Lupa Sandi?
/ Front

Malaysia dan Anwar Ibrahim-nya..

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Malaysia dan Anwar Ibrahim-nya..

By Ahmad Cholis Hamzah, MSc

Pilihan Raya Umum (PRU) ke 13 di Malaysia sudah dekat waktunya dan akan merupakan masa yang critical bagi para pemimpin partai politik Malaysia yang akan terlibat dalam Pilihan Raya itu, terutama antara pemimpin partai berkuasa UMNO dan pemimpin partai-partai oposisi – atau pembangkang di Malaysia. Figur Datuk Seri Anwar Ibrahim saat ini termasuk salah satu pemimpin Malaysia yang akan menghadapi pertarungan penting yang akan membawa sejarah Malaysia kedepannya.

Bagi khalayak ramai di Indonesia sosok Datuk Seri Anwar Ibrahim yang lebih dikenal sebagai Pak Anwar Ibrahim bukanlah figur asing, karena sejak muda belia ketika menjadi aktivis Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia dia sudah sering ke Indonesia. Bahkan pada tahun 1967 dan Pak Anwar Ibrahim pernah mengikuti training per-kaderan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di Pekalongan Jawa Tengah. Pada waktu itu HMI di pimpin oleh almarhum Nur Cholis Majid. Karena itu jangan heran kalau sampai sekarang dia memiliki banyak teman di Indonesia terutama para alumni HMI seperti Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden), Prof. Amin Rais (mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat atau MPR), Fahmi Idris (mantan Menteri Perindustrian), Almarhum Ekky Syahrudin (mantan Duta Besar Indonesia untuk Kanada) dan Almarhum Imaduddin atau Bang Imad (dosen di Institut Teknologi Bandung-ITB) dan lain-lainnya.

Baca Juga

Banyak teman-teman Pak Anwar Ibrahim mantan aktivis HMI itu yang menjadi menteri pada jaman Suharto dan pada jaman reformasi ini. Sebagian besar teman-teman Pak Anwar Ibrahim juga pengurus partai Golkar yang pernah berkuasa dan memudahkan bagi Pak Anwar ketika masih di UMNO untuk melakukan hubungan intensif dengan partai Golkar.

Kedekatannya dengan beberapa tokoh aktivis mahasiswa Islam maupun Indonesia juga menjadi kritikan pihak-pihak yang tidak senang pada Datuk Anwar Ibrahim, sampai-sampai di tuduh sebagai “antek Indonesia” karena selalu “membela Indonesia” dalam setiap kunjungannya ke Indonesia.

Tentu belum diketahui pasti peluang Datuk Anwar dalam Pilihan Raya Umum itu, karena dia harus berhadapan dengan partai UMNO yang mirip dengan Golkar di Indonesia. Partai yang memiliki pengalaman panjang dan network yang rapi dari kota besar atau Bandar sampai ke desa-desa dan kampung-kampung. Partai UMNO juga memiliki kader yang memiliki track record yang panjang juga.

Di Indonesia ada perilaku pemilih atau voters’ behavior yang menarik, para pemilih di desa-desa atau bahkan di kota-kota lebih memilih figur daripada program partai. Karena itu Presiden SBY berhasil menang dua kali pemilihan presiden karena pemilih senang dengan figur SBY. Orang Jawa yang memiliki postur tubuh tinggi dan bicaranya tidak meledak-ledak. Walaupun political machinery Partai Demokrat – Partainya SBY tidak berjalan, tapi SBY tetap menang – karena voters lebih memilih figur bukan program partai. Mereka memilih SBY karena bersimpati pada SBY sebagai korban politik yang “di dzolimi” penguasa waktu itu.

Kita tidak tahu apakah pemilih Malaysia memiliki karakter yang sama dengan yang ada di Indonesia, sehingga memilih fugur Datur Anwar Ibrahim sebagai figur yang diharapkan Malaysia kedepan, dan sebagai figur yang juga menjadi korban penguasa. Saya tentu bukan expert atau pakar dalam politik Malaysia, namun tentu partai pendukung Datuk Seri Anwar Ibrahim yaitu Democrat Action Party (DAP), PAS dan PKR sudah memiliki strategi yang jitu dalam menghadapi lawan yang sudah berpengalaman. Mereka juga sudah mafhum bahwa UMNO memiliki jaringan yang luas di negeri jiran ini.

Wallahualam.

*) Ahmad Cholis Hamzah, MSc, alumni University of London dan Universitas Airlangga Surabaya, dan sekarang dosen STIE PERBANAS Surabaya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Welcome, Vietnam Airlines

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

The Blue of the Birds

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Internationally-connected Medan

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Konser Keajaiban : Sound From the East

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Liverpool to Manado

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie