Lupa Sandi?
/ MSN

Memindahkan seluruh populasi Malaysia

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Memindahkan seluruh populasi Malaysia
By Akhyari Hananto “Tak semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita bisa dijelaskan secara rasional, termasuk hal-hal yang akrab bagi kita.” Itulah bunyi BBM dari teman saya yang baru saja menghabiskan waktu 59 jam perjalanan dari Jakarta ke Semarang di musim lebaran. Konon, tahun lalu (2012) kemacetan akibat mudik sudah sedemikian parah sehingga waktu perjalanan bertambah begitu dramatis. Ketika saya masih bekerja di belantara Jakarta, saya sempat merasakan mudik dari yang naik bis, naik kereta api, naik pesawat, hingga menyetir sendiri. Semua moda transportasi yang saya ambil memerlukan perjuangan (dan pengorbanan) yang tidal sedikit. Tahun ini, diperkirakan ada sekitar 35 juta orang Indonesia yang eksodus pada musim lebaran, mereka yang melakukan perjalanan jauh dari satu kota ke kota lain, dan kemudian balik lagi ke kota asal. Sama sekali bukan perkara sederhana, 35 juta orang, pada waktu yang (relatif) sama, berpindah bersama-sama, dan kembali bersama-sama, sulit membayangkannya. Angka 35 juta bukanlah angka statistik semata, 35 juta adalah seluruh populasi Malaysia + Singapura + Brunei + Selandia Baru. Jalan-jalan yang sudah terbiasa penuh dengan kendaraan akan makin padat dan seakan-akan tak kuat lagi menampung begitu banyak orang, stasiun, terminal, dan bandara-bandara di Indonesia yang memang sudah overload di hari biasa, akan makin penuh sesak. Toh, dari tahun ke tahun, makin banyak orang yang mudik, meskipun perjuangan dan pengorbanan makin bertambah berat. ‘I fail to comprehend” kata seorang kawan saya orang Inggris yang pernah tinggal cukup lama di Indonesia, mengomentari fenomena mudik dan begitu antusiasnya masyarakat Indonesia untuk mudik. Sulit maenjelaskan dengan satu artikel pendek, namun bagi saya yang sudah bertahun-tahun mengalami mudik, saya sedikit banyak bisa menjelaskan kenapa saya takkan mampu melewatkan satu tahun pun tanpa mudik. Mudik, selain menjaga silaturahim dengan kerabat, sahabat, dan handai taulan di kampung halaman, kita juga akan selalau ingat asal-muasal kita. Kampung saya di Dusun Wonosalam, Sleman, Jogjakarta selalu dipenuhi pemudik saban tahun. Banyak dari kawan-kawan masa kecil saya yang bekerja dan tinggal di luar Jogja. Bagi banyak dari mereka, termasuk saya, makna terbesar dari acara mudik tersebut, selain sungkem dan menghadap orang tua (serta para sesepuh desa yang dulu ‘mengajari’ kita untuk hidup bermasyarakat), juga untuk menjalin memori yang terpendam lama di kampung saya tersebut. Memori masa kecil di kampung yang sangat membekas di hati saya, dan berkumpul dengan mereka yang mengisi memori tersebut adalah pengalaman tiada dua dan tak bisa dinilai dengan apapun. Hal inilah yang membuat saya selalu bersemangat untuk mudik, meski apapun tantangannya. Selain itu mudik juga menjadi momen penting untuk ‘unjuk diri’, menunjukkan eksestensi dan keberhasilan saya selama di perantauan kepada masyarakat tempat dia berasal, terutama kepada orang tua. Saya ingin membuktikan bahwa gemblengan mereka dulu, sudah berhasil membuat saya menjadi ‘orang’. Bukan ajang pamer, tapi justru untuk menunjukkan terima kasih dan pertanggungjawaban moral pada orang tua, dan masyarakat. h Dengan mudah, kita selalu diingatkan untuk kembali ke akar kehidupan kita yang sangat hakiki, juga mengingatkan kita akan dasar kehidupan setiap manusia, yakni keluarga, leluhur dan tanah kelahiran. Sungguh sebuah ritual yang bermakna sangat dalam, dan hal ini berakar sangat kuat di dada sebagian besar orang indonesia. Saya pernah ditanya seorang sahabat saya orang Australia, kenapa tak banyak orang Indonesia yang tinggal lama di luar negeri, tak seperti orang China, India, bangladesh, bahkan Korea atau Jepang. Setidaknya kini kita tahu salah satu jawabannya.  

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Sumenep, Mistis di Ujung Madura

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Antara Manusia, Silat, dan Sang Harimau

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Produsen Udang Terbesar Kedua di Dunia

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Ilmuwan Indonesia dan Katak Misterius dari Sulawesi

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Berjaya di Amerika

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Si Kuat yang Akhirnya Merapat

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas