Sunrise to sunset The fullness of beauty in life Scarcely have we seen as of yet - Salient the sky With the inherent intensity of merely being, And the penetrating pleasure of simply asking why, Why, oh why Do we live... into The day we die.

Itulah sepenggal puisi karya Smoky Hoss yang saya sukai. Saya kemudian ingat suatu waktu, ketika saya masih bekerja di Jakarta, saya pernah ditawari untuk pergi ke Ternate, sebuah negeri yang selalu terpendam dalam  ingatan sejarah saya. Pak Yadi guru SD saya selalu bersemangat ketika menceritakan sejarah awal kedatangan bangsa barat mencari rempah-rempah, dan beliau selalu menggambarkan bahwa pulau-pulau kecil di Kepulauan Maluku sebagai "pulau-pulau yang hijau dengan bukit-bukit dengan pohon kelapa menjulang, dan pantai berpasir putih". Saya dan teman-teman sekelas terkesima dengan deskripsi beliau tentang pulau 'surgawi' tersebut, apalagi ketika dibarengi dengan menunjukkan letak pulau-pulau di Indonesia timur tersebut di peta. "Alangkah jauhnya dari Jogja" pikir saya waktu itu.

Tapi itulah yang terlintas di benak saya ketika kawan saya yang asli Ternate tersebut menawarkan tiket gratis PP naik kapal laut. Sebenarnya saya sangat tertarik dengan tawaran tersebut, apalagi di Ternate, saya bisa menumpang menginap di rumah dia. Namun saya terpaksa menolak karena waktu itu tidak  mungkin saya meninggalkan kantor selama 3 minggu (kawan saya mengambil cuti selama itu). Perasaan saya waktu itu seolah-olah seperti menumpahkan dengan sengaja segelas air dingin ketika sedang kehausan.

Seolah-olah saya merasakan angin berhembus menerpa wajah saya ketika saya mendapatkan kesempatan kedua untuk pergi ke Ternate, dibayari pula. Dan kali ini naik pesawat terbang.

Setelah transit satu malam di Makassar, esoknya waktu matahari terbit, saya terbang menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Itulah waktu yang sangat baik menikmati pemandangan pulau-pulau di Maluku Utara, ketika matahari masih malu-malu di ufuk timur, namun sebagian sinarnya mulai memancar di sela-sela awan, dan langit di timur menjadi merah dan kuning keemasan. Pulau Ternate adalah pulau vukanik kecil dengan gunung Gamalama yang menjulang. Pulau-pulau disekitarnya juga adalah pulau-pulau yang langsung menjulang dari permukaan laut.  Keindahannya diabadikan dalam uang pecahan Rp.1000.

Tuhan mengabulkan doa saya, pesawat memutar satu kali di atas bandara, dan saya bisa melihat hamparan pulau-pulau kecil di bawah sana, dan laut yang memisahkannya, yang disiram sinar matahari pagi yang memantulkan warna keemasan.


Ternate

Sekilas saya teringat cerita pak Yadi, dan membayangkan pulau pulau di bawah itu ratusan tahun lalu, ketika kapal-kapal perang dan dagang bangsa Portugis, Inggris, Belanda, Spanyol, mati-matian memperebutkan  monopoli atas rempah-rempah (pala dan cengkeh) di Ternate, Tidore dan sekitarnya. Dan di sela-sela tanaman pala dan cengkeh itulah, para ksatria nusantara muncul mempertahankan kedaulatan dan kerhormatan kerajaan dan pulau-pulau mereka. Di pulau inilah rakyat Ternate mengusir tentara Portugis, dan 'menyelamatkan' Nusantara dari Penjajahan selama 100 tahun.

Mengunjungi pulau pulau di Indonesia timur, adalah salah satu cara saya mengisi kembali semangat dan kecintaan saya pada tanah air, selain karena keindahannya jauh melebihi puisi karya Smoky Hoss itu, tapi juga dari sinilah tempat lahir  garis maya bernama Nusantara. Dan di Ternate lah kecintaan saya pada Indonesia makin dalam..

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu