Lupa Sandi?
/ Front

Lapangan Hijau dan Desa Dunia

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Lapangan Hijau dan Desa Dunia

Penulis: Ahmad Cholis Hamzah, MSc

Pada waktu perhelatan piala dunia diselenggarakan kita seringkali disuguhi acara kuiz dengan berbagai hadiah menarik di salah satu stasiun TV swasta yang memiliki hak tayang perhelatan tadi. Yang menarik adalah ketika pertanyaan-pertanyaan kuiz dilontarkan oleh beberepa selebritis di kafe-kafe di beberapa kota besar itu, hampir semua yang menjawab dengan jawaban benar adalah anak-anak kecil atau muda. Sangat mengagumkan memang. Bayangkan dengan pertanyaan seperti tahun berapa Jerman menjuarai piala dunia, Lionel Messi bermain di klub apa di Eropa, semuanya itu terjawab dengan tepat oleh anak-anak tadi. Mereka seperti jaman kecil saya ketika ditanya soal tahun perang Diponegoro, pasti menjawab dengan lantang: “1825-1830!”.

 Anak-anak sekarang memang pandai sekali menghafal sesuatu yang datangnya dari luar negeri misalnya piala dunia tadi, atau cerita sinetron Asia dari Korea Selatan, serta judul film-film lainnya berikut nama-nama bintang filmnya. Hal ini kemudian menimbulkan keluhan dari generasi yang lebih tua dengan mengatakan bahwa mereka sudah tidak faham cerita-cerita bermakna dari dalam negeri sendiri, tidak tahu nama pahlawannya sendiri, lebih menyenangi produk luar negeri dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa perasaan kebangsaan anak-anak sekarang sudah menurun, dan itu dikatakan sebagai akibat dari globalisasi.

Apakah mereka salah? Lalu apakah kita perlu menutup diri? Tentu jawabannya tidak, anak-anak kita tidak salah sebab pada jaman teknologi yang canggih yang mendunia, tidak satupun anak di jagad ini yang buta terhadap kemajuan teknologi. Apakah anak –anak di negeri China, di negara-negara Timur Tengah, Afrika tanpa kecuali menerima kemajuan itu dengan pelbagai sisi positif dan negatifnya. Persoalannya sekarang kita sering kali menunjuk kambing hitam dalam persoalan semacam ini tanpa melakukan tindakan-tindakan kongkrit. Misalkan saja buku-buku sejarah kita sudah tidak informatif dan menarik lagi sebagai bahan bacaan remaja, terlalu banyak tahun yang harus dihafalkan tanpa menceritakan secara seksama kejadian-kejadian sejarah dalam kurun tahun tertentu dengan bahasan menarik.

Baca Juga

Padahal negara – negara majupun yang kita anggap sebagai sumber globalisasi itu seringkali membuat film tentang keterlibatan negaranya dalam sebuah perang, film kepahlawanan mereka yang dikemas dengan cerita modern, mereka membuat musium yang lengkap yang menjelaskan tentang sejarah bangsanya. Musiumnya pun tidak hanya berisi soal batu-batu peninggalan jaman dulu, namun juga menampilkan baju para pahlawan, sejarah media, sejarah ilmu pengetahuan, sejarah musiknya, sejarah perekonomiannya dsb.

Di dunia film atau sinetron, kita seringkali menampilkan cerita – cerita “khayali” dengan peran-peran yang glamor, misalnya rumah gedung dan mobil yang mewah tanpa dijelaskan bagaimana lakon dalam film atau sinetron itu mendapatkannya. Anak-anak tentu lebih mudah menerima informasi yang bersifat khayali tadi di memorinya, bahkan mereka faham betul akan bentuk rambut pemain meteor garden ketimbang materi pelajaran sekolahnya.

Globalisasi yang dicirikan antara lain dengan majunya sektor teknologi informasi, tentu tidak perlu ditakuti dengan cara menutup diri atau sembunyi-sembunyi, toh negara-negara jiran kita yang juga dilanda globalisasi ini malah memanfaatkannya untuk kemajuan negaranya, lihat saja Brunei, meskipun dilanda globalisasi dengan datangnya guru-guru asing, konsultan minyak asing, guru kursus asing dsb, toh mereka tetap tegar menampilkan budaya melayunya, Yang beragama Islam tetap pakai jilbab, peci, mengaji, tahlil dst. Negara Jepang, sebagai salah satu negara yang berpengaruh dalam era global ini, juga begitu, banyak ibu-ibu yang tidak malu memakai kimono, mereka juga tetap membungkukkan badannya ketika berjumpa dengan orang yang dianggap lebih senior.

Aflin Tofler dalam bukunya “The Third Wave” pernah memprediksi bahwa bahwa dunia ini pada periode 1970 sampai tahun 2000 an akan mengalami apa yang disebut dengan “Gelombang Ketiga”. Kalau gelombang pertama (8000 BC – 1700) dicirikan dengan adanya sektor pertanian, dan gelombang kedua (1700 – 1970) dicirikan dengan revolusi industri maka masyarakat gelombang ketiga ini mengalami dan menyaksikan kemajuan teknologi dalam bidang 1) komunikasi dan pengolahan data, 2) penerbangan dan aplikasi angkasa, 3) energi alternatip dan energi yang dapat diperbaharui dan 4) genetik dan bioteknologi pada umumnya, dengan mikroelekronik serta komputer sebagai teknologi intinya. Kalau pada gelombang kedua itu peradaban manusia mengutamakan kekuatan fisik manusia, pada gelombang ketiga peradaban manusia banyak mengutamakan pelipatgandaan kekuatan pikir manusia terutama dibidang teknologi, karena itulah peradaban gelombang ketiga ini seringkali dinamakan sebagai “masyarakat informasi”.

Kemajuan teknologi diatas terutama dalam bidang komunikasi menyebabkan jarak Los Angeles – Surabaya sama dengan jarak Surabaya – desa atau Los Angeles – desa. Karena itu teknologi komunikasi dalam bidang satelit dan TV memungkinkan terjadinya “Desa Dunia” yang pernah diramalkan oleh McLuhan. Sementara itu John Nisbit pernah mengatakan: “with the coming of the information society, we have for the first time an economy based on a key resource that is not only renewable but self generating” . (dengan datangnya zaman masyarakat informasi, pertama kali kita akan mempunyai suatu ekonomi yang bekerja berdasarkan suatu sumber utama yang tidak hanya dapat diperbarui, tapi juga dapat tumbuh dan memperbanyak diri dengan kekuatan sendiri.

Dengan demikian pelipatgandaan informasi dengan cepat akan dan sedang terjadi, tidak pernah kekurangan dan bahkan muncul bahaya akan tenggelam di lautan informasi yang tidak terkontrol dan tidak teroganisir. Peluberan informasi atau “spillover” informasi seringkali membawa macam-macam berita mulai dari masalah teknologi, kriminal, politik, narkotik sampai ke tayangan-tayangan sinetron baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri.

Seperti yang diungkapkan diatas, kita tentu tidak bisa menolak arus perkembangan ini, yang harus kita lakukan adalah secara cerdas memilih hal-hal yang baik dan berguna dan memakainya untuk memperkuat posisi yang menguntungkan Indonesia serta mempergunakannya untuk mengejar keterbelakangan Indonesia dengan negara-negara lain. Dalam kompetisi global saat ini, bangsa yang akan tampil sebagai pemenang adalah bangsa yang menguasai kemajuan teknologi informasi ini.

Karena itu ada baiknya, metode transfer informasi tentang sejarah atau ilmu pengetahuan atau lainnya misalnya sudah selayaknya di evaluasi. Bentuk penulisan dengan bahasa yang kaku akan menimbulkan kebosanan anak remaja dalam memahami suatu materi yang membacanya karena anak-anak kita itu saat ini berada pada situasi “spillover” lautan informasi. Di beberapa negara maju pemberian informasi tentang ilmu pengetahun yang berbagai ”Science Centre” atau musium dibuat dengan penampilan bahasa yang mudah dan menyenangkan anak – anak, misalkan dengan hanya menekan tombol pada suatu keyboard, maka anak-anak itu bisa melihat di layar monitor tentang sejarah para pahlawan, para olahragawan, para penemu ilmu pengetahuan dsb, layaknya menonton bioskop layar lebar.

Perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini seperti yang diprediksi Aflin Tofler tadi, memang harus dicermati dengan seksama, namun harus tetap diambil hal-hal yang positif dan dimanfaatkan untuk membangkitkan jati diri bangsa, bukan sebaliknya. Dan kita tidak perlu menyalahkan anak-anak kita yang lebih faham akan hal-hal yang berbau luar negeri, karena kita sendiri sudah tidak pernah memberikan informasi yang bermanfaat kepada mereka tentang diri kita sendiri. Kita prihatin terhadap anak-anak kita yang hafal pemain Meteor Garden, namun sebaliknya kita tidak pernah sama sekali menginformasikan kepada anak-anak bahkan pada dunia luar tentang kita melalui kemajuan teknologi informasi itu. Padahal anak-anak pelajar Thailand itu belajar sejarah Indonesia terutama sejarah Majapahit dan Sriwijaya.

Di level propinsi kita misalnya dalam bidang ekonomi, kita jarang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ini dengan menyebarkan informasi tentang analisa sektor-sektor perekonomian yang potensial, karena itu orang luar sulit sekali mendapatkan informasi tentang misalnya analisa panjang maupun singkat tentang ekonomi beras, minyak, petrokimia, kerajinan rakyat dsb. Yang mereka dapatkan dari website kantor-kantor pemerintahan di Jatim ini hanyalah tentang batas-batas wilayah Jatim, sejarah dan kemudian nama-nama bupati atau pejabat DPRD. Para Wisatawan juga tidak mendapatkan cukup informasi jelas tentang transportasi, keamanan, budaya setempat dsb.

Dengan demikian sekarang, dalam hubungannya dengan judul tulisan ini jangan mengelus dada kalau generasi kita banyak yang tidak tahu pemain sepakbola kita yang bernama Ramang, San liong atau Sinyo Aliando karena kita tidak pernah memberi informasi kepada mereka, sementara mereka saat ini berada pada tahapan peradaban masyarakat gelombang ketiga seperti kata Aflin Tofler tadi.

*) Alumni FE Unair dan University of London, saat ini sebagai Wakil Ketua I IKA UNAIR FE dan dosen pada Stie Perbanas, Stiesia.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Welcome, Vietnam Airlines

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

The Blue of the Birds

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Internationally-connected Medan

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Konser Keajaiban : Sound From the East

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Liverpool to Manado

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie