Saya selalu gagal memahami ketika melihat demonstrasi yg akhir-akhir ini terjadi terkait BBM selalu berakhir dengan anarki. Ada mobil, gedung, yang dibakar, atau polisi dan mahasiswa yang terluka, ada peserta demo yang membawa bom molotov, pintu tol dirobohkan, pintu DPR dirobohkan, dan lain lain. Bukan apa-apa, tindakan pemaksaan kehendak bisa dilakukan oleh siapa saja, dan dalam hal ini, para demonstran pun telah (walaupun tak mereka sadari) melakukan hal serupa. Suatu hal yang jelas-jelas keluar dari koridor "membela rakyat". Saya tidak akan membahas apakah benar mereka murni membela rakyat atau tidak, pun tidak juga membahas apakah sebelum demo mereka membekali diri dengan pengetahuan akurat dan memadai tentang apa yang mereka demo-kan atau tidak. Saya diluar itu. Pun di luar apakah saya setuju BBM naik atau tidak. Kata orang jawa, "wis ono sing ngurus". Saya kedatangan kakak saya dari Jogja sabtu lalu, meski cuma mampir sekejap, kedatangannya membawa pikiran saya jauuuuh kembali ke masa kecil kami, dimana kami selalu belajar bersama, hampir tiap malam. Kalau saya suka pelajaran sejarah dan geografi, kakak saya ini dulunya hobi banget membaca buku PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Tidak tahu kenapa, ada satu hal yang selalu dia ingin hafalkan, yakni "mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan". Kalau ingat itu, kami berdua selalu tertawa, kenapa dulunya dia suka kalimat itu. Kedatangannya yang singkat kemaren menjadi cukup istimewa, mengingat kota tempat saya tinggal sekarang, Surabaya, saat itu sedang dikepung demo anti kenaikan BBM. Dan kalimat kesukaan dia tersebut, menjadi hal yang luar biasa sulit dicari sekarang ini, ketika pemaksaan kehendak menjadi jalan pintas. Kemana perginya "kalimat" itu?  

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu