by Akhyari Hananto

Belum lama ini, setidaknya, ada 2 negara di Asia yang selama dekade terakhir begitu dipuji sebagai Negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan dipercaya segera masuk jajaran negara2 dengan ekonomi menengah ke atas, namun kemudian seolah momentum itu hilang, dan pertumbuhan ekonomi melambat. Yang pertama adalah Vietnam, yang sejak akhir 90-an, telah tumbuh begitu cepat sehingga waktu itu dunia meyakini bahwa Vietnam akan segera melewati ekonomi Filipina atau Thailand, dua Negara dengan ukuran yang hamper sama dengan Vietnam namun ekonominya tumbuh lebih lambat darinya. Namun sayangnya sejak 2008, ekonomi Vietnam mulai menampakkan kelesuannya, karena hyperinflation, dan bad debt yang tidak terkendali dan nyaris tanpa solusi. Kegagahan pertumbuhan ekonomi Negara tersebut kini hanya tinggal cerita, dan Vietnam harus (untuk sementara ini) menangguhkan mimpinya melewati Thailand dan Filipina yang keduanya kini justru tumbuh lebih perkasa.

Negara yang kedua adalah sang raksasa Asia, India. Dulu India dipandang sebagai raksasa yang ringkih, besar tapi miskin. Yang selalu ada di benak saya ketika memikirkan India sebelum tahun 2000-an adalah kampung-kampung kumuh yang begitu luas, lalu lintas yang penuh sesak dan berdebu, kereta api ekonomi yang overload adalah gambaran khas India, khas negara dunia ketiga. Gambaran itu tidak salah. Namun kemudian India kemudian mampu mengkonsolidasikan ekonominya melalui keterbukaan ekonomi, sehingga akhirnya ekonomi juga tumbuh cepat pada tahun 90-an, dan sering digadang-gadang menjadi satu-satunya ekonomi yang bisa menyaingi ekonomi China di Asia. Keyakinan tersebut begitu tinggi, hingga India sendiri sering menempatkan diri sebagai ‘the frontpage of Asian century”. Namun, ekonomi India mulai menunjukkan pelemahan secara dramatis sejak 2011, karena inflasi yang tinggi dan isu-isu sosial yang membuat banyak investor kehilangan kepercayaannya pada prospek ekonomi India dan mengalihkan investasinya ke Negara-negara lain. India pun harus rela ekonominya makin ditinggal oleh tetangga raksasanya, China.

Yang justru jarang kita dengar tentang negara yang dulu begitu berjaya, namun kini ‘biasa-biasa saja’, adalah satu negeri di Amerika Latin yang dulu dikenal dengan negeri Perak, yakni Argentina. Meski kejayaan Argentina jauuh sebelum Vietnam dan India yang saya sampaikan di atas, namun Argentina memberi pelajaran yang jauh lebih luas dan lengkap untuk menjadi bisa menjadi bahan referensi bagi kita, betapa pentingnya menjaga momentum kebangkitan.

Seabad yang lalu, Argentina adalah salah satu negeri paling makmur di dunia. Dalam Historic Incomes Database dari Angus Maddison, pada dekade pertama tahun 1900an, pendapatan perkapita orang Argentina 50% lebih tinggi dibandingkan Italia, 180% lebih tinggi dari Jepang, bahkan 500% persen lebih tinggi dari tetangga dekatnya, Brazil. Saat itu, hanya ada 7 negara di dunia yang lebih makmur dibandingkan Argentina, yakni Belgia, Swiss, Inggris, AS, Australia, Selandia Baru, dan Kanada. Argentina bahkan ada di atas Jerman atau Prancis. Bayangkan saja, tahun 1848, Argentina sudah memiliki bursa saham yang cukup aktif, bernama Sociedad El Camoati, sebuah gambaran ekonomi yang modern dengan sektor swasta yang kuat. Argentina waktu juga menjadi salah satu pengekspor terbesar bahan-bahan makanan yang dihasilkan dari tanahnya yang terkenal sangat subur.

Intinya, jaman itu Argentina adalah Negara makmur, dengan tingkat penghasilan masyarakat yang tinggi, kualitas hidup yang baik, kota-kota yang terbangun rapi, dan tingkatpendidikan  yang tinggi. Kalau kita ke Buenos Aires, atau Cordoba, kita akan melihat suasana mirip kota2 di Eropa, dengan gedung-gedung tua yang bercampur dengan gedung-gedung modern ,trotoar yang rapi, dan jajaran pertokoan yang tertata dengan baik. Agak berbeda dengan kota-kota besar lain di negara2 lain di Amerika Latin.

Namun kisah manis tersebut tak berlangsung lama. Dunia tak lagi mengenal Argentina sebagai sebuah negara yang kaya dengan perkapita tinggi, dunia justru melihat Argentina sebagai sebuah contoh yang (kata seorang teman saya orang Amerika) kurang baik dalam membangun ekonomi sebuah negara. Dalam sebuah artikel, majalah Economist pernah menulis “Argentina’s collapse : A decline without parallel”.  Meski bukan masuk golongan negara miskin, tapi kini, pendapatan perkapita rakyat Argentina jauh dibawah negara-negara yang dulu pernah dibawahnya,  seperti Jepang, Korsel, Jerman, Prancis, dan banyak negara lain. Ekonomi Argentina adalah salah satu yang paling sering dipelajari, para ekonom di kampus-kampus menyebutnya sebagai “The Argentina Paradox”, dan sudah terbit ratusan buku dan ribuan analisa tentang kemunduran ekonomi Argentina tersebut.

Pada tahun 1990an, ekonomi Argentina mencoba kembali untuk bangkit, dan seolah akan membawa kembali kejayaan di masa lalu mereka. Namun ternyata, hal itu pun terjadi tidak ama, dan Argentina kembali menukik ke bawah. Puncak keterpurukan ekonomi Argentina terjadi pada tahun 1999-2002 yang menjadi sejarah ekonomi Argentina paling kelam yang meruntuhkan berbagai sektor lain, termasuk sosial dan politik.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Yang paling berperan dalam menurunnya ekonomi Argentina adalah karena ketidakstabilan politik yang disebabkan karena kudeta junta militer pada tahun 1930-an, setelah hampir 70 tahun diperintah oleh pemerintahan sipil. Kegoncangan politik ini kemudian diikuti dengan kebijakan politik dan ekonomi menjadi awal dari menurunnya kemakmuran Argentina. Belum lagi, dunia juga dilanda kegoncangan politilk dan ekonomi karena akibat 3 kejadian sekaligus yang saling berkaitan, yakni Perang Dunia I (1914-1918), Great Depresion (1929-1931), dan tentu saja Perang Dunia II (1939-1945). Ketiganya sangat berpengaruh pada daya beli masyarakat dunia sehingga praktis mempengaruhi penghasilan terbesar Argentina, yakni dari sektor perdagangan (ekspor-impor).

Pemerintahan Junta militer kemudian mengambil langkah populis, yakni memberlakukan strategi yang disebut import substitution, yakni menghentikan impor dari luar negeri, dengan memproduksi sendiri produk-produk yang selama ini diimpor, sebagian besar adalah produk yang menggunakan teknologi permesinan.  Argentina yang selama ini (hingga tahun 1930-an awal) sangat ahli dan berkuasa di bidang agrikultur, kini dipaksa berubah secara cepat menjadi negara industri. Para pekerja di pabrik-pabrik industri tersebut, digaji tinggi dan diberi bonus dari pemerintah dengan cara mencetak uang baru.

Setidaknya adalah 3 hal yang kemudian menjadikan argentina makin terpuruk, yakni karena kebijakan mencetak uang baru secara besar-besaran dan terus menerus, membuat inflasi yang berkepanjangan, sehingga pendapatan riil masyarakat lambat laun terkikis. Karena sektor industri begitu dikedepankan, dengan menawarkan gaji pekerja yang tinggi, banyak masyarakat yang kemudian meninggalkan sektor agrikulture dan beralih ke sektor industri. Produksi hasil bumi turun sangat drastis, ekspor turun drastis, dan kelangkaan bahan pangan juga mulai berdampak langsung pada ekonomi dalam negeri. Ketidakstabilan ini kemudian memunculkan banyak gejolak di masyarakat, dan mengalihkan fokus pemerintah ke bidang-bidang strategis yang berdampak jangka panjang seperti pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Hal ini diperparah dengan minimnya partisipasi masyarakat (karena dihambat oleh sistem junta) dalam menilai dan memonitor kinerja pemerintah.  Kebijakan ini berlangsung dari tahun 1930an-hingga 1970an dengan banyak kegagalan.

Ketika kebijakan tersebut berakhir pada 1976,  Argentina masih saja dihadapkan pada kesulitan ekonomi yang lebih parah, dimana pengeluaran pemerintah begitu besar terutama untuk membiayai operasional pemerintahan (termasuk gaji pegawai), juga kenaikan upah yang besar karena inflasi juga tinggi dan harga-harga naik,  sementara industri juga sangat tidak efisien sehingga justru makin menambah inflasi. Tahun 1976, adalah awal mulai kolaps-nya ekonomi Argentina karena pengeluaran besar di atas dibiayai dengan hutang besar-besaran. Dari tahun 1976 hingga 1989, pendapatan riil masyarakat turun lebih dari 1% setiap tahun karena hyper inflasi. Beberapa bank tutup, kepercayaan masyarakat pada mata uang (peso) turun drastis, kepercayaan masyarakat pada kebijakan ekonomi pemerintah juga pada titik nadir. Inilah titik dimana terjadi capital flight besar-besaran dari Argentina ke negara lain. Akhir tahun 80-an, hutang Argentina mencapai lebih dari ¾ GNP-nya.

Argentina mulai menganut sistem yang liberal pada tahun 1991 ketika Presiden Carlos Menem memimpin pemerintahan, dengan cara memprivatisasi beberapa BUMN, mengurangi subsidi, dan menggunakan hasil penjualan BUMN untuk membayar hutang. Akan tetapi resesi pada 1998 di Asia merembet juga ke Amerika Latin. Diawali dengan bumbu krisuh politik yang parah, program liberalisasi ekonomi Argentina terbukti tidak berhasil mengangkat Argentina dari jurang resesi, namun justru membuatnya tambah terpuruk dengan kesenjangan pendapatan yang sangat tinggi. Dan Argentina yang sudah menderita dengan tumpukan hutang luar negeri, akhirnya terjungkal kembali karena berbagai faktor, utamanya karena krisis di Amerika Latin, termasuk yang melanda mitra dagang utama Argentina, yakni Brazil. Ekonominya menjadi tidak tumbuh, dan kelihatannya tidak ada prospek untuk tumbuh dalam waktu dekat. Akhirnya pada investor (kreditor dalam bentuk obligasi) menyadari bahwa Argentina takkan mampu lagi membayar hutang yang jumlahnya mencapai $132 milyar. Hal itu diumumkan resmi oleh presiden pengganti Carlos Menem, Presiden Rodriguez Saá yang menyatakan bahwa Argentina default (tidak sanggup membayar utang) atas utang luar negeri. Ini merupakan pernyataan default terbesar yang tercatat dalam sejarah.

Argentina, negara yang akrab dengan kisruh politik, yang dulu kaya raya, lagi-lagi terjungkal karena rapuhnya fondasi ekonomi. Negara penghasil pemain-pemain ajaib di sepakbola tersebut baru benar-benar terlepas dari resesi pada 2004, dengan meninggalkan banyak luka dan pelajaran sejarah. Indonesia, sebaiknya mengambil baik-baik pengalaman buruk Argentina. Setidaknya, menurut saya, ada 7 hal yang perlu dicermati dari kisah tentang ekonomi Argentina, yakni;

  1. Kegaduhan politik akhirnya membawa ketidakstabilan ekonomi karena mengalihkan fokus pemerintah dan masyarakat dari pembangunan; juga memicu hilangnya kepercayaan masyarakat pada pemimpin.
  2. Kebijakan nasionalistik yang secara frontal melawan globalisasi yang membuat negara-negara lain ‘menghindari’ Argentina dalam melakukan transaksi perdagangan,
  3. Hutang yang terus menumpuk untuk membiayai pengeluaran pemerintah,
  4. Kebijakan yang terlalu liberal (era Carlos Menem) yang terbukti membawa kesenjangan ekonomi, sehingga memicu gejolak sosial.
  5. Daya saing produk-produk Argentina yang relative rendah ketidakefisienan ekonominya. Daya saing produk yang rendah hanya bisa diterima di pasar global kalau harganya sangat rendah. Sayangnya, produk-produk Argentina tidak bisa dibuat murah, karena mata uangnya tidak terdevaluasi.

Argentina sudah lama sekali kehilangan momentum mempertahankan posisinya sebagai sebuah negara yang makmur. Berbagai kesempatan untuk bangkit selalu direcoki pertikaian politik dan kebijakan ekonomi yang tidak prudent (hati-hati). Indonesia, pernah mendapatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yakni pada 80-an dan awal 90-an, sebelum terpuruk pada 1998.  Kini, kita sedang mencoba bangkit, meski tidak sangat cepat seperti China, tapi Indonesia makin hati-hati dalam mengambil kebijakan, bahkan kadang terkesan sangat hati-hati. Agar kita tidak seperti Argentina, maka kita harus menghindari salah langkah yang diambil negara tersebut. Setidaknya, mari mulai dengan menjauhkan diri dari hiruk pikuk politik.

 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu