Oleh: Suzie Sugijokanto

Kata kebebasan mungkin berkaitan dengan kata demokrasi yang sering kita dengar dan kita lontarkan akhir-akhir ini. Tapi kebebasan apakah yang dimaksud ? Bagaimanakah kita dapat belajar untuk menjadi suatu komunitas yang berdemokrasi ?

Banyak orang salah mengartikan kebebasan di era demokrasi ini sebagai usaha untuk bebas melakukan apa saja karena manusia terlahir mempunyai kehendak bebas untuk menentukan nasib sendiri. Sehingga bila kebebasan ini sedikit dibatasi, kita pun dapat sebebas-bebasnya menentukan tindakan apa yang akan kita ambil agar kebebasan kita tidak terikat sama sekali. Bahkan tidak jarang kekerasan akhirnya terjadi dimana-mana tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain hanya untuk memperjuangkan kebebasan sekelompok orang tertentu. Yang dimaksud dalam kebebasan dalam sistem demokrasi ini bukan kebebasan yang mutlak, tapi kebebasan yang bertanggung jawab terhadap kepentingan orang lain juga. Inilah yang sulit ditentukan karena setiap orang mempunyai batasan yang berbeda-beda. Kita perlu semangat yang menggugah untuk belajar saling menghargai dan menghormati perasaan orang lain agar jangan sampai kebebasan kita menjadi belenggu untuk orang lain.

Kita sebagai makhluk sosial dituntut dapat hidup dan bekerja sama dengan orang lain yang unik dan berbeda satu sama lain. Masalah terjadi ketika perbedaan yang ada diantara kita dipakai untuk saling menyerang, padahal dengan adanya perbedaan kita sebenarnya dapat saling melengkapi dan memperkaya wawasan. Perbedaan cara berpikir adalah hal utama yang menjadi pemicu kekerasan yang timbul dimana-mana dan ini sebenarnya dapat diatasi dengan duduk bersama dalam dialog tanpa ada saling menyudutkan dari semua pihak. Kita berdialog untuk mencari solusi yang tepat dan tidak mengganggu kenyamanan pihak lain, untuk itu diperlukan sedikit pengorbanan dari masing-masing pihak. Bila masing-masing pihak bersikukuh untuk mempertahankan pendapatnya, tentu ini juga bukan dinamakan demokrasi. Layaknya seorang remaja yang sedang tumbuh dan mengalami masa-masa bergejolak, kita memang masih perlu banyak belajar untuk dapat menjadi seorang dewasa yang mandiri. Dan sosok seorang remaja masih begitu rentan untuk mudah menerima tawaran dari berbagai pihak baik tawaran yang baik maupun yang buruk.

Dia tetap mempunyai kebebasan untuk memilih, tapi dia masih membutuhkan banyak bimbingan orangtua agar dapat memilih dengan tepat dan bertanggung jawab terhadap konsekwensi dari pilihannya tersebut. Bila orangtua tidak membantu memberi pandangan secara netral akan hal-hal positif dan negatif dari pilihannya tersebut, dia tidak akan mampu membuat pertimbangan yang matang sebelum menentukan keputusan. Begitu tiba merasakan hal yang kurang nyaman akibat pilihannya sendiri, remaja yang tidak bertanggung jawab akan melarikan diri bahkan melempar konsekwensi dari pilihannya tersebut pada orang lain. Orangtua yang kurang sabar dalam mendidik anak juga tentu sudah mengambil alih dalam menentukan keputusan untuk masa depan si remaja, padahal seharusnya anak lah yang harus membuat keputusan untuk dirinya sendiri sehingga akhirnya tidak selalu bergantung pada orang lain. Cara otoriter ini juga tidak dapat dibenarkan.

Sebagai bangsa yang sedang bertumbuh, kita memang baru belajar menjadi negara demokrasi tapi kita juga sedang belajar untuk mampu memilah-milah mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan kondisi kita sendiri. Bila tidak sesuai dengan kebudayaan dan kondisi kita, tidak usah ragu untuk menolak karena kita bukan type yang begitu mudah tergiur akan tawaran-tawaran menarik dan malah menjadi ladang subur keuntungan orang lain serta bangsa yang mudah dipecah-belah. Karena kita adalah bangsa yang mampu mempertahankan kemandirian dan hal-hal positif demi kebaikan bersama. Wajar bila kita temukan masih mempunyai banyak kelemahan diri tapi inilah yang harus kita atasi bersama dan dari banyak kelemahan inilah kita akan tumbuh menjadi negara besar yang mandiri. Kebebasan dalam negara demokrasi adalah kebebasan yang juga mempertimbangkan kepentingan orang lain bukan kebebasan yang absolut.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu