Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*

Di banyak negara termasuk di Indonesia seringkali bermunculan dugaan-dugaan atau teori atas suatu kejadian yang umum disebut Consipiracy Theory. Misalkan soal dugaan partai politik atau perusahaan yang dipengaruhi asing, atau partai politik yang berkuasa mendapat uang haram dari pemilik perusahaaan besar dsb. Dugaan seperti ini bisa jadi benar, bisa jadi hanya rekaan semata. Kalau pihak-pihak yang diduga tidak melakukan klarifikasi maka dugaan-dugaan seperti itu berubah menjadi suatu kebenaran.

Dugaan-dugaan yang beredar di publik bermacam-macam, yang salah satunya dugaan tentang kiprah negara jiran Malaysia, misalnya bahwa para pelaku terorisme dari Malaysia itu memang sengaja di ciptakan dan dilindungi Malaysia, dan sengaja dikirim untuk melakukan terror di Indonesia. Atau bahwa kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan itu “sengaja” dilakukan oleh para pelaku usaha dari negeri jiran ini terutama yang bergerak di bisnis kelapa sawit. Rumor seperti ini beredar luas di publik lewat blackberry messenger.

Publik bisa tersihir dan mempercayai hal seperti itu sebagai kebenaran, manakala tidak ada penjelasan resmi tentang benar tidaknya kejadian seperti itu. Jadinya publik akhirnya sering mengkait-kaitkan satu persoalan ke persoalan lain. Misalnya soal keamanan batas negara, perlakukan tidak manusiawi majikan negeri jiran terhadap pekerja Indonesia, soal klaim budaya, matinya orang hutan di Kalimantan, kasus berdarah di area perkebunan di Mesuji Lampung dan sebagainya. Karena itu tidak heran Indonesia dan Malaysia itu pada dasarnya adalah tetangga dekat tapi rasanya jauh dikarenakan adanya perasaan saling mencurigai.

Tidak menutup fakta bahwa banyak tenaga kerja Indonesia, termasuk para ahli Indonesia – guru, dosen, insinyur, pelatih olah raga dan lain-lain yang memilki kontribusi atas perkembangan dan kemajuan perekonomian Malaysia. Sebaliknya beberapa perusahaan Malaysia dari usaha telekomunikasi, perbankan dan perkebunan juga berkiprah di perekonomian Indonesia.

Tentu perusahaan-perusahaan Malaysia itu seperti halnya perusahaan-perusahaan dunia lainnya memiliki Corporate Social Responsibility – CSR yang mempunyai program Community Development. Hanya saja harus diakui bahwa masyarakat Indonesia tidak banyak mengetahui hal itu karena tidak banyak perusahaan-perusahaan Malaysia yang memberitakan di media secara luas kontribusi mereka kepada masyarakat melalui CSR mereka.

Padahal kegiatan sosial kemasyarakatan dari perusahaan-perusahaan itu juga bisa menjadi media baik untuk menjadi jembatan mengatasi berbagai dugaan negative yang disebutkan diatas. Belum terlambat..

*Alumni University of London UK, Universitas Airlangga Surabaya dan dosen di Perbanas Surabaya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu