"Diadu dengan MH Thamrin pun Berani"

"Diadu dengan MH Thamrin pun Berani"
info gambar utama

By Akhyari Hananto

"Berkunjunglah ke pelosok manapun di Propinsi Yogyakarta, dan rasakan sendiri jalan yang halus dan mulus hingga pelosok desa. Lain dengan daerah lain" itu bunyi BBM seorang kawan  ke saya beberapa waktu lalu. Saya tidak merasa perlu membalasnya karena saya setuju dengan pendapatnya, karena selain saya sendiri adalah orang asli Jogja dan saya selalu mengagumi ke-halus-mulus-an jalan-jalan di Jogja.

Kita sering membayangkan  Jakarta akan seperti  Beijing, Seoul, atau Bangkok, kota yang dulunya semrawut menjadi megacity yang mempesona. Tidak salah berangan-angan seperti itu, namun membandingkan Jakarta dengan kota-kota tersebut seringkali membuat saya frustasi dan tepuk-tepuk jidat. Karena bahkan, dalam hal infrastruktur jalan saja Jakarta sepertinya perlu melihat tetangganya D.I.  Yogyakarta.

Entah kapan dimulainya, namun sejak gempa bumi 2006 yang menghancurkan banyak jalan dan jembatan di Yogyakarta, sepertinya banyak sekali jalan-jalan di pedesaan (termasuk jalan yang membelah sawah yang penggunanya kebanyakan sepeda dan motor) yang kemudian di-hotmix, atau paling tidak dibangun dengan kualitas sangat baik.

Jalan di depan rumah saya, di kecamatan Pakem, hingga ke Cangkringan dan kaki Gunung Merapi sangatlah halus, saya kadang tidak membiarkan lewat jalan tersebut tanpa (sedikit) ngebut dengan mobil butut saya, hal yang tak mungkin saya lakukan di jalan-jalan di Jawa Timur yang berlubang dan bergelombang. Pun jalan-jalan di Kabupaten Gunung Kidul, daerah yang dari dulu dikenal miskin, kini terhampar jalan yang "halusnya bisa diadu dengan jalan MH Thamrin" kata teman saya.


Jalan di Gunung Kidul

Banyak kawan-kawan saya yang datang ke Jogja dibuat iri oleh prasarana publik Jogja, termasuk jalan-jalannya. Yang membuat mereka iri bukan saja secara kualitas dan pemeliharaan jalan-jalan di Jogja lebih 'manusiawi', tapi mereka juga sepenuhnya sadar bahwa  APBD yang dimiliki Jakarta 15 X lipat lebih besar dibandingkan APBD DIY.

Tentu, membangun di Jakarta tidak sama dengan  di Jogja, namun ada satu hal  yang semestinya selalu dipegang, yakni komitmen. Komitmen untuk menjalankan amanah rakyat, komitmen untuk tidak mengkorupsi  dana pembangunan, komitmen untuk memberikan yang terbaik, komitmen untuk memulai semuanya dari sekarang, dari yang kecil. Dan Yogyakarta sudah memulai..

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini