tidak nasionalis” karena tidak memperjuangkan produk-produk nasional menjadi tuan di rumahnya sendiri.

*) Ahmad Cholis Hamzah, MSc adalah alumni University of London dan Universitas Airlangga Surabaya, dan sekarang menjadi dosen di STIE PERBANAS Surabaya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu