by Akhyari Hananto

Tentu kita masih ingat, 3-5 tahun lalu, seluruh dunia menggambarkan betapa hebatnya pertumbuhan ekonomi China, India, dan Vietnam.  Iya kan? Kita ingat betapa seolah-olah semua analisa ekonomi dari para ekonom dunia selalu terhubung dengan ekonomi ketiga tersebut.  Terutama Vietnam, yang bahkan digadang-gadang akan segera melewati ekonomi Filipina dalam waktu dekat.

Beberapa teman saya dari Eropa mengatakan bahwa orang2 Vietnam bahkan lebih rajin dan disiplin dibanding dengan orang China sekalipun (yang terkenal rajin dan disiplin), sehingga kemajuan ekonomi Vietnam dalam 20 mendatang hampir tidak terhentikan. Saya setuju bagian pertamanya..

Di Vietnam sendiri, optimisme dan kepercayaan diri juga begitu membumbung tinggi. Mulai dari pemerintah, media, dan rakyat biasa meyakini bahwa inilah era kebangkitan mereka. Teman2 di Filipina pun..sebenarnya mulai grogi dan nervous karena kalau ekonomi Vietnam maju, Filipina-lah yang akan menjadi "korban" pertama yang dilewati.

Mungkin sangat sedikit yang menyangka, bahwa Vietnam akan "tumbang" bahkan sebelum benar-benar "tumbuh" secara nyata.

Menurut majalah The Economist, yang paling "pincang" dari perekonomian Vietnam saat ini adalah inflasinya yang "tidak terkendali", dan dalam 3 tahun terakhir, 2 kali inflasinya menembus angka di atas 20%. Bahkan para jurnalis yang akan mengabarkan inflasi tersebut, dihalang-halangi oleh pemerintah. Banyak sekali perusahaan bangkrut, BUMN dan perbankan di Vietnam juga makin ketara ketidak-efisienannya serta terjerumus dalam korupsi.

Cukup mengagetkan kiranya, karena selama 2003-2007, ekonomi Vietnam tumbuh rata2 8% setahun, salah satu yang tertinggi di dunia, disebabkan oleh membanjirnya investasi luar negeri ke Vietnam. Namun saat ini, banyak pengamat yang memprediksi bahwa Vietnam hanya akan tumbuh di bawah 5%, sesuatu hal yang tak terbayangkan bagi negara yang sedang membumbung harapannya tersebut.

Masih menurut the Economist, pada 2020, ekonomi Vietnam hanya 1/3 dari seharusnya (kalau paling tidak tetap tumbuh 7% per tahun). Kebimbangan investor kini makin menjadi-jadi setelah inflasi menembus rekor 20%, dan lagi, biaya tenaga kerja di Vietnam tidak lagi murah. Sehingga di Indonesia kita sering dengar banyak perusahaan2 manufaktur yang memindahkan investasinya dari Vietnam ke Indonesia, atau negara lain.

Dan sepertinya, para pemimpin Vietnam menyadari itu, namun terlambat berbuat sesuatu.

Bukan karena ekonomi Vietnam turun saya gembira, namun ini momentum penting bagi Indonesia untuk  mengisi "ruang kosong" yang ditinggalkan Vietnam, dan Indonesia mempunyai semua yang dibutuhkan untuk itu, inflasi yang rendah (4.5% tahun lalu), serta indikator2 ekonomi lain tetap tumbuh terjaga.

Yang penting bagi Indonesia adalah, menjaga agar ekonomi tetap tumbuh stabil, inflasi terjaga, defisit terjaga, politik dan keamanan stabil, serta yaa...tentu saja teman2 diplomat ekonomi mampu menjalankan tugasnya.

Mari, sebelum terlambat..

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu