Lupa Sandi?
/ Front

"Berdarah-darah" di Myanmar

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

-Akhyari Hananto-

Beberapa waktu lalu, saya masih ingat pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI mengungkapkan sebagai berikut "Myanmar ini kan menjadi baik karena jasa Indonesia. Nah, tentu jangan kita yang menolong Myanmar, tapi ketika ekonominya bagus nanti yang memanfaatkan justru adalah perusahaan-perusahaan dari luar Indonesia. Oleh karena itu, tahun ini BUMN membuka kantor perwakilan". Sebuah pernyataan "Myanmar ini kan menjadi baik karena jasa Indonesia" bagi banyak orang tidak berarti apa-apa, namun bagi saya,  adalah sebuah pernyataan maha penting. Mari kita coba memahami..

Saya ambil contoh Kamboja. Negeri itu porak-poranda dalam perang saudara dan pembunuhan massal pada paruh akhir 70'an ketika Khmer Merah berkuasa. Dunia waktu itu seolah-olah "diam" saja, dan mungkin karena tidak tahu harus berbuat apa.  Meski kemudian tentara Vietnam menginvasi Kamboja dan mengusir Khmer Merah dari kekuasaan pada 1979, Kamboja tetap dilanda peperangan saudara di sana-sini. Saat itu, Indonesia dan Prancis-lah yang menginisiasi perundingan perdamaian antara pihak-pihak yang bertikai, dan Indonesia berperan sangat besar dalam memulihkan perdamaian di Kamboja. Indonesia bahkan mengirimkan tentara penjaga perdamaian Kontingen Garuda XII B ke Kamboja 1992-1993, sebagai bukti komitmen Indonesia mendukung Kamboja menjadi negara yang damai.

Kamboja memang kemudian menjadi damai, namun Indonesia sedikitpun tidak mengkapitalisasi perannya di Kamboja secara ekonomi. Akhirnya hingga sekarang, pengusaha2 dari Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura yang 'berkuasa' di negeri itu.

Baca Juga

Hal yang sama jangan terjadi di Myanmar. Kita telah lama pasang badan membela Myanmar meski dengan berbagai tekanan, tak hanya dari negara2 barat, bahkan dari sesama Asean, yakni Filipina, yang tanpa henti 'mengutuk' Myanmar. Tidak itu saja, Indonesia-lah yang gigih memperjuangkan Myanmar menjadi ketua ASEAN 2014 meski mendapat tekanan dari berbagai pihak. Indonesia lah juga yang tanpa henti mendorong Myanmar dan mendukungnya menjadi tuan rumah SEA Games 2014.

Dan lihatlah..Myanmar pelan-pelan membuka diri. Belum sempurna...tapi kegigihan Indonesia rasanya memang membuahkan hasil. Saya sepenuhnya mendukung ekspansi ekonomi Indonesia ke negeri tersebut. Jangan terulang kejadian Kamboja.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Welcome, Vietnam Airlines

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

The Blue of the Birds

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Internationally-connected Medan

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Konser Keajaiban : Sound From the East

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Liverpool to Manado

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara